tirto.id - Bunyi peluit panjang memecah sore di Stadion Siliwangi. Seketika, para pemain bola berusia 10 sampai 12 tahun itu bereuforia di lapangan, saling berpelukan dan berteriak merayakan kemenangan yang mereka tunggu sejak peluit pertama berbunyi. Dan Bandung, menjadi saksi turnamen nasional sepak bola inklusif tingkat nasional, Soccer for Equality ini.
“Pertandingannya cukup capek. Dari tiga bulan latihan untuk bisa membawa hasil juara satu. Laga final tadi cukup seru, sengit juga,” kenang Kapten Tajimalela, Albi kepada tirto, seusai laga, Minggu (19/7/2026).
Ia bersama rekan setimnya berhasil menyabet gelar juara kategori U-12 Putra, usai mengalahkan tim Forgsi Jabar. Tim asal Bekasi ini mengunci kemenangan juara dengan skor akhir 1-0. Namun, Albi tak mawas diri. Timnya masih banyak memiliki celah.
“[Laga final] kurang mendominasi. Ke depannya bakal memperbaiki [teknis] finishing. finishing-nya soalnya kurang melayang terus,” ucapnya.
Seluruh laga yang dilakoni Tajimalela seolah membawa pesan. Pemain berusia 12 tahun itu mengharapkan dengan kemenangan mereka, terdapat rasa semangat yang bisa ditularkan kepada anak-anak muda lain. Terlebih, bagi mereka yang belum diberi kesempatan bertanding di Soccer for Equality.

“Tetap semangat dan berjuang terus untuk menggapai cita-citanya,” ujar pemain yang menyukai olahraga sepak bola sejak 4 tahun tersebut.
Hal serupa dirasakan Naquita. Pemain Akademi Persib ini tak bisa menyembunyikan rasa bungahnya saat bercerita perihal hasil pertandingan final kategori U-12 Putri. Timnya lolos sebagai juara seusai mengalahkan LH Bulog Jatim asal Surabaya.
“Senang banget di kompetisi ini, dapat teman-teman juga dari kota-kota lain. Terus aku dan tim bisa berjuang sampai juara,” ucap perempuan berusia 10 tahun itu.
Anak perempuan asal Lembang itu tak menampik laga final merupakan pertandingan paling menantang. Meski ia dan rekan setimnya sempat kewalahan, mereka mampu menaklukkan lawan.
Menurutnya gelar juara yang diraih Akademi Persib kali ini tidak terlepas dari hal persiapan. Ia bercerita disiplin sepanjang latihan hingga pertandingan, membawa tim mereka merengkuh gelar juara.
“Gak boleh bercanda. Pokoknya setiap udah masuk lapang gak boleh bercanda. Kalau di luar lapang baru boleh bercanda. Dalam lapang udah gak ada ketawa-ketawa lagi,” tegas pemain yang mengidolakan Lamine Yamal itu.
Setidaknya ada 173 tim dengan 32 di antaranya tim sepak bola perempuan yang berlaga sepanjang Mei-Juli 2026. Turnamen ini berlangsung di lima kota. Mulai dari Jabodetabek, Malang, Balikpapan, Makassar, dan Bandung sebagai kota penutup sekaligus simbol perjuangan kesetaraan gender melalui olahraga.
Selain menjadikan panggung kompetisi sepak bola yang inklusif kesetaraan gender, Plan Indonesia bersama SalingJaga juga membangun gerakan solidaritas nasional untuk mendukung akses pendidikan dan kesempatan setara bagi anak-anak, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berdasarkan temuan mereka, melansir Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata lama sekolah di NTT pada 2024 baru mencapai sekitar 8,38 tahun, masih tertinggal dari rata-rata nasional sebesar 9,22 tahun. Kondisi ini diperparah tingginya angka perkawinan anak dan diskriminasi berbasis gender yang terus menjadi penghalang besar anak perempuan meraih masa depan.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti menilai, sepak bola adalah ruang yang setara. Di lapangan, tak ada batasan untuk bermimpi atau menunjukkan kemampuan. Melalui Soccer for Equality, pihaknya hendak memastikan lebih banyak anak perempuan memiliki kesempatan berpartisipasi dalam olahraga.
“Kebetulan kami memang ada program Girls Football. Tujuannya ini bukan cuma sekedar turnamen atau hanya main-main bola, tapi belajar tentang kepemimpinan, belajar tentang solidaritas, dan juga ada konten-konten lain,” ucapnya saat konferensi pers di Stadion Siliwangi, Kota Bandung, Minggu.

Ia menambahkan, sejumlah kegiatan juga berlangsung di NTT. Mereka menyampaikan perihal kesehatan reproduksi hingga isu anti-bullying kepada anak-anak perempuan. Termasuk mengampanyekan kesetaraan gender perempuan untuk bisa mengakses kegiatan olahraga, salah satunya sepak bola.
Selain itu, para pemain yang mengikuti turnamen Soccer for Equality juga diberikan edukasi pula berkenaan kondisi anak-anak NTT. Di samping keterbatasan akses bermain sepak bola, mereka pun terbatas dengan akses pendidikan. Lantas ia mengharapkan, para peserta dapat turut merasakan dan bersolidaritas terhadap kondisi di Indonesia Timur.
“Paling tidak anak-anak yang bermain di sini bisa lebih paham, bisa lebih aware tentang itu. Dan membangun solidaritas bahwa apa yang mereka lakukan di sini dengan bermain bola, juga ada menggalang donasi itu untuk akses pendidikan yang lebih baik,” ucapnya.
“Kami utamanya adalah bagaimana membangun solidaritas ke dunia. Solidaritas dan juga isunya supaya naik bahwa memang masih banyak keterbatasan. Termasuk sepak bola yang selama ini identik dengan laki-laki. Kami ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berani memimpin, dan yakin bahwa mereka mampu meraih cita- citanya," tegas Dini.
Sebagai informasi, melalui inisiatif sport charity, turnamen ini sekaligus menjadi wadah penggalangan dana publik untuk bergerak bersama memberikan kontribusi mendukung pemenuhan hak hak anak terutama hak pendidikan anak-anak di NTT.
VP Crowdfunding Kitabisa sekaligus perwakilan dari SalingJaga dan Beyond The Game, Marsudi Wijaya, percaya perubahan besar dimulai dari aksi bersama. Dengan semangat gotong royong lewat sepak bola, mereka ingin mengajak masyarakat terlibat aktif dalam perjuangan mewujudkan kesetaraan.

“Kolaborasi bersama Plan Indonesia memadukan esensi perlindungan, kesehatan dan solidaritas sosial demi memberikan kesempatan yang adil bagi anak-anak perempuan di NTT untuk meraih hak pendidikan mereka,” ujarnya.
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































