tirto.id - PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) membukukan laba sebelum pajak (profit before tax/PBT) sebesar Rp234 miliar atau tumbuh 669 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Semester I 2026. Tak hanya itu, aset perusahaan juga meningkat hingga 82,5 persen yoy menjadi Rp27,0 triliun.
Presiden Direktur Superbank, Tigor M Siahaan, mengatakan pencapaian tersebut mencerminkan keberhasilan strategi pertumbuhan berbasis ekosistem yang dijalankan perseroan, di mana perluasan basis nasabah yang mencapai 7 juta juga diikuti oleh peningkatan profitabilitas, efisiensi operasional, serta kualitas aset yang semakin kuat.
"Strategi berbasis ekosistem yang kami bangun bersama para pemegang saham kini semakin terlihat hasilnya, tidak hanya dari pertumbuhan jumlah nasabah, tetapi juga dari meningkatnya profitabilitas, efisiensi, dan kualitas aset," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/7/2026).
Selain mencatat pertumbuhan yang kuat secara tahunan, Superbank juga mempertahankan momentum pertumbuhan secara kuartalan (quarter on quarter/qoq). Pada kuartal II 2026, Perseroan membukukan Laba Sebelum Pajak sebesar Rp134 miliar, meningkat 33,5 persen dibandingkan kuartal I 2026 sebesar Rp100 miliar. Sementar itu, total aset juga tumbuh 12,8 persen dibandingkan posisi akhir Maret 2026.
Hemat Tigor, pertumbuhan berbasis ekosistem menjadi faktor pendorong skala bisnis dan profitabilitas perusahaan. Hingga Juni 2026, lebih dari 60 persen nasabah Superbank merupakan pengguna Grab dan OVO, mencerminkan semakin kuatnya integrasi layanan keuangan ke dalam aktivitas digital masyarakat sehari-hari.
Strategi tersebut mendorong penyaluran kredit menjadi Rp13,4 triliun, tumbuh 61,0 persen secara tahunan dan 17,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan kredit tersebut juga didukung oleh semakin luasnya integrasi produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS) ke dalam ekosistem Grab dan OVO, sehingga masyarakat dapat mengakses pembiayaan secara lebih mudah, cepat, dan fleksibel langsung melalui aplikasi yang mereka gunakan setiap hari.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp15,9 triliun, meningkat 89,1 persen yoy dan 10,3 persen qoq. Pertumbuhan DPK yang tetap lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit tersebut, lanjut Tigor, memperkuat profil likuiditas Perseroan sekaligus memberikan ruang yang sehat untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Tak hanya itu, pertumbuhan bisnis tersebut turut diterjemahkan menjadi profitabilitas yang semakin solid. Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) meningkat 51,7 persen YoY menjadi Rp1,01 triliun, dengan Net Interest Margin (NIM) tetap terjaga pada level 8,7 persen.
Di saat yang sama, efisiensi operasional meningkat signifikan, tercermin dari Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik menjadi 54,8 persen dari 74,6 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, Pre-Tax Return on Equity (ROE) meningkat menjadi 5,7 persen, dibandingkan 1,2 persen pada Semester I 2025.
Superbank juga tetap menjaga kualitas aset dan disiplin manajemen risiko, dengan posisi rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross membaik menjadi 1,6 persen, dibandingkan 2,7 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, struktur permodalan Perseroan tetap sangat kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 74,5 persen, memberikan fondasi yang kokoh untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Memasuki paruh kedua tahun 2026, tutur Tigor, Superbank akan terus memperluas integrasi layanan keuangan di dalam ekosistem, menghadirkan inovasi yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta menjaga pertumbuhan yang sehat melalui penerapan tata kelola perusahaan dan manajemen risiko yang prudent.
"Dengan fundamental yang semakin kuat, basis nasabah yang terus bertambah, serta kolaborasi yang semakin erat bersama ekosistem Grab, OVO, Emtek, GXS Bank, dan KakaoBank, Superbank optimis dapat terus memperluas inklusi keuangan sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































