Menuju konten utama

AS Kembali Serang Iran, Harga Minyak Dunia Naik Hampir 2%

Serangan udara tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal niaga yang tengah melintasi Selat Hormuz.

AS Kembali Serang Iran, Harga Minyak Dunia Naik Hampir 2%
Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, 20 April 2026.. REUTERS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak mentah dunia naik hampir 2 persen pada perdagangan Rabu (8/7/2026), setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap Iran dan kembali menjatuhkan sanksi atas penjualan minyak mentah negara itu. Langkah tersebut memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang masih rapuh mulai runtuh dan berpotensi kembali mengganggu pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command) pada Selasa (7/7/2026), menyatakan serangan udara tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal niaga yang tengah melintasi Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute strategis bagi pengiriman minyak dari Timur Tengah ke pasar global.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 1,38 dolar AS atau 1,9 persen, menjadi 75,54 dolar AS per barel. Sedangkan, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), menguat 1,37 dolar AS atau 1,9 persen ke level 71,81 dolar AS per barel pada pukul 01.28 waktu setempat.

Kedua kontrak acuan tersebut telah melonjak sekitar 3 persen pada Selasa, setelah Amerika Serikat mencabut lisensi umum yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak mentah Iran. Keputusan itu diambil menyusul serangan Iran terhadap tiga kapal niaga.

"Kondisi konflik saat ini menjadi pengingat bagi pasar bahwa keamanan pelayaran melalui masih sangat rentan," kata Kepala Riset MST Marquee, Saul Kavonic, dikutip Reuters.

"Situasi ini menjadi sinyal yang berlawanan dengan sentimen pasar saat ini yang memperkirakan pasokan minyak akan melimpah hingga memicu kelebihan suplai. Kondisi tersebut dapat mendorong para pelaku pasar yang sebelumnya mengambil posisi jual (short position) dalam jumlah besar untuk menutup posisinya," tambah Kavonic.

Jika ketegangan terus berlanjut dan lalu lintas pelayaran melalui tetap berada di bawah 50 persen dari tingkat sebelum perang, maka gangguan pasokan yang terjadi berpotensi menopang kenaikan harga minyak.

Setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada bulan lalu, harga minyak sempat merosot kembali ke level sebelum perang. Di saat yang sama, para trader meningkatkan posisi jual (short position) dalam kontrak berjangka minyak, yakni bertaruh bahwa harga minyak akan terus mengalami penurunan.

Ekspektasi bahwa pasokan minyak dari Timur Tengah yang sempat tertahan akan membanjiri pasar menjadi penyebab utama penurunan harga minyak.

Iran tidak mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal tersebut. Namun, Qatar menuding Iran berada di balik serangan itu, termasuk serangan terhadap sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) milik Qatar yang dilaporkan dihantam pesawat nirawak (drone), sehingga memicu kebakaran di ruang mesin kapal.

Sementara itu, sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Arab Saudi yang diyakini merupakan supertanker Wedyan juga dilaporkan mengalami kerusakan di perairan lepas Oman, menurut sejumlah sumber keamanan maritim. Hingga kini, penyebab kerusakan tersebut masih belum diketahui.

Sejak perang pecah, sejumlah negara telah menguras cadangan minyak mereka untuk menutupi kekurangan pasokan di pasar.

Sementara itu, persediaan minyak mentah Amerika Serikat kembali turun pada pekan lalu, menurut sumber pasar yang mengutip data dari American Petroleum Institute (API) pada Selasa. Para analis yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan stok minyak mentah AS akan menyusut sekitar 2,4 juta barel pada pekan yang berakhir 3 Juli.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama