tirto.id - Harga minyak turun pada awal perdagangan Jumat (10/7/2026), tetapi masih berada di jalur kenaikan secara mingguan, seiring Amerika Serikat (AS) dan Iran terus saling melancarkan serangan. Di sisi lain, kekhawatiran bahwa inflasi yang semakin cepat dapat menekan permintaan minyak hingga membebani sentimen pasar dan memberi tekanan terhadap harga minyak.
Kontrak berjangka minyak Brent turun 6 sen atau 0,08 persen, menjadi 76,24 dolar AS per barel pada pukul 01.25 waktu setempat. Sementara, kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) melemah 4 sen atau 0,06 persen, ke 72,04 dolar AS per barel.
Meski pada hari ini mengalami penurunan, secara mingguan harga minyak Brent diperkirakan mencatat kenaikan sekitar 6 persen, sedangkan WTI berada di jalur untuk menguat sekitar 5 persen.
Sementara itu, sebelumnya pasukan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di sejumlah negara Teluk pada Kamis (9/7/2026), sebagai balasan atas serangan AS ke sejumlah provinsi di pesisir selatan dan wilayah timur Iran. Aksi saling serang tersebut semakin memperburuk gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga pekan.
Secara terpisah, media Iran melaporkan terjadi sejumlah ledakan di berbagai wilayah selatan negara itu, termasuk di Bushehr, lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir milik Iran.
Pertempuran kembali memanas bertepatan dengan prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menjadi puncak rangkaian prosesi berkabung dan unjuk rasa massal selama sepekan. Khamenei tewas pada hari pertama perang yang pecah pada 28 Februari.
Konflik tersebut menunda pembukaan kembali secara penuh Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelum perang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia setiap hari.
"Meski Amerika Serikat meningkatkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer di Iran, pasar memperoleh sedikit ketenangan dari keputusan pemerintahan Trump yang tidak menargetkan infrastruktur energi Iran," kata Analis Strategi Komoditas Senior di ANZ Bank, Daniel Hynes dikutip Reuters.
"Sentimen itu juga didukung oleh pernyataan Presiden Trump yang mengatakan bahwa ia tidak memperkirakan konflik akan kembali meningkat menjadi perang berskala penuh," imbuhnya.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Rabu (8/7/2026) menyatakan bahwa ia tidak meyakini perang akan kembali pecah. Menurutnya, "apa pun yang terjadi akan berakhir dengan sangat cepat."
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id




































