tirto.id - Sejumlah kapal pengangkut energi dan kontainer dari Jepang, Prancis, dan Oman tercatat telah berhasil melintasi Selat Hormuz, menembus blokade yang diberlakukan Iran sejak akhir Februari lalu.
Berdasarkan data pelacakan maritim Jumat (4/4/2026), yang dilansir dari Al-Jazeera, kapal kontainer milik raksasa logistik Prancis, CMA CGM, menjadi kapal berbendera Barat pertama yang diketahui melewati jalur strategis tersebut.
Kapal bernama Kribi yang berbendera Malta itu tercatat melintasi Selat Hormuz pada 2 April.
Data dari LSEG menunjukkan bahwa sebelum memasuki perairan teritorial Iran, Kribi sempat mengubah tujuannya menjadi kepemilikan Prancis. Langkah ini diduga sebagai sinyal kepada otoritas Teheran mengenai kewarganegaraan pemilik kapal guna mengamankan jalur pelayaran. CMA CGM sendiri belum memberikan komentar resmi terkait lintasan tersebut.
Sementara itu, dari kawasan Teluk, dua kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) dan satu kapal tanker LNG yang dioperasikan oleh Oman Shipping Management juga dilaporkan keluar dari perairan Hormuz pada Kamis lalu, menurut data MarineTraffic dan LSEG.
Di sisi lain, perusahaan pelayaran asal Jepang, Mitsui OSK Lines, mengonfirmasi pada Jumat bahwa kapal tanker Sohar LNG, yang turut dimiliki perusahaannya, telah melintasi Selat Hormuz.
Ini menjadikannya kapal pertama dari Jepang dan kapal pengangkut LNG pertama yang berhasil melintasi selat tersebut sejak konflik pecah pada 28 Februari.
Sejak 1 Maret lalu, hanya sekitar 150 kapal yang tercatat melintasi Selat Hormuz. Sebagian besar dari jumlah tersebut terkait dengan Cina, India, dan Pakistan, demikian menurut firma data Lloyd's List Intelligence.
Dalam perkembangan terpisah, mantan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, menulis dalam jurnal Foreign Affairs bahwa Teheran sebaiknya mengambil inisiatif perdamaian.
Menurut Zarif, Iran dapat menawarkan pembatasan program nuklir dan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Teheran dapat "mendeklarasikan kemenangan dan membuat kesepakatan yang mengakhiri konflik ini dan mencegah konflik selanjutnya," tulis Zarif, yang menjabat sebagai menteri luar negeri dari 2013 hingga 2021, dikutip dari Al-Jazeera.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut harga bensin akan turun drastis usai perang, namun tidak memberikan solusi konkret untuk membuka kembali selat.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id






























