tirto.id - Seruan untuk membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump bergema di tengah jutaan pelayat yang menghadiri salat jenazah massal mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Masjid Agung Imam Khomeini (Imam Khomeini Grand Mosalla), Teheran.
Di tengah suasana duka sekaligus militansi massa tersebut, sosok Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, justru kembali absen dari pandangan publik.
Dilansir The Guardian pada Minggu (5/7/2026), prosesi penghormatan bagi Ali Khamenei beserta empat anggota keluarganya yang tewas dalam serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari lalu berubah menjadi ajang konsolidasi dan sumpah pembalasan.
Sebelum salat jenazah dimulai pada pukul 08.00 waktu setempat, seorang penyair bernama Mohammad Rasouli membacakan puisi di atas mimbar upacara perpisahan tersebut.
"Mulai sekarang, kain kafan adalah pakaian kita. Aku bersumpah demi darahmu: membunuh Trump adalah tanggung jawab kita," kata Rasouli.
Rasouli kemudian mempertanyakan alasan Trump masih hidup dan menyatakan bahwa dunia tidak boleh lagi menjadi tempat yang aman bagi Presiden AS tersebut. Pernyataan itu disambut sorak antusias oleh sebagian besar pelayat, diiringi seruan bergema: "Tanpa kompromi, tanpa menyerah, hanya balas dendam."
Salat jenazah utama dipimpin oleh Ayatollah Ja’far Sobhani, ulama senior berusia 97 tahun asal Qom. Doa dipanjatkan tidak hanya untuk Ali Khamenei, tetapi juga untuk tiga anggota keluarganya, termasuk menantunya Zahra Haddad Adel dan cucunya yang berusia 14 bulan, Zahra Mohammadi Golpaygani.
Setelah dari Teheran, jenazah akan dibawa ke kota suci Qom, dua kota suci di Irak, hingga akhirnya dimakamkan di tempat peristirahat terakhirnya di Mashhad, kota kelahiran Khamenei pada tahun 1939.
Di samping peti mati, tiga putra Ali Khamenei, yakni Mustafa, Massoud, dan Meysam, tampak berdiri berdampingan. Sebagian besar pejabat senior pemerintah Iran dari sayap politik, yudisial, hingga militer juga hadir, termasuk Komandan Pasukan Al-Quds Esmail Qaani dan Komandan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Ahmad Vahidi.
Kehadiran terbuka para elite ini menunjukkan adanya jaminan bahwa gencatan senjata dengan AS mencegah serangan terhadap upacara pemakaman.
Namun, ketidakhadiran Mojtaba Khamenei justru mencuri perhatian. Ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru 10 hari setelah kematian ayahnya, Mojtaba belum pernah muncul di depan umum atau merekam pesan audio selama tiga bulan terakhir, bahkan absen pada pemakaman istrinya Kamis lalu.
Otoritas resmi mengakui bahwa ia terluka dalam serangan hari pertama perang, tetapi menyatakan tidak ada kecacatan wajah permanen atau amputasi akibat ledakan tersebut. Pengamanan ketat terhadap Mojtaba diduga kuat berkaitan dengan ancaman luar negeri.
Pemakaman Ali Khamenei dihadiri oleh jutaan warga Iran. Banyak warga berpenghasilan minim rela menempuh perjalanan jauh dan tidur di lantai masjid atau sekolah demi penghormatan terakhir. Warga dan pemerintah distrik juga mendirikan posko makanan dan minuman gratis di sekitar masjid.
Sentimen persatuan nasional ini juga disuarakan oleh Husain Dehghan, seorang penerjemah buku yang hadir di lokasi pemakaman. Husain menilai kehadiran jutaan warga merupakan bentuk solidaritas di tengah rasa syok berat akibat pembunuhan pemimpin mereka.
Husain menyadari bahwa Khamenei kerap dilabeli diktator oleh Barat dan tidak populer di semua kalangan, namun mayoritas masyarakat Iran tetap menaruh rasa hormat dan kasih sayang kepadanya.
Husain juga mengecam keras agresi militer AS dan Israel yang dimulai tepat di pertengahan negosiasi diplomasi. Menurutnya, tindakan tersebut adalah bentuk penipuan nyata yang bertujuan menundukkan Iran di bawah kolonialisme AS. Namun ia menekankan bahwa bangsa Iran memiliki sejarah panjang dan akan selalu termotivasi bangkit demi kelangsungan hidup negara saat diserang musuh luar.
Menyinggung protes massal pemuda Iran awal tahun ini, Husain menegaskan bahwa sentimen pembelaan tanah air kini juga dirasakan oleh kaum muda.
"Itu berlaku bagi banyak anak muda yang memprotes pada bulan Januari; mereka menyadari bahwa orang Amerika dan Israel tidak memiliki niat baik terhadap rakyat ketika mereka berbicara tentang perubahan rezim," ungkap Husain.
Warga lainnya, Ibrahim Kalim, menceritakan pengalamannya menghadapi serangan udara AS-Israel yang sempat menghancurkan lingkungan sekitarnya.
"Saya hampir saja tewas di jalan akibat bom Israel. Itu hanya masalah hitungan detik," kata Ibrahim.
Ibrahim menceritakan pengalaman traumatisnya di malam hari saat harus menghitung puluhan bom jatuh hanya berjarak beberapa mil dari rumahnya, sembari melihat pesawat jet Israel terbang di atas kepala. Ia menilai teror serangan udara tersebut sangat merendahkan martabat bangsa.
Lebih lanjut, Ibrahim mengakui bahwa banyak warga yang menginginkan adanya reformasi di dalam negeri, namun reformasi itu harus dibentuk oleh rakyat Iran sendiri tanpa campur tangan Amerika Serikat.
"Sangatlah manusiawi untuk tidak sependapat dengan pemerintah Anda, tetapi tetap membela tanah air tempat Anda dilahirkan jika negara itu diserang," tegas Ibrahim.
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id

































