Menuju konten utama
Horizon

Nasib Gamsunoro dan Hari-Hari Mencekam para Awak di Selat Hormuz

Ratusan kapal tanker internasional terjebak di Selat Hormuz. Sebagian besar masih bernasib tak jelas. Begitu juga kondisi para awaknya.

Nasib Gamsunoro dan Hari-Hari Mencekam para Awak di Selat Hormuz
Kapal Gamsunoro Pertamina. foto/DOk. Pertamina

tirto.id - Tidak ada tempat berlindung di atas kapal tanker.

Ketika drone melintas rendah atau suara jet tempur terdengar di kejauhan, awak kapal hanya bisa berlari masuk ke badan kapal, menjauh dari dek terbuka, sembari berharap mereka bukan target berikutnya.

Begitulah yang dialami Hein (nama disamarkan), salah satu pelaut asal Myanmar yang terjebak di Selat Hormuz sejak memanasnya konflik Israel-AS vs. Iran mulai akhir Februari 2026.

Kapal tanker untuk logistik dagang memang tidak dirancang buat perang di laut terbuka. Tidak ada bunker, tidak ada sistem perlindungan rudal, hanya ada baja, mesin, muatan, dan manusia di dalamnya.

Nasib Kapal MT Gamsunoro dan Kapal Lainnya

Sekira dua pekan setelah BBC melaporkan kondisi Hein, atau sebulan sejak AS-Israel menyerang Iran, kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) bernama MT Gamsunoro terpantau mulai bergerak.

Pada 30 Maret 2026, citra satelit Automatic Identification System (AIS) di situs Marine Traffic menunjukkan kapal tersebut berada di perairan Teluk Persia dengan status underway using engine.

Ia melaju perlahan dengan kecepatan sekitar 10 hingga 12 knot, setara 18 sampai 22 kilometer per jam, menuju Dubai, Uni Emirat Arab. Jaraknya sekitar 44 mil laut dari pesisir Iran.

Pada bagian report destination tertulis: Dubai for Orders. Artinya, setiba di Dubai, kapal masih menunggu instruksi lanjutan dari pemilik, dalam hal ini PIS.

Pergerakannya tampak sederhana di peta digital. Namun dalam kondisi sekarang, setiap mil perjalanan laut di Teluk Persia sekitar Selat Hormuz menjadi keputusan penuh risiko.

Kapal MT Gamsunoro di Dubai

Kapal MT Gamsunoro milik Pertamina tiba di perairan Dubai, Selasa, 31 Maret 2026. Foto/ Marinetrafic.com

Selat Hormuz termasuk salah satu jalur pelayaran vital di dunia. Lebar di titik tersempitnya hanya sekitar 33 kilometer dengan jalur pelayaran efektif untuk masing-masing arah sekitar dua mil laut. Namun, dari celah sempit itulah, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia mengalir setiap hari, setara 17 hingga 20 juta barel per hari.

Dalam kondisi normal, lebih dari 100 kapal tanker dan kapal komersial melintas tiap hari. Lalu lintas padat, tetapi terprediksi. Sementara itu, sebulan terakhir, pola itu berubah drastis. Jumlah kapal yang melintas anjlok tajam sejak terjadi eskalasi konflik.

Merujuk Kpler, perusahaan penyedia data di balik situs Marine Traffic, hanya sekitar lima hingga enam kapal per hari yang berani melintas. Penurunannya lebih dari 90 persen.

Di sisi lain, menurut data Lloyd's List Intelligence, penyedia data dan analisis intelijen terkemuka untuk industri kapal logistik global, sebanyak 200 kapal tanker dagang internasional tertahan di Teluk Persia dan sekitarnya sejak awal Maret 2026.

Sebagian memilih berlabuh di perairan aman seperti Fujairah dan Khor Fakkan di Uni Emirat Arab. Sebagian lainnya berada di jalur, bergerak sangat lambat, atau sekadar “menunggu” dan terombang-ambing di perairan Teluk Persia.

Dua kapal milik Pertamina, MT Gamsunoro dan MT Pertamina Pride, termasuk di antaranya.

Kapal Tanker Teluk Persia

Data kapal tanker di kawasan Teluk Persia menurut pemiliknya. Foto/Lloyd's List Intelligence (3 Maret 2026)

Pertamina Pride sedang membawa minyak mentah untuk kebutuhan domestik Indonesia, sementara MT Gamsunoro membawa kargo untuk konsumen pihak ketiga.

Dua kapal lain milik Pertamina, PIS Rinjani dan PIS Paragon, sebenarnya juga sempat berada di sekitar lokasi konflik. Namun, masing-masing “lolos” usai dipindah lebih awal ke Khor Fakkan dan perairan Oman.

Pada 1 April 2026, PIS Rinjani sudah berada di Selat Malaka menuju Singapura, sementara PIS Paragon dalam perjalanan menuju Saint Helena, pulau milik Inggris Raya yang berlokasi di Samudra Atlantik, di antara Benua Afrika dan Amerika Selatan.

Kesaksian para Awak yang Terjebak di Selat Hormuz

Tidak semua kapal punya opsi menyelamatkan diri

Di laut, waktu adalah biaya. Setiap hari keterlambatan berarti tambahan biaya operasional puluhan ribu dolar, dari bahan bakar, sewa kapal, sampai logistik awak. Sementara itu, bagi para pelaut, risiko tidak dihitung dalam dolar.

Amir (nama disamarkan), awak kapal dari Pakistan di atas kapal tanker minyak di Uni Emirat Arab, menggambarkan situasi sekitar, termasuk ketika ia melihat drone dan rudal jelajah terbang rendah di atas laut.

