Menuju konten utama
Horizon

Lampu Merah, Koran Kriminal Pionir Clickbait Versi Cetak

Berkat judul yang sensasional, bombastis, dan provokatif, pada 2005 oplah Lampu Merah mencapai 225 ribu eksemplar, dengan iklan 2,3 miliar rupiah per bulan.

Lampu Merah, Koran Kriminal Pionir Clickbait Versi Cetak
Header Horizon Pionir Clickbait Versi Cetak Rahasia di Balik Koran Lampu Merah. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - “Namanya Sama Ama Preman Kampung, Siswa SMP Ditusuk Preman Pasar”

“Gak Tahan Suami Sering ke Luar Kota, Istri Selingkuh Sama Tukang Sayur”

“Naik Motor Bising, Cabe-cabean Ditegor Warga”

“Pak Tani Ngeracunin Keong Sawah, Keong Bales Ngeracunin Pak Tani”

Inilah gaya khas Lampu Merah, koran yang terbit sejak 26 November 2001 dan dengan cepat menjadi fenomena di industri media Indonesia. Surat kabar yang dikategorikan koran kuning (yellow journalism) ini mengemas semua berita dari perspektif kriminalitas. Berita politik menjadi tentang korupsi, pertandingan olahraga dipresentasikan melalui lensa perkelahian, sementara cerita artis digiring ke narasi penipuan dan skandal.

Yang membuatnya terkenal adalah gaya penyajiannya yang bombastis, provokatif, sering vulgar dengan judul-judul panjang, blak-blakan, menggunakan bahasa gaul atau kasar, dan langsung menusuk pada inti berita supaya pembaca penasaran atau kadang geleng-geleng kepala.

Hasilnya, Lampu Merah menarik hati sebagian pembaca media massa yang selama ini diabaikan oleh media arus utama. Hiburan murah buat masyarakat menengah bawah, tapi juga simbol kebebasan pers pasca-reformasi yang kebablasan.

Headline yang Mencolok

Koran ini lahir dari inisiatif Direksi Grup Rakyat Merdeka, bagian dari Jawa Pos Group yang kenyang pengalaman dengan media massa. Lampu Merah secara spesifik diterbitkan oleh PT Cahaya Rakyat Merdeka. Aktivis Andreas Harsono menduga Dahlan Iskan berada di balik lahirnya jurnalisme ala Lampu Merah.

“CEO Jawa Pos adalah Dahlan Iskan. Dia mantan wartawan mingguan Tempo [...] Saya duga Dahlan Iskan adalah orang yang bertanggungjawab terhadap munculnya gaya Lampu Merah,” ujar Andreas, dikutip dari unggahan di blog pribadinya.

Tokoh sentral lainnya di balik Lampu Merah adalah Gatot Wahyu, seorang wartawan berpengalaman di desk kriminal yang pernah bekerja di harian Rakyat Merdeka. Pemilihan Gatot Wahyu dan timnya tidaklah sembarangan. Latar belakang mereka sebagai jurnalis yang memahami berita kriminal menjadi fondasi konsep editorial.

Inovasi terbesar Lampu Merah terletak pada aspek desain dan tipografi. Tajuk utama (headline) memiliki kekhasan berupa kalimat panjang yang terdiri dari 10 hingga 20 kata, dicetak dalam ukuran besar dengan huruf kapital penuh.

“Banyak foto-foto aneh dan akhirnya menjadi judul panjang, menarik hingga membuat orang tertawa, awalnya dari situ,” tutur Gatot, dilansir dari Poros Jakarta.

Pada edisi tertentu, tajuk utama dilengkapi anak judul yang ukurannya lebih kecil dan ditempatkan di atas atau bawah judul utama. Judul biasanya berkisar 6 hingga 10 kata, dengan penulisan yang sering kali menggunakan huruf lebih besar, tebal, dan renggang dibanding isi berita.

Gaya visual ini dirancang untuk mencuri perhatian pembaca sejak pandangan pertama, memanfaatkan prinisip psikologi bahwa ukuran dan tipografi memicu respons emosional. Pembaca yang melintas di lapak koran tidak dapat mengabaikan kehadiran Lampu Merah. Desainnya seolah berteriak untuk diperhatikan.

Pada edisi pertama, koran ini dicetak sebanyak 40 ribu eksemplar dengan 12 halaman. Dalam waktu enam bulan pertama, tiras Lampu Merah mengalami lonjakan signifikan menjadi 100 ribu eksemplar.

Pembacanya terus tumbuh hingga 1,3 juta pada tahun 2004. Pencapaian ini terus berlanjut hingga tahun 2005, di mana oplah mencapai puncaknya dengan 225 ribu eksemplar. Sirkulasi iklannya bahkan mencapai 2,3 miliar rupiah per bulan.

Lampu Merah mulai menghadapi tantangan serius pada pertengahan hingga akhir tahun 2000-an. Banyak aduan dan kritikan terhadap cara penyajian beritanya yang terlalu vulgar, melanggar kode etik jurnalistik, dan dianggap mempromosikan pornografi atau kekerasan.

Kemajuan teknologi dan akses internet menyebabkan media sosial lebih mudah mendapatkan berita. Hal yang memicu oplah Lampu Merah turun dari 225 ribu menjadi sekitar 125 ribu eksemplar.

Tantangan ekonomi akhirnya mendorong manajemen untuk melakukan transformasi besar-besaran. Pada 20 Oktober 2008, melalui pengumuman di edisi perdana dengan jenama baru, Lampu Merah secara resmi berganti nama menjadi Lampu Hijau.

