Menuju konten utama
Mozaik

"Bayi Ajaib" Cut Zahara Fona Berhasil Menipu Istana

Presiden Soeharto, Menteri Luar Negeri Adam Malik, dan masyarakat luas tertipu oleh Cut Zahara Fona, wanita asal Aceh yang mengaku mengandung bayi ajaib.

Header Mozaik Cut Zahara Fona. tirto.id/Fuad

tirto.id - Di satu sudut Aceh, pada akhir 1970-an, muncul seorang wanita berusia 23 tahun bernama Cut Zahara Fona. Ia berasal dari Sigli, Kabupaten Pidie, mengaku hamil dengan janin ajaib yang mampu berbicara, melantunkan azan, dan membaca ayat Al-Qur’an dari dalam kandungan.

Menurut Tamar Djaja dalam Soekarno-Hatta, Persamaan dan Perbedaannya (1981:162), bayi itu bahkan bisa salat dan mengerti situasi yang ada di luar perut ibunya. Sebelumnya, yakni bulan Mei, ia baru saja melahirkan bayi laki-laki. Kini ia hamil lagi dengan klaim yang membuat masyarakat gempar sekaligus terkagum-kagum.

Begini ceritanya. Awalnya pengakuan Cut Zahara Fona hanya dari mulut ke mulut di kampung halamannya, sebelum akhirnya meluas melampaui batas-batas lokal. Rasa ingin tahu dan ketertarikan masyarakat mencapai puncaknya saat ia pindah ke Jakarta. Bersama suaminya, Sjarifuddin, seorang pengusaha, ia mengontrak sebuah rumah di permukiman pinggiran kota.

Masyarakat rela berbondong-bondong antre untuk mendengarkan suara dari kandungannya yang dikenal sebagai "bayi ajaib". Bahkan, ada laporan yang menyebutkan bahwa dalam beberapa kesempatan, orang-orang dimintai bayaran untuk kesempatan mendengarkan "keajaiban" ini.

Sensasi semakin besar ketika radio dan media massa meliputnya, bahkan sampai ke mancanegara. Fotonya ada di mana-mana sampai akhirnya kabar keajaiban itu mampir ke telinga pejabat tinggi pemerintahan dan tokoh agama.

Menurut Mochtar Lubis dalam Tajuk-Tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya (2022:490), tak tanggung-tanggung, Cut Zahara Fona sampai diundang Menteri Luar Negeri Adam Malik dan tiga kali bertemu dengan Presiden Soeharto.

Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan (Sekdalopbang), Bardosono, juga dilaporkan memfasilitasi pertemuan antara Cut Zahara Fona dan presiden. Menurut Lubis, saat dicerca wartawan soal berlebihannya pertemuan hingga tiga kali, Bardosono menjawab bahwa presiden boleh menerima warga negara beberapa kali bila diperlukan, di mana saja, di sawah atau di desa sekalipun.

Sedangkan surat kabar Kanada, Victoria Daily Times dalam tajuk berjudul "Soeharto, Aides Taken in by 'Tape Recorded' Baby" yang terbit pada 3 November 1970, mengabarkan bahwa selain Presiden Soeharto dan Menteri Luar Negeri Adam Malik, Menteri Agama KH. Mohamad Dachlan termasuk di antara mereka yang berbondong-bondong ke rumah kontrakan Cut Zahara Fona untuk mendengar "bayi ajaib" itu mengaji dan berdoa.

Alwi Shahab dalam artikelnya "Lima Presiden Dikibulin", menuliskan waktu Menteri Agama meyakini fenomena itu, sempat mengatakan bahwa Imam Syafi’ie selama tiga tahun berada di kandungan ibunya. Bahkan saat itu ada juga yang meramal "bayi ajaib" jika lahir nanti akan menjadi Imam Mahdi.

Bahkan Buya Hamka sempat mengutarakan pendapatnya dengan mengutip ayat Kun fayakun, meskipun ia ragu dengan suara janin yang dapat membaca Al-Qur’an.