Ancaman tidak selalu datang dalam bentuk serangan langsung. Di beberapa kasus, serpihan dari rudal yang dicegat jatuh ke laut dan berpotensi menimpa kapal. Dalam situasi seperti itu, bahkan kapal yang tidak menjadi target tetap berada dalam bahaya.

Kapten Anam Chowdhury, Presiden Asosiasi Perwira Laut Dagang Bangladesh, memprediksi sekitar 20 ribu awak kapal terjebak di kawasan Asia Barat akibat eskalasi konflik.

Mereka tersebar di ratusan kapal, dari tanker minyak mentah hingga kapal kontainer. Sebagian berada di laut. Sebagian lainnya di pelabuhan. Lagi-lagi, pelabuhan pun tidak selalu aman.

Beberapa minggu terakhir, sejumlah kapal dilaporkan terkena serangan proyektil.

Kapal kargo berbendera Thailand, Mayuree Naree, diserang proyektil Iran saat melintas di Selat Hormuz pada 11 Maret 2026, memicu kebakaran di bagian buritan kapal.

Dari total 23 awak, sebanyak 20 orang berhasil menyelamatkan diri memakai sekoci, kemudian dievakuasi oleh angkatan laut Oman, sebelum dipulangkan ke Thailand.

Sementara itu, tiga awak lainnya diduga terjebak di ruang mesin, lokasi utama serangan terjadi. Selepas insiden, kapal dilaporkan kandas di sebuah pulau di wilayah Iran pada pekan berikutnya.

Tim pencari tidak menemukan keberadaan ketiga awak yang hilang tersebut.

Kapal Kargo Royal Thai Navy

Kebakaran kapal kargo Thailand, Royal Thai Navy. x/@prroyalthainavy

"Tidak ada yang bisa bahagia dan santai dalam situasi ini," kata Amir. "Kami menyibukkan diri dalam pekerjaan rutin sehari-hari. Latihan, pelatihan keselamatan dan keamanan."

Gangguan teknis menambah kompleksitas. Interferensi atau gangguan GPS dilaporkan meningkat. Dalam beberapa kasus, sistem navigasi digital tidak bisa diandalkan sepenuhnya.

Kapten kapal dari Korea Selatan bernama Seo-jun menggambarkan situasi awak kapal seperti “orang buta yang berusaha meraba gagang pintu".

Tanpa GPS stabil, kapal harus mengandalkan metode navigasi tradisional, seperti radar, kompas, dan pengamatan visual. Padahal, di perairan seperti Selat Hormuz, kesalahan kecil bisa berakibat fatal.

Masalah lain juga muncul dari logistik. Kapal tanker memang dirancang untuk perjalanan panjang, tapi bukan untuk ketidakpastian tanpa batas waktu.

Ketika kapal tertahan lebih lama, persediaan makanan dan air mulai menipis. Dalam beberapa kasus, awak kapal menjalankan sistem distribusi makanan terbatas. Satu porsi per hari, meskipun sama sekali tidak lumrah, kini mulai diterapkan.

Semua ini terjadi di tengah tekanan psikologis yang terus meningkat.

Iran tidak secara resmi menutup Selat Hormuz menggunakan landasan hukum internasional. Praktiknya, negara tersebut memperketat kontrol terhadap kapal yang melintas.

Beberapa kapal yang berhasil melewati selat dilaporkan mengambil rute tidak biasa dengan mendekati garis pantai Iran. Langkah tersebut diyakini bagian dari mekanisme identifikasi dan pengawasan.

Peta sinyal AIS dari kapal yang melintasi Selat Hormuz

Peta sinyal AIS dari kapal yang melintasi Selat Hormuz. foto/Dok. WIndward

“Kesimpulan saya adalah Iran menutup dan mengendalikan selat tersebut memanfaatkan rasa takut awak kapal akan serangan rudal dan ranjau laut,” kata Michelle Wiese Bockmann dari Windward Maritime Analytics.

Bagi operator kapal, ini menciptakan dilema: melintas berarti berisiko, tetapi menunggu berarti merugi.

Bukan Pertama Bagi Gamsunoro, Tapi Kini Berbeda

MT Gamsunoro tidak hanya sekali menghadapi situasi krisis. Pada Februari 2024, kapal tersebut berada di Laut Merah ketika ancaman terhadap pelayaran meningkat akibat aktivitas kelompok Houthi di sekitar Bab al-Mandab.

Saat itu, MT Gamsunoro, yang sebelumnya mengalihkan rute dari Laut Merah, dilaporkan kembali melintasi Selat Bab al-Mandab pada 17 Januari 2024.

Perubahan rute itu terjadi sekitar sepekan setelah AS dan Inggris menyerang lokasi kelompok Houthi di Yaman sebagai respons atas serangan terhadap kapal komersial sejak November 2023.

Seperti dilaporkan Reuters, gangguan terhadap lalu lintas pengiriman minyak saat itu masih berlangsung. Pada periode 13-17 Januari 2024, volume kapal tanker minyak yang melintasi wilayah Bab al-Mandab tercatat turun hingga 58 persen dibanding rata-rata tahun 2023.

Sejumlah kapal bahkan memilih memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, menambah waktu pelayaran hingga tiga minggu. Beberapa kapal lainnya tertahan di Teluk Aden dan bagian utara Laut Merah. Untungnya, MT Gamsunoro berhasil melenggang aman.

Namun, situasi di Selat Hormuz kali ini berbeda.

Jika di Laut Merah ancaman datang dari Houthi, aktor non-negara dengan pola serangan tak terpusat, kontrol di Selat Hormuz berada di tangan negara berkapasitas militer penuh. Selain faktor kewaspadaan awak kapal, keselamatan juga bergantung pada hubungan diplomatik antarnegara.

Baca juga artikel terkait TELUK HORMUZ atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Horizon
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fadli Nasrudin