Menurut pengantar edisi perdana Lampu Hijau, perubahan ini dimaksudkan untuk mengubah citra koran menjadi sesuatu yang lebih teduh sesuai filosofi warna hijau. Dalam praktiknya, perubahan ini terutama terlihat dari pengurangan materi berkonten seksualitas, elemen yang sebelumnya menjadi ciri khas Lampu Merah.

Sebagai gantinya, Lampu Hijau menambah porsi berita politik dan kriminalitas dengan tetap mempertahankan teknik pengemasan dan penyajian yang serupa dengan era sebelumnya. Namun menurut Sulistyowati (2022), masih terdapat beberapa judul yang mengandung unsur pornografi yang menyalahi kode etik jurnalistik.

Transformasi ke era digital membawa cerita baru. Meski Lampu Hijau terbit dalam format cetak, industri media Indonesia mengalami pergeseran fundamental menuju platform digital.

Elemen Lampu Merah dalam Lanskap Koran Kuning

Selain Lampu Merah, setelah reformasi juga menjamur koran kuning serupa, seperti Pos Metro,Meteor Jogja, Koran Merapi, dan lain-lain. Mereka mengandalkan elemen-elemen jurnalisme lewat tajuk dan pemberitaan yang sensasional, bombastis, dan provokatif, dianggap berhasil di tengah persaingan ketat media.

Elemen-elemen ini, merujuk riset “Negativity drives online news consumption” di National Library of Machine (2023), memanfaatkan emosi manusia seperti rasa penasaran, marah, atau ketakutan.

Koran Lampu Merah pada titik ini hidup dalam dua sisi koran kuning. Di satu sisi, penting untuk diakui bahwa media harus menarik perhatian pembaca agar informasi dapat tersebar.

Sementara di sisi lain, elemen-elemen itu juga sering dikritik karena dapat mendistorsi fakta, merusak kepercayaan publik, dan memperburuk polarisasi sosial. Pada karakter koran kuning, media sering menggunakan judul berita berlebihan, klaim tak terverifikasi, dan dominan pada kasus skandal untuk meningkatkan sirkulasi.

Penelitian juga menemukan elemen itu berlaku dalam ranah digital, di mana konsep clickbait (umpan-klik) berhasil karena tajuk utama yang provokatif untuk memaksimalkan engagement online. Kata-kata negatif dalam judul berita meningkatkan tingkat klik hingga 2,3 persen per kata tambahan, menunjukkan bahwa elemen bombastis dan provokatif secara signifikan memengaruhi konsumsi berita.

Merujuk Bouchra Arbaoui dan kolega (2016), teori koran kuning menekankan bahwa sensasionalisme didorong oleh motif profit dan kemampuan berita menarik emosi pembaca lebih banyak daripada berita netral.

Hal itu diperkuat pernyataan General Manager Lampu Merah seperti dikutip Tuti Widiastuti dalam wawancara penelitiannya, “...sesuai dengan idealisme Lampu Merah, berita-berita yang diturunkan Lampu Merah memang bernuansa seks, atau kriminal seksual, yang pada akhirnya mengarah atau berorientasi pada aspek bisnis...yang penting beda dan laku di pasaran.”

Dalam teori komunikasi modern, sensasionalisme sering dikaitkan dengan agenda-setting theory, di mana media tidak hanya memberitahu apa yang harus dipikirkan pembaca, tapi juga bagaimana merasakannya melalui penyajian yang emosional.

Penelitian lain pada berita viral menunjukkan bahwa bentuk sensasional seperti headline yang menggoda tanpa detail (forward referencing) dan personalisasi cerita lebih umum di media digital, membantu meningkatkan penyebaran konten tapi juga dapat menyesatkan pembaca.

Sensasionalisme sering kali mengorbankan akurasi untuk menarik perhatian, yang pada akhirnya membentuk opini publik yang bias atau memperkuat stereotipe.

Studi di Sage Journals pada 2018 menekankan perlunya keseimbangan dengan etika jurnalistik untuk menghindari dampak negatif seperti menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap media.

Perang Spanyol-AS warsa 1898 merupakan contoh paling ikonik dan sering disebut sebagai puncak koran kuning. Dua koran besar New York, yaitu New York World milik Joseph Pulitzer dan New York Journal milik William Randolph Hearst, bersaing ketat untuk pembaca dengan berita sensasional tentang kekejaman Spanyol di Kuba.

Ketika kapal perang AS USS Maine meledak di pelabuhan Havana pada 15 Februari 1898, kedua koran itu langsung menyalahkan Spanyol tanpa bukti kuat. Tajuk utama seperti “Maine Explosion Caused by Bomb or Torpedo?” atau “Spanish Guilty!” membakar opini publik.

Dampaknya membantu mendorong AS mendeklarasi perang terhadap Spanyol, meski sejarawan modern mengemukakan yellow journalism bukan penyebab utama, tapi mempercepat sentimen anti-Spanyol.

Di Indonesia, koran seperti Pos Kota pada masa Orde Baru dengan trilogi kriminalitas, kekerasan, dan seksualitas, juga kerap memberitakan kehebohan yang berujung hoaks. Sebut saja kisah bayi ajaibnya Cut Zahara Fona yang diliput berbulan-bulan pada akhir 1970-an. Atau kasus berita mistis sensasional tentang hilangnya mendiang Eril, putra Ridwan Kamil, yang melibatkan paranormal tanpa verifikasi.

Portal berita daring seperti Liputan6, yang dulunya menggunakan standar jurnalisme konvensional, mulai mengadopsi elemen-elemen yang mirip dengan gaya Lampu Merah. Postingan di media sosialnya kini sering menampilkan formulasi judul yang sensasional, provokatif, untuk memicu klik. Sebuah ironi mengingat bagaimana gaya koran kuning yang dulunya dianggap murahan kini menjadi strategi di era digital.

Baca juga artikel terkait SURAT KABAR atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi