Menuju konten utama

Mojtaba Khamenei Terpilih jadi Pemimpin Tertinggi Iran Baru

Mojtaba menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas akibat serangan gabungan AS-Israel, pekan lalu, Minggu (28/2).

Mojtaba Khamenei Terpilih jadi Pemimpin Tertinggi Iran Baru
Foto arsip 31 Mei 2019 menunjukkan putra Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, menghadiri demonstrasi untuk memperingati Hari Yerusalem di Teheran. (Photo by Morteza Nikoubazl via Reuters Connect)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru, hanya sekitar sepekan setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Serangan itu yang kemudian memicu perang besar di kawasan tersebut.

Mojtaba Khamenei yang berusia 56 tahun kini akan memimpin Republik Islam Iran di tengah krisis terbesar dalam 47 tahun sejarah negara itu. Para ulama Iran secara resmi menetapkannya sebagai penerus ayahnya pada Minggu (8/3/2026), Al Jazeera melaporkan.

Sejumlah pemimpin penting Iran, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang sangat berpengaruh bersama dengan angkatan bersenjata, dengan cepat menyatakan dukungan mereka kepada pemimpin baru tersebut.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, yang ditugaskan mengarahkan strategi keamanan negara sejak AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran, menyerukan persatuan di bawah kepemimpinan pemimpin tertinggi yang baru.

Sementara Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyambut baik keputusan tersebut. Ia menyatakan bahwa mengikuti pemimpin tertinggi yang baru merupakan kewajiban agama dan nasional.

Mojtaba Khamenei tidak pernah mencalonkan diri dalam jabatan publik atau mengikuti pemungutan suara rakyat. Namun, selama beberapa dekade ia dikenal sebagai tokoh yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam kepemimpinan ayahnya, sekaligus memiliki hubungan erat dengan IRGC.

Dalam beberapa tahun terakhir, namanya semakin sering disebut sebagai kandidat utama pengganti Ali Khamenei.

Mojbata, Pemimpin yang Sama Kerasnya dengan Ayahnya

Penunjukannya dinilai dapat menjadi tanda bahwa faksi garis keras dalam struktur kekuasaan Iran masih mempertahankan pengaruhnya. Hal ini juga dapat mengindikasikan bahwa pemerintah Iran tidak memiliki keinginan kuat untuk segera menyepakati kesepakatan atau negosiasi, ketika perang memasuki pekan kedua.

Al Jazeera menggambarkan Mojtaba Khamenei sebagai ‘penjaga gerbang ayahnya’.

“Ia mengadopsi posisi ayahnya terkait AS dan Israel. Jadi kita memperkirakan seorang pemimpin yang konfrontatif. Kita tidak mengharapkan adanya moderasi,” dikutip dari Al Jazeera, Senin (9/3/2026).

“Namun, jika perang ini berakhir dan ia masih hidup serta mampu terus memimpin negara, ada potensi besar, untuk menemukan jalur-jalur baru bagi Iran,” tambahnya.

Peneliti kebijakan publik terkemuka di American University of Beirut, Rami Khouri, menilai penunjukan Mojtaba Khamenei menunjukkan adanya kelanjutan dari arah politik sebelumnya. Ia mengatakan masih harus dilihat apakah pemimpin tertinggi yang baru akan mendorong negosiasi untuk mengakhiri perang.

Apa pun hasilnya, menurutnya, penunjukan tersebut merupakan “tindakan pembangkangan”. Iran, kata Khouri, sedang memberi tahu AS dan Israel, ‘Kalian ingin menyingkirkan sistem kami? Nah, ini adalah sosok yang lebih radikal daripada ayahnya yang dibunuh,’ kata Khouri.

Anggota Dewan Ahli Heidari Alekasir, yang bertugas memilih pemimpin tertinggi Iran, mengatakan kandidat tersebut dipilih berdasarkan nasihat mendiang Ali Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran seharusnya dibenci oleh musuh, alih-alih dipuja oleh mereka.

“Bahkan Setan Besar (AS) pun telah menyebut namanya,” ujar ulama senior itu, merujuk pada pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang sebelumnya mengatakan Mojtaba Khamenei akan menjadi pilihan yang, “tidak dapat diterima” baginya untuk memimpin Iran.

Militer Israel sebelumnya juga telah memperingatkan setiap calon penerus bahwa mereka tak akan ragu menargetkan pimpinan tertinggi Iran yang baru itu.

Pada Minggu (8/3/2026), Trump kembali menegaskan bahwa Washington akan berupaya memengaruhi siapa yang akan dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran berikutnya. Ia mengatakan bahwa tanpa persetujuan AS, siapa pun yang dipilih untuk jabatan tersebut tidak akan bertahan lama.

Penunjukan putra Khamenei junior sebagai pemimpin tertinggi baru dipastikan akan membuat Trump semakin geram.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Alfons Yoshio Hartanto