tirto.id - Fenomena heat dome atau kubah panas tengah menghantam sebagian besar wilayah Amerika Serikat saat ini. Cuaca panas tersebut akan melanda sebagian besar wilayah tengah dan timur AS. Lantas, apa sebenarnya heat dome itu?
Menurut prakiraan cuaca, suhu yang dirasakan masyarakat di beberapa daerah bisa mencapai 46 derajat Celsius, meskipun suhu udara sebenarnya sedikit lebih rendah.
Hal ini terjadi karena kelembapan udara yang sangat tinggi membuat tubuh terasa jauh lebih panas dibandingkan angka yang ditunjukkan termometer.
Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat (NWS) menyebut kondisi ini sebagai cuaca yang berbahaya dan memperkirakan puluhan rekor suhu tertinggi harian dapat terpecahkan. Saat ini, lebih dari 60 juta penduduk berada di bawah peringatan cuaca panas.
Apa Itu Heat Dome?
Mengutip ABC News (1/7/2026), heat dome merupakan kondisi atmosfer ketika aliran jet (jet stream), yaitu arus angin berkecepatan tinggi yang berada di lapisan atas atmosfer, bergeser ke arah utara. Pergeseran ini memungkinkan massa udara panas dan lembap dari wilayah selatan ikut bergerak ke utara.
Pada saat yang sama, terbentuk area bertekanan tinggi yang sangat kuat di atmosfer. Sistem tekanan tinggi inilah yang menjadi inti dari fenomena heat dome karena berfungsi layaknya sebuah kubah yang mengunci udara panas di bawahnya.
Di bawah pengaruh tekanan tinggi tersebut, udara cenderung bergerak turun menuju permukaan bumi. Saat udara turun, udara menjadi lebih padat dan mengalami pemanasan akibat proses kompresi.
Kondisi ini membentuk lapisan atmosfer yang menghambat pelepasan panas ke lapisan udara yang lebih tinggi, sehingga panas terus terakumulasi di dekat permukaan. Akibatnya, suhu udara meningkat secara signifikan dari hari ke hari, sedangkan sinar matahari yang terus menerus menyinari permukaan bumi semakin memperparah kondisi tersebut.
Efek inilah yang menyebabkan wilayah yang berada di bawah heat dome dapat mengalami suhu yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Di Amerika Serikat, fenomena heat dome umumnya mencakup wilayah yang sangat luas, bahkan dapat meliputi sepertiga hingga setengah wilayah negara tersebut.
Dampaknya tidak hanya berupa suhu siang hari yang sangat tinggi, tetapi juga suhu malam yang tetap hangat sehingga tubuh manusia tidak memperoleh waktu yang cukup untuk mendinginkan diri.
Kondisi ini dapat berlangsung selama beberapa hari, bahkan lebih dari satu minggu, sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga sengatan panas (heat stroke), terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, dan individu yang memiliki penyakit kronis.
Namun, ahli meteorologi dari NWS, Bryan Putnam, mengingatkan bahwa panas kali ini tidak hanya berbahaya bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, atau pekerja luar ruangan, tetapi juga dapat berdampak pada siapa saja.
“Bukan hanya orang dewasa yang lebih tua, anak-anak yang lebih muda, atau orang-orang yang menghabiskan banyak waktu di luar ruangan, mungkin sedikit lebih memforsir diri dari biasanya. Ini adalah suhu panas yang benar-benar dapat memengaruhi semua orang, terutama bagi orang-orang yang berada di luar ruangan menjelang akhir pekan liburan.” tuturnya dikutip Al Jazeera (1/7/2026).
Daerah Mana yang Paling Berbahaya Akibat Heat Dome AS?
Gelombang panas paling berbahaya diperkirakan akan melanda wilayah yang membentang dari kawasan Great Lakes hingga Pantai Timur Amerika Serikat. Di sejumlah kota besar, suhu udara diperkirakan mencapai titik tertinggi sepanjang tahun ini.
Kota-kota seperti New York City, Philadelphia, Washington, Baltimore, Chicago, Indianapolis, Detroit, dan St. Louis diprediksi akan mengalami suhu yang sangat tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di wilayah selatan, termasuk Dallas, Little Rock, dan Memphis, sehingga dampak gelombang panas akan dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah Amerika Serikat.
AS Siapkan Berbagai Fasilitas Pendingin untuk Hadapi Heat Dome
Beberapa kota yang terdampak panas ekstrem tersebut juga sedang menjadi tuan rumah berbagai pertandingan Piala Dunia FIFA, sehingga penyelenggara harus melakukan penyesuaian demi menjaga keselamatan para penonton dan peserta.Di Philadelphia, misalnya, jadwal operasional Fan Festival diubah dengan memulai kegiatan lebih siang agar pengunjung tidak terlalu lama berada di luar ruangan pada saat suhu sedang berada di titik tertinggi. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas yang berlebihan.
Menghadapi kondisi cuaca yang semakin ekstrem, sejumlah pemerintah kota di Amerika Serikat mulai menerapkan berbagai langkah darurat.
Pemerintah Kota Chicago mengumumkan pembukaan pusat-pusat pendinginan (cooling centers) yang dapat digunakan masyarakat untuk berlindung dari suhu tinggi. Selain itu, petugas kota juga ditugaskan mengunjungi warga yang tergolong rentan, seperti lansia, penyandang disabilitas, dan mereka yang tinggal sendiri, guna memastikan kondisi kesehatan dan kebutuhan mereka tetap terpenuhi selama gelombang panas berlangsung.
Pemerintah Kota New York di bawah kepemimpinan Wali Kota Zohran Mamdani meluncurkan berbagai fasilitas tambahan, seperti kendaraan pembawa air minum yang ditempatkan di sejumlah titik, serta pos pendinginan sementara yang dilengkapi kipas penyemprot kabut air dan handuk dingin untuk membantu masyarakat menurunkan suhu tubuh ketika beraktivitas di luar ruangan.
Di ibu kota Amerika Serikat, Washington, D.C., suhu udara diperkirakan akan melampaui 38 derajat Celsius mulai Kamis hingga Sabtu. Kondisi ini bertepatan dengan rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli, termasuk pertunjukan kembang api yang menurut penyelenggara akan menjadi yang terbesar yang pernah digelar di kawasan National Mall.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































