Menuju konten utama

TINS Cetak Laba Rp2,71 Triliun di Semester I 2026, Meroket 804%

TINS cetak laba bersih Rp2,71 triliun pada Semester I-2026, melonjak 804 persen dan melampaui target tahunan berkat lonjakan penjualan.

TINS Cetak Laba Rp2,71 Triliun di Semester I 2026, Meroket 804%
Produk PT Timah Tbk. Doc: timah.com
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Timah (Persero) Tbk (TINS) mencatat lonjakan laba bersih sebesar 804 persen pada semester I-2026 menjadi Rp2,71 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp300 miliar. Capaian ini bahkan melampaui target laba bersih tahunan Perseroan sebesar Rp1,61 triliun atau setara 169 persen dari proyeksi.

Pendapatan Perseroan pada enam bulan pertama 2026 tercatat Rp10,42 triliun, meroket 247 persen dibandingkan Semester I-2025 sebesar Rp4,22 triliun. Lonjakan ini didorong oleh peningkatan volume penjualan yang mencapai 10.984 metrik ton, naik 85 persen dari periode sama tahun sebelumnya, serta harga jual rata-rata logam timah yang menguat signifikan.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba usaha TINS melesat menjadi Rp3,48 triliun dari sebelumnya Rp0,38 triliun. EBITDA juga tercatat Rp3,90 triliun, meningkat 363 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp0,84 triliun.

“Kinerja Perseroan pada Semester I-2026 menunjukkan bahwa strategi transformasi operasional dan bisnis yang dijalankan Perseroan mampu menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas di tengah dinamika industri global,” kata Direktur Utama PT TIMAH Restu Widiyantoro dalam keterangannya, Kamis (30/7/2026).

Restu memandang peningkatan produktivitas, disiplin dalam pengelolaan biaya, serta optimalisasi operasi menjadi faktor utama yang mendorong pencapaian tersebut.

Dari sisi profitabilitas, marjin operasi TINS mencapai 33,24 persen, lebih tinggi dari periode sebelumnya yang sebesar 9,01 persen. EBITDA naik 37,39 persen dan marjin laba bersih turut tumbuh 26,05 persen.

Sedangkan Return on Assets (ROA) tercatat masih positif di 16,50 persen dan Return on Equity (ROE) tumbuh 25,74 persen mencerminkan optimalisasi aset dan modal yang efektif dalam menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.

Posisi keuangan Perseroan juga kokoh dengan total aset Rp16,45 triliun atau naik 2 persen dari akhir 2025, liabilitas tercatat sebesar Rp5,90 triliun, dan ekuitas sebesar Rp10,55 triliun atau naik 25 persen dari Rp8,41 triliun di periode sebelumnya.

Kinerja Operasional dan Kondisi Pasar

Adapun, produksi bijih timah semester I-2026 mencapai 12.232 ton Sn, meningkat 75 persen dibandingkan 6.997 ton Sn pada periode sama tahun sebelumnya, berkat optimalisasi produktivitas dan penambahan unit operasi meliputi Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), serta tambang darat kemitraan.

Produksi logam timah tercatat 10.865 metrik ton Sn, naik 58 persen dari 6.870 metrik ton Sn. Penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, meningkat 85 persen dibandingkan 5.933 metrik ton pada semester I-2025.

Sementara harga rata-rata logam timah Cash Settlement Price di London Metal Exchange (LME) selama semester I-2026 tercatat 50.319,19 dolar AS per metrik ton, melonjak 56,68 persen dibandingkan 32.115,77 dolar AS pada periode sama tahun sebelumnya.

Menurut Perseroan, pasar timah global masih dalam kondisi defisit pasokan dengan produksi global 173.536 ton dan konsumsi 179.256 ton. Permintaan tetap didominasi sektor solder untuk industri semikonduktor dan elektronik, seiring transformasi digital dan transisi energi yang mendorong investasi AI, pusat data, kendaraan listrik, dan infrastruktur kelistrikan.

“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar timah global masih berada dalam kondisi defisit pasokan (supply deficit), yang diperkirakan menjadi faktor penopang prospek industri timah pada Semester II 2026,” kata Restu.

Karenanya, ekspor masih mendominasi penjualan TINS sebesar 97 persen, dengan enam tujuan utama: China (36%), India (12%), Korea Selatan (11%), Singapura (6%), Belanda (5%), dan Italia (5%).

Perseroan optimistis mempertahankan momentum positif pada semester II-2026 didukung prospek industri timah yang solid. Saat ini, sumber daya timah tercatat 798 ribu ton dan cadangan 312 ribu ton yang akan menjadi fondasi keberlanjutan operasional.

"Ke depan, perseroan akan terus memperkuat fundamental usaha melalui kegiatan eksplorasi yang berkelanjutan, penguatan tata kelola pertambangan, serta peningkatan efisiensi operasional guna memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham serta seluruh pemangku kepentingan," ucap Restu.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana