Menuju konten utama

Update Serangan AS ke Iran Hari Kedua Usai Perdamaian Gagal

Serangan AS ke Iran hari kedua menargetkan 80 sasaran. Setidaknya 14 orang tewas dalam agresi dua hari tersebut. Iran turut membalas serangan.

Update Serangan AS ke Iran Hari Kedua Usai Perdamaian Gagal
Kepulan asap membubung setelah ledakan yang dilaporkan terjadi di Teheran pada 28 Februari 2026. Iran mengatakan pada 28 Februari bahwa mereka akan "merespons dengan tegas" setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke negara itu meskipun pembicaraan sedang berlangsung mengenai program nuklir Teheran.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perang Iran-Amerika Serikat (AS) kembali berkecamuk. AS kembali menyerang Iran pada Kamis (9/7/2026). Ini menandai hari kedua serangan beruntun AS ke Iran. Berikut update terbarunya.

Seturut CNN, AS kembali menyerang Iran pada Kamis waktu Indonesia. Dalam serangan terbarunya ini, AS menyatakan telah menargetkan 90 titik fasilitas militer Iran. Ditambah dengan serangan pada Kamis, AS total telah melancarkan serangan ke 170 target sejak Rabu (8/7).

Sebagian serangan berskala besar ini dilaporkan telah menyerang pantai selatan Iran. Meskipun, beberapa di antaranya telah menjorok ke daratan ke arah utara.

Kementerian Kesehatan Iran menyatakan serangan terbaru AS dalam dua hari terakhir telah membunuh 14 orang. Serangan juga disebut melukai 78 orang lainnya.

Terbunuhnya 14 orang di Iran itu terjadi di berbagai wilayah. Di antaranya, adalah seorang petugas pemadam kebakaran yang terbunuh akibat serangan di Bandara Iranshahr.

Serangan terbaru AS ini juga menandai eskalasi serangan baru. Hal ini lantaran jembatan kereta api di Aqqalla, Iran bagian utara, juga turut diserang. Sebelumnya, AS tampak enggan menyerang fasilitas sipil Iran, pun serangan pada infrastruktur sipil penting dalam perang dianggap sebagai kejahatan.

Selain jembatan kereta api, banyak fasilitas lain di Iran juga terdampak serangan. Salah satu di antaranya adalah rumah sakit di Chabahar di utara Teluk Oman yang terkena puing serangan.

Seturut pemberitaan media Iran, wilayah terdampak serangan telah meluas. Beberapa di antaranya adalah Chabahar, Aqqalla, Iranshahr, Bushehr, Bandar Abbas, dan Pulau Abu Musa.

Serangan terbaru AS ini dilakukan setelah presiden mereka, Donald Trump, menyebut kepemimpinan Teheran sebagai “orang gila” dan “sampah” ketika menghadiri KTT NATO pekan ini. Dalam kesempatan itu, Trump juga menyebut bahwa para pemimpin Iran kini “mungkin akan lenyap” setelah pertempuran kembali pecah.

Meski begitu, Trump menyebut bahwa ia tak yakin perang akan benar-benar “dimulai lagi”. Secara terpisah, seorang pejabat pemerintahan Trump menyebut bahwa pertempuran yang terjadi kini merupakan dampak dari gencatan senjata yang “setidaknya telah dihentikan sementara”.

Respons Iran Setelah Serangan AS Hari Kedua

Di sisi lain, Iran merespons serangan AS dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia. Selain itu, para pejabat di Teheran juga telah mengungkapkan kecaman mereka terhadap serangan terbaru AS dalam dua hari terakhir.

Menukil Al Jazeera, Iran telah menyerang sejumlah lokasi di Bahrain, Kuwait, dan Qatar melalui rudal atau pun drone. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sejauh ini menyebut serangan mereka menargetkan fasilitas AS dan memperingatkan perluasan target serangan jika AS membalas.

Sementara itu, ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengecam serangan AS dalam dua hari terakhir. Ia menyebut serangan terbaru mereka sebagai intimidasi dan pelanggaran janji.

“Amerika masih belum belajar bahwa intimidasi dan pelanggaran janji bukan hal yang gratis lagi,” kata salah satu negosiator utama Teheran itu.

Kecaman tak hanya ditujukan kepada AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam keterangan di X, juga mengecam dan memperingatkan negara-negara Eropa yang telah mendukung AS dalam serangan terbaru kali ini. Ia menyebut negara pendukung ini akan ikut menanggung tanggung jawab.

“Mereka yang menyediakan wilayah, pangkalan militer, dan infrastruktur mereka untuk memfasilitasi agresi tidak dapat menghindari tanggung jawab atas peran mereka … dan konsekuensi seriusnya,” tulis Baghaei.

Eskalasi konflik dalam dua hari terakhir ini dilaporkan terjadi karena deadlock perundingan AS-Iran terkait Selat Hormuz. AS bersikeras pelayaran via selat itu harus gratis dan Iran tak punya kuasa atas jalur laut itu. Namun, Iran juga bersikeras bahwa kontrol atas jalur pelayaran di Hormuz merupakan faktor penting yang harus mereka miliki untuk bernegosiasi dengan Washington.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar