tirto.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada negara-negara tetangganya di kawasan Teluk yang terdampak serangan dari negaranya. Ia juga meminta negara-negara tersebut untuk tidak terlibat dalam serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dalam pernyataannya, Pezeshkian mengatakan dewan kepemimpinan Iran telah berkomunikasi dengan militer terkait serangan-serangan tersebut.
“Saya harus meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran, atas nama pribadi saya,” ujarnya.
“Mulai sekarang, mereka tidak boleh menyerang negara tetangga atau menembakkan rudal ke arah mereka, kecuali jika kami diserang dari negara-negara tersebut. Saya pikir masalah ini harus diselesaikan melalui diplomasi,” lanjutnya, seperti dikutip dari NPR.
Pernyataan tersebut muncul beberapa jam setelah gelombang rudal dan drone mengganggu penerbangan di Dubai International Airport, menargetkan fasilitas minyak utama di Arab Saudi, serta memaksa warga di Bahrain berulang kali mencari perlindungan.
Pezeshkian juga kembali mengkritik tuntutan Presiden AS Donald Trump agar Iran menyerah tanpa syarat kepada Amerika Serikat.
“Itu adalah mimpi yang harus mereka bawa sampai ke liang kubur,” katanya.
Namun, pernyataan Pezeshkian memicu polemik di dalam negeri Iran. Kantornya kemudian menegaskan bahwa militer Iran akan merespons secara tegas setiap serangan yang berasal dari pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Beberapa jam kemudian, Pezeshkian kembali mengunggah pernyataannya di platform X, tetapi tanpa menyertakan bagian permintaan maaf yang sebelumnya memicu kritik dari kelompok garis keras, termasuk Islamic Revolutionary Guard Corps.
Ulama sekaligus anggota parlemen garis keras Hamid Rasai menilai pernyataan presiden tersebut tidak dapat diterima.
“Pak Pezeshkian, sikap Anda tidak profesional, lemah, dan tidak dapat diterima,” tulisnya di platform X.
Ketua lembaga peradilan Iran Gholam-Hossein Mohseni-Ejei juga mengatakan wilayah sejumlah negara di kawasan digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Karena itu, menurutnya, serangan balasan akan terus berlanjut.
UEA Siap Hadapi “Ancaman”
Merespons situasi tersebut, Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan menyatakan negaranya siap menghadapi ancaman di tengah berlanjutnya serangan Iran ke negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat.
Sheikh Mohamed untuk pertama kalinya berbicara mengenai konflik yang semakin meluas di Timur Tengah ketika Iran terus meluncurkan drone dan rudal ke negara-negara Teluk.
“UEA memiliki kulit tebal dan daging pahit, kami bukan mangsa yang mudah,” kata Sheikh Mohamed dalam pernyataan yang disiarkan oleh Abu Dhabi TV pada Sabtu (7/3/2026), saat ia mengunjungi pasien yang terluka di sebuah rumah sakit di Abu Dhabi.
Ia menambahkan bahwa negaranya saat ini berada dalam “periode perang”, tetapi akan “keluar lebih kuat”.
Dalam unggahan di media sosial, Sheikh Mohamed mengatakan UEA yang telah mengalami serangan yang memengaruhi berbagai pusat aktivitas seperti bandara, objek wisata, dan konsulat Amerika Serikat di Dubai, siap menghadapi ancaman terhadap keamanan dan keselamatan seluruh warganya.
Kantor Media Dubai menyatakan seorang pengemudi tewas setelah puing dari proyektil yang berhasil dicegat menghantam kendaraannya. Korban disebut sebagai warga Asia, namun tidak ada rincian lebih lanjut yang diberikan.
Pernyataan Sheikh Mohamed disampaikan ketika kawasan tersebut memasuki minggu kedua perang yang dipicu oleh serangan besar Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Serangan Meluas di Kawasan Teluk
UEA menjadi negara yang paling sering menjadi sasaran serangan di kawasan Teluk selama konflik berlangsung. Kementerian Pertahanan UEA mengatakan negaranya diserang oleh 16 rudal balistik dan lebih dari 120 drone.
Dilansir dari Al-Jazeera, beberapa jam setelah permintaan maaf Pezeshkian, Garda Revolusi Iran mengklaim drone mereka menyerang pusat operasi udara Amerika Serikat di Al Dhafra Air Base dekat Abu Dhabi.
Sebuah objek tak dikenal juga berhasil dicegat di dekat Dubai International Airport, yang sempat memaksa bandara tersibuk di dunia untuk penerbangan internasional itu menghentikan operasinya sementara.
Serangan Iran dalam sepekan terakhir juga dilaporkan menargetkan Bandara Abu Dhabi, kawasan mewah Palm Jumeirah, serta hotel mewah Burj Al Arab. Puing drone juga memicu kebakaran di Konsulat Amerika Serikat di Dubai.
Di Qatar, angkatan bersenjata negara itu mengatakan telah mencegat sebuah serangan rudal, meskipun belum ada rincian mengenai kerusakan atau korban.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan sebuah rudal balistik yang ditembakkan ke arah Prince Sultan Air Base jatuh di wilayah tak berpenghuni.
Kuwait juga melaporkan berhasil mencegat sebuah drone, sementara perusahaan minyak nasionalnya mengumumkan pengurangan produksi minyak mentah sebagai langkah pencegahan akibat serangan Iran serta ancaman terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Seperti yang diketahui, seluruh negara anggota Gulf Cooperation Council yaitu Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman menjadi sasaran serangan karena keberadaan aset militer Amerika Serikat di dalam atau sekitar wilayah mereka.
Serangan tersebut menyebabkan gangguan besar pada penerbangan, penutupan wilayah udara, serta dampak signifikan terhadap produksi minyak dan gas yang berpengaruh hingga ke tingkat global.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps menyerang pasukan Amerika Serikat di pangkalan udara Naval Support Activity Bahrain-Juffair Base sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas desalinasi air tawar di Qeshm Island.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas tersebut sebagai “langkah berbahaya dengan konsekuensi serius” yang memengaruhi pasokan air bagi sekitar 30 desa.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan serangan terhadap fasilitas tersebut dilakukan dengan dukungan dari salah satu pangkalan udara di negara tetangga di wilayah selatan. Ia menegaskan negara-negara kawasan tidak akan menikmati perdamaian selama Amerika Serikat masih memiliki pangkalan militer di kawasan tersebut.
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id





