Pada 13 Oktober 1970, tim dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan RSPAD Gatot Subroto dijadwalkan memeriksa Cut Zahara Fona, tetapi ia menolak dengan alasan janin tidak mau diperiksa.

Seminggu kemudian, sebagaimana diberitakan Kompas edisi 26 Oktober 1970, pemeriksaan di RSCM menyatakan tidak ada janin dalam rahimnya.

Cut Zahara lantas menghilang, kabur entah ke mana.

Panggung Sensasi di Balik Layar

Cut Zahara Fona yang berasal dari daerah terpencil di Aceh, tiba-tiba muncul dengan cerita yang menggugah imajinasi publik. Ia dengan lantang menyatakan bahwa dirinya tengah mengandung janin ajaib—sebuah janin yang tak hanya hidup, tetapi juga memiliki kemampuan supranatural untuk menyampaikan pesan-pesan ilahi melalui lisan.

Pemberitaan di New York Times edisi 31 Oktober 1970 berjudul "Collapse of Woman's Hoax Embarrasses Indonesia" menyebutkan bahwa Cut Zahara Fona mampu meyakinkan masyarakat luas dengan mengatakan kandungannya membawa makhluk istimewa yang akan lahir di kota suci Makkah.

Sepanjang bulan Mei hingga Juli 1970, ia dan suaminya berkeliling ke berbagai negara, seperti Jepang, Malaysia, Jerman, dan Pakistan. Di sana mereka mendemonstrasikan "bayi ajaib".

Masih menurut New York Times, Cut Zahara Fona kemudian memamerkan koleksi foto-foto saat para pejabat dan masyarakat mengerubunginya, termasuk ia yang tengah berbaring di atas permadani di rumah Soeharto dengan perut terbuka.

Seiring waktu, keraguan terhadap klaim Cut Zahara Fona mulai muncul. Menurut Tempo, Tien Suharto mulai mencurigainya saat mengundangnya ke Istana Negara.

Sementara para profesional medis seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan dokter-dokter dari rumah sakit terkemuka seperti RSPAD Gatot Soebroto dan RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), secara terbuka mempertanyakan kemungkinan biologis seorang janin berbicara atau melafalkan ayat suci dari dalam rahim.

Surat kabar berbahasa Belanda, Limburg Dagblad edisi 23 Oktober 1970 menuliskan bagaimana dokter kandungan kala itu, Prof. Sarwono, memeriksa Cut Zahara Fona di RSCM yang mengaku bahwa usia kandungan "bayi ajaib" itu sudah 19 bulan. Bahkan koran yang berdiri pada 1918 itu sampai mengutipnya dua kali, 19 bulan!

Penyelidikan polisi akhirnya mengarah pada terungkapnya kebohongan ini, terutama upaya yang dipelopori oleh penegak hukum di Kalimantan Selatan di bawah arahan Brigjen Abdul Hamid Swasono.

Polisi dengan tekun melacak keberadaan Cut Zahara Fona hingga ke Kampung Gambut, sebuah lokasi yang terletak sekitar 14 kilometer dari kota Banjarmasin di Kalimantan Selatan.

"Ketika Cut Zahara Fonna beraksi, maka dia ditangkap dan digeledah. Sebuah tape recorder mini berukuran tidak lebih dari 2 cm x 7 cm x 13 cm, ditemukan di bawah perutnya," tulis Imam Semar dalam bukunya Penipu, Penipu Ulung, Politikus dan Cut Zahara Fonna (2010:436).

Penemuan krusial yang dilakukan oleh petugas investigasi adalah sebuah pemutar kaset, atau tape recorder. Sumber Kompas edisi 18 November 1970 menyebutkan model tape-nya yaitu EL 3302/OOG, ditemukan tersembunyi di balik pakaian Cut Zahara Fona.

Pemutar itu kerap ditempatkan di bawah selendang yang biasanya ia kenakan melilit perut untuk menciptakan ilusi perut hamil. Tape recorder yang ditemukan kemudian disita, bersama dengan kaset-kaset yang ada di dalamnya, yang berisi rekaman suara bayi menangis dan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Hasil penyelidikan itu menyebabkan kemarahan publik. Perasaan terkejut, kecewa, dan marah bercampur aduk di benak publik yang sebelumnya percaya pada keajaiban tersebut.

Beberapa tokoh masyarakat dan agama yang awalnya memberikan komentar hati-hati atau bahkan mengiyakan fenomena "bayi ajaib" itu, merasa malu dan tertipu.

Penyebaran Media dan Literasi Teknologi

Pada tahun 1970-an, saat literasi media masih sangat terbatas dan akses informasi cenderung terpusat, sebuah alat sepele bisa menciptakan narasi yang sangat meyakinkan. Tak jarang, masyarakat yang terjebak dalam keinginan akan keajaiban mengesampingkan imbauan rasional dan analisis kritis.

Para penipu dengan cerdik mengeksploitasi keterbatasan ini untuk menarik perhatian media massa dan pejabat negara, sehingga drama yang mereka ciptakan pun tersebar luas.

Kasus Cut Zahara Fona juga dapat dibandingkan dengan contoh-contoh hoaks dan penipuan publik lainnya dalam sejarah Indonesia, seperti kasus Raja Idrus dan Ratu Markonah pada masa Orde Lama.

Abu Jihan dalam kolomnya berjudul "Markonah" di majalah Panji Masyarakat edisi 28 Februari 1989 menilai orang-orang seperti Markonah atau Cut Zahara Fona merupakan orang-orang yang mempu memanipulasikan kondisi sosio-psikologis masyarakat.

Suatu penipuan yang spektakuler tidak akan sukses bila tidak didukung oleh kondisi tertentu dalam masyarakat. Di tengah situasi politik yang terpusat di tangan Orde Baru, masyarakat dihadapkan pada berbagai isu yang sering kali berbalut sensasionalisme.

“Pendidikan tidak selalu merupakan ‘kata kunci’ obat penangkal penipuan. Karena meningkatnya kepercayaan masyarakat disebabkan oleh legitimasi media massa dan tokoh masyakarat,” sambung Abu Jihan.

Media massa, seperti surat kabar dan radio kala itu menjadi alat penyebaran informasi utama, tetapi belum matang dalam verifikasi fakta. Liputan awal yang kurang kritis membantu hoaks ini menyebar, meskipun media akhirnya membantu mengungkap kebenaran melalui investigasi. Ini menunjukkan peran ganda media dalam memperbesar dan membongkar misinformasi.

Pos Kota, koran yang dikenal dengan investigasi kriminal dan skandal yang sensasional, memainkan peran penting dalam liputan fenomena Cut Zahara Fona. Meski baru terbit pada April 1970 dengan oplah 3.500 eksemplar, namanya kian populer dan oplahnya melambung menjadi 21 ribu eksemplar saat memuat kisah bersambung "bayi ajaib" pada bulan-bulan berikutnya.

Menurut S. Wirosadjono dalam “Pos Kota dan Masalah-masalah Sosial” di buku Pos Kota, 30 Tahun Melayani Pembaca (2000:62-63), terdapat indikasi bahwa meskipun mereka meragukan kebenaran klaim Cut Zahara Fona, Pos Kota terus memperbesar cerita ini karena popularitasnya yang luar biasa, terlebih peningkatan sirkulasi surat kabar yang dihasilkan.

Selain Pos Kota, harian Indonesia Raya dan Kompas juga meliput soal “bayi ajaib”. Bahkan beberapa tahun kemudian, koran Tempo mengangkat kembali kisah tersebut pada tahun 2017 sebagai bagian dari diskusi tentang berita bohong di seluruh rezim presidensial Indonesia.

Setelah kebohongannya terbongkar, Cut Zahara Fona dan suaminya sempat ditangkap dan dipenjara. Tetapi karena tidak ada yang menuntut mereka, tidak jelas lagi nasibnya, sehingga langsung menghilang dari perhatian publik dan tak lagi muncul dalam laporan-laporan media.

Baca juga artikel terkait HOAKS atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi