Menuju konten utama

Tsunami Vulkanik: Ketika Gunung Api Picu Gelombang Tinggi

Apa saja penyebab tsunami vulkanik dan bagaimana peristiwa ini terjadi?

Tsunami Vulkanik: Ketika Gunung Api Picu Gelombang Tinggi
Ilustrasi Gunung Anak Krakatau. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tsunami biasanya disebