Menuju konten utama

Perang Iran vs Amerika: Target Serangan AS Terbaru & Sanksinya

Amerika serang Iran hari ini sebagai aksi balasan. Setidaknya 80 objek menjadi target AS serang Iran hingga perang kembali meluas.

Perang Iran vs Amerika: Target Serangan AS Terbaru & Sanksinya
Ilustrasi Perang Iran. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Amerika Serikat (AS) kembali melakukan serangan meluas ke Iran pada Rabu (8/7/2026) dini hari waktu Indonesia bagian barat. Hal ini menjadi update terbaru dalam Perang Iran sejauh ini, seiring pencabutan izin penjualan minyak Teheran.

Melansir BBC, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut serangan tersebut telah menghantam lebih dari 80 sasaran di sekitar Selat Hormuz. Target serangan disebut CENTCOM termasuk 60 kapal kecil milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), serta lokasi peluncuran rudal dan pusat komando Iran.

CENTCOM tak merilis lokasi target serangan. Media pemerintah Iran melaporkan serangan telah menghantam Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan Sirik. Pecahan peluru dilaporkan telah melukai orang-orang di sana.

IRGC kemudian menyatakan mereka telah merespons dengan serangan balasan ke sejumlah situs militer AS di kawasan Teluk. Dalam keterangan IRGC, situs militer yang diserang berada di Bahrain dan Kuwait.

IRGC menyatakan mereka telah meluncurkan rudal dan drone ke “85 fasilitas utama militer AS” di dua negara tersebut. Markas besar Angkatan Laut AS dan pangkalan udara di Kuwait disebut turut jadi target. AP melaporkan markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain membunyikan sirene peringatan rudal pada Rabu.

Serangan baru pada Rabu juga ditanggapi komando pusat militer Iran. Mereka menyebut “akan menanggapi agresi dan tindakan teroris ini dengan tegas”.

“Dalam keadaan apapun [angkatan bersenjata Iran] tidak akan mengizinkan campur tangan dalam urusan Selat Hormuz, dan mereka juga tidak akan mengizinkan pihak lain untuk mengelolanya,” bunyi pernyataan komando militer Iran.

CENTCOM menyebut serangan pada Rabu dini hari itu dilakukan sebagai respons atas penyerangan tiga kapal tanker komersial pada Selasa (7/7). AS menuduh Iran telah “menargetkan dan menyerang kapal komersial yang diawaki oleh orang-orang yang tidak bersalah di jalur perairan internasional”.

Sebelumnya, pada Selasa, tiga kapal tanker memang telah diserang di sekitar Selat Hormuz. Iran sejauh ini belum merilis pernyataan resmi yang secara langsung mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya (UKMTO) sebelumnya menerima laporan tentang serangan tiga kapal tanker tersebut. Insiden ini terjadi secara terpisah pada Senin (6/7) dan Selasa.

Pada Senin, sebuah kapal melaporkan telah terkena proyektil tak dikenal yang menghantam ruang mesin mereka. Akibat serangan itu, kapal mengalami kebakaran.

Kemudian, pada Selasa, sebuah kapal tanker lain melaporkan terkena serangan saat keluar dari Hormuz, meski mampu mencapai pelabuhan berikutnya. Satu kapal lainnya juga melaporkan pada Selasa bahwa mereka telah mengalami kerusakan struktural ringan karena serangan.

Televisi pemerintah Iran menyebut kapal tanker itu diserang setelah mengabaikan peringatan. Namun, laporan ini tidak mengeklaim bahwa serangan berasal dari Iran.

Sebelum insiden terjadi, Iran dan Amerika telah bersepakat untuk membuka sebagian jalur pelayaran Selat Hormuz tanpa biaya selama 60 hari. Iran kemudian bersikeras bahwa mereka harus mengontrol rute kapal di sana dan kemudian mengenakan biaya untuk melewatinya.

Bagaimana akhirnya regulasi pelayaran di Selat Hormuz akan terbentuk merupakan salah satu isu yang sejatinya akan dinegosiasikan antara AS dan Iran dalam perundingan di kemudian hari. Proses negosiasi pengakhiran perang dijadwalkan kembali terjadi setelah Iran merampungkan proses pemakaman Ali Khamenei.

AS Cabut Izin Penjualan Minyak Iran

Selain melakukan serangan, AS juga telah mencabut izin penjualan minyak Iran yang tadinya jadi bagian dari kesepakatan perdamaian sementara. Izin ini sebelumnya memungkinkan Teheran untuk kali pertama sejak beberapa tahun terakhir melakukan penjualan minyak secara internasional dengan kurs dolar AS.

Namun, izin itu kini dicabut seiring dengan insiden yang terjadi di Selat Hormuz awal pekan ini. Seorang pejabat AS menyatakan bahwa Iran bertanggung jawab atas serangan kapal tanker di Selat Hormuz dan pencabutan izin adalah bagian dari konsekuensinya.

Seiring pencabutan izin, puluhan juta barel minyak Iran kini dilaporkan terkatung-katung di kapal-kapal tanker mereka. Seturut Iran International, ada sekitar 63 juta barel minyak milik Iran yang kini terombang-ambing di perairan.

Jutaan barel minyak Iran itu disebut berada di perairan Teluk Persia dan seluruh perairan Asia. Banyak kapal tanker pembawa minyak tidak menunjukkan tujuan yang jelas atau memberi sinyal bahwa minyak yang mereka bawa telah dipesan.

Sementara itu, meskipun ketegangan di Selat Hormuz kembali terjadi sejak awal pekan ini, beberapa kapal tampak melewati Selat Hormuz pada Rabu pagi. Namun, hal itu tak menyurutkan kekhawatiran pemilik kapal tentang risiko operasional di jalur tersebut.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar