Menuju konten utama

Selat Hormuz Kembali Ditutup, AS Tuntut Iran Setop Serang Kapal

AS desak Iran buka Selat Hormuz tanpa serangan dan pungutan. Teheran menolak, sementara negosiasi berlanjut di tengah tuntutan soal uranium.

Selat Hormuz Kembali Ditutup, AS Tuntut Iran Setop Serang Kapal
Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, 20 April 2026.. REUTERS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Amerika Serikat (AS) menuntut Iran untuk secara terbuka menyatakan akan menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. AS juga meminta seluruh jalur di selat tersebut akan terbuka bagi pelayaran tanpa pungutan apa pun.

Iran dengan tegas menolak melepaskan kendali atas selat tersebut. Para pejabat AS mengatakan pembicaraan antara kedua negara memang berlangsung produktif dalam beberapa hari terakhir.

"Yang kami tuntut adalah agar pihak Iran mengeluarkan pernyataan publik yang mengakui bahwa semua jalur di Selat Hormuz terbuka dan mereka tidak lagi menembaki kapal-kapal. Mereka akan memberikan pernyataan itu kepada kami atau hasilnya tidak akan baik bagi mereka," kata salah satu pejabat, dikutip dari Reuters, Minggu (12/7/2026).

Iran telah memberi tahu Washington bahwa serangan-serangan terbaru terhadap pelayaran di selat tersebut dilakukan oleh bagian yang bertindak menyimpang dari sistem mereka, kata seorang pejabat senior.

Seorang pejabat mengatakan, tampaknya sedang terjadi perebutan kekuasaan secara langsung antara kelompok garis keras di Iran dan kelompok pragmatis.

Tiga kapal tanker komersial Qatar dan Arab Saudi ditembaki pekan ini, yang mendorong AS menyerang sejumlah lokasi di Iran. Di satu sisi, Iran membalas dengan serangan terhadap lokasi-lokasi militer AS di negara-negara Teluk.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata yang ditandatangani kedua pihak pada Juni 2026 telah berakhir.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi akan melakukan perjalanan ke Oman untuk membahas hubungan bilateral dan perkembangan kawasan, khususnya situasi di Selat Hormuz, demikian dilaporkan kantor berita resmi Iran.

"Kami berharap bisa mencapai titik di mana mereka secara terbuka mengatakan akan berhenti menembaki kapal-kapal dan secara eksplisit atau setidaknya secara implisit mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Kami sedang mengupayakan hal itu sekarang," kata salah satu pejabat.

"Presiden telah mengarahkan kami untuk berbicara, tetapi seperti yang telah ia tunjukkan, jika mereka terus menembaki kapal-kapal atau melakukan tindakan permusuhan lainnya, maka kami akan membalas menyerang mereka," lanjut pejabat tersebut.

Tuntutan mendasar dari pihak AS adalah agar Iran menyerahkan seluruh material nuklirnya. Teheran diyakini memiliki lebih dari 900 pon uranium dengan tingkat pengayaan tinggi, yang oleh Trump dan pejabat AS lainnya disebut sebagai debu nuklir.

Persoalan nuklir seharusnya diselesaikan dalam masa negosiasi selama 60 hari berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara pada Juni 2026.

"Saya hanya ingin menegaskan bahwa jika kami tidak mendapatkan debu itu, maka kami tidak memiliki kesepakatan dengan Iran," kata salah satu pejabat.

Baca juga artikel terkait PERANG IRAN atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana