tirto.id - Iran dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menyelesaikan pertemuan di Doha, Qatar, pada Rabu (1/7/2026). Pertemuan itu digelar secara tak langsung dan isi pembicaraan berkisar pada hal teknis terkait kesepakatan terbaru kedua negara yang bermusuhan tersebut. Berikut rangkuman seputar pertemuan AS-Iran dan hasilnya.
Meskipun berhasil menyelesaikan pertemuan tak langsung pada Rabu, pembicaraan yang terjadi dilaporkan tak menunjukkan tanda-tanda tercapainya kesepakatan perdamaian abadi. Seturut Al Jazeera, Washington dan Teheran lebih banyak bicara tentang hal-hal teknis terkait kesepakatan perdamaian sementara.
Pertemuan itu dilaporkan dihadiri oleh Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani. Ia memimpin tim perantara antara utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dengan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi.
Kazem Gharibabadi disebut menggantikan peran negosiator utama Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Kedua pejabat tinggi Iran itu tidak hadir dalam pembicaraan pada Rabu.
Gharibabadi menjelaskan, ada dua agenda pertemuan yang dilakukan di Doha. Agenda pertama terkait dengan “pelanggaran kewajiban” AS, sedangkan agenda kedua yakni pembicaraan terkait pencairan dana Iran yang dibekukan senilai USD6 miliar.
Terkait agenda pertama, Gharibabadi menyebut Washington dan Teheran menyepakati klausul untuk membuat saluran komunikasi khusus. Saluran ini disebut akan digunakan untuk menyelesaikan perselisihan sehubungan dengan kewajiban kedua belah pihak terkait kesepakatan perdamaian.
Sementara itu, terkait agenda kedua, Gharibabadi menyatakan “pengeluaran sebagian dari dana awal USD6 miliar” telah ditinjau bersama. Dalam hal ini, kedua negara disebut telah menyepakati mekanisme teknis pencairan.
Gharibabadi menyebut pencairan akan dilakukan, dengan pihak Iran mengajukan kebutuhan yang diperlukan. Nantinya, “barang-barang yang dibutuhkan” itu akan “dibeli dan disediakan” untuk Iran melalui dana tersebut.
Kesepakatan Soal Selat Hormuz dan Program Nuklir
Dengan dua kesepakatan tersebut, masa depan Selat Hormuz dan program nuklir Iran masih tak bisa dipastikan. Meski begitu, berdasarkan informasi terbaru, ketegangan di antara dua isu utama Perang Iran-AS itu tampak mengendur.
Pelayaran melalui Selat Hormuz dilaporkan berangsur pulih. Data dari perusahaan pelacakan kapal, Kpler, menyebut pergerakan kapal komersial di selat tersebut meningkat lebih dari 50 persen pada 22-28 Juni lalu, dibandingkan dengan pekan sebelumnya.
Sedangkan, terkait isu program nuklir Iran, inspektur dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) disebut telah memiliki akses ke dua lokasi di Iran, yakni pembangkit listrik Bushehr dan reaktor Teheran. Hal ini telah dikonfirmasi oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Sebelumnya, Kepala IAEA Rafael Grossi menyatakan bahwa pihaknya “harus memiliki akses dan dapat memeriksa” semua situs nuklir Iran yang termuat dalam nota kesepahaman Washington-Teheran.
Akan tetapi, pada Kamis (2/7), Ghalibaf menyatakan akses tersebut hanya diberikan pada dua fasilitas yang telah disebutkan. Ia membantah bahwa inspektur IAEA memiliki akses ke fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan sebelumnya merupakan fasilitas nuklir yang dibom AS dalam perang 12 hari pada 2025 lalu. Fasilitas tersebut juga dilaporkan menjadi tempat disimpannya pasokan uranium yang telah diperkaya milik Iran.
“Saat ini, inspektur hanya memiliki akses ke dua lokasi: pembangkit listrik Bushehr dan reaktor Teheran,” kata Ghalibaf dalam keterangannya untuk stasiun televisi IRIB.
AS-Iran Segera Lakukan Pertemuan Lanjutan
Setelah pertemuan di Doha pada Rabu, AS dan Iran diproyeksikan menggelar pertemuan lanjutan di masa mendatang. Hal ini sebagaimana apa yang disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari.
Melalui akun X miliknya, al-Ansari menyatakan pertemuan tak langsung itu telah menghasilkan “kemajuan positif pada isu-isu terkait Nota Kesepahaman Islamabad”. Setelah ini, perwakilan kedua negara yang bermusuhan itu juga disebutnya akan “sesegera mungkin” melakukan pembicaraan lanjutan.
“Para pihak sepakat untuk melanjutkan diskusi selama periode mendatang, dengan pertemuan berikutnya dijadwalkan sesegera mungkin setelah selesainya prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran,” tulis al-Ansari.
Prosesi pemakaman yang disinggung al-Ansari adalah agenda pemakaman jenazah Ayatullah Ali Khamenei. Prosesi ini dijadwalkan dimulai pada Sabtu (4/7) mendatang dan berlangsung selama enam hari.
Jenazah Khamenei dijadwalkan akan menjalani serangkaian perjalanan di Iran dan Irak, sebelum dimakamkan di Kota Mashhad. Kota tersebut merupakan tempat kelahiran Ali Khamenei.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































