Menuju konten utama

AS Blokade Iran, Harga Minyak Tembus Level Tertinggi Sebulan

Harga minyak dunia melonjak 2 persen ke level tertinggi dalam sebulan usai AS blokade laut Iran usai serangan di Selat Hormuz.

AS Blokade Iran, Harga Minyak Tembus Level Tertinggi Sebulan
Awan matahari terbenam bersinar di atas dongkrak pompa di ladang minyak Airankol yang dioperasikan oleh Caspiy Neft di wilayah Atyrau, Kazakhstan, 21 April 2026. REUTERS/Pavel Mikheyev
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak dunia melonjak sekitar 2 persen pada perdagangan Selasa (14/7/2026), menyentuh level tertinggi dalam empat minggu terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh keputusan Amerika Serikat (AS) yang kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran, di tengah meningkatnya serangan antara kedua negara di Selat Hormuz yang memperbesar ketidakpastian terhadap arus pasokan energi global.

Hingga pukul 00.51 waktu setempat, kontrak berjangka minyak mentah Brent menguat 1,68 dolar AS atau 2 persen ke level 84,98 dolar AS per barel. Pada sesi perdagangan sebelumnya, harga Brent telah melesat 9,6 persen, mencatat kenaikan harian terbesar sejak Mei 2020.

Sedangkan, minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik 1,65 dolar AS atau 2,1 persen menjadi 79,79 dolar AS per barel.

Harga minyak kini berada di level tertinggi sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk mengakhiri perang pada 17 Juni.

Sebelumnya, pada Senin (13/7/2026), Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan, dua kapal tanker asal negaranya telah dihantam dua rudal jelajah Iran di jalur pelayaran selatan Selat Hormuz yang berada di perairan teritorial Oman. Serangan itu menewaskan satu awak kapal berkewarganegaraan India dan melukai delapan orang lainnya.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa pihaknya kembali memberlakukan blokade terhadap jalur pelayaran Iran. Ia juga ingin negara-negara yang mendapat perlindungan dari AS di Selat Hormuz memberikan kompensasi atas biaya yang dikeluarkan Washington untuk menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.

"Eskalasi terbaru, termasuk keputusan Amerika Serikat untuk kembali memberlakukan blokade dan respons dari Iran, jelas telah memicu masuknya premi risiko baru ke pasar," kata Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, dikutip Reuters.

"Meski penutupan penuh Selat Hormuz belum terjadi, kepentingan yang saling bertentangan dari kedua belah pihak telah membuat prospek pasokan minyak menjadi sangat tidak pasti," tambahnya.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/CENTCOM) menyatakan telah melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga secara berturut-turut.

Sementara, kantor berita semi-resmi Iran, YJC News, melaporkan pada Selasa dini hari bahwa tujuh ledakan terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas dan dua ledakan lainnya terjadi di Pulau Kish.

Di kawasan lain, kelompok Houthi di Yaman menembakkan rudal ke Arab Saudi setelah menuduh kerajaan tersebut membombardir sebuah bandara yang berada di bawah kendali mereka pada Senin.

"Jika Houthi memperluas serangan mereka ke pengiriman produk minyak mentah Arab Saudi di Laut Merah, hal itu dapat menambah ketidakpastian terhadap arus pasokan minyak dari kawasan tersebut," tulis Manajer Portofolio Gabelli Funds, Simon Wong, dalam sebuah catatan.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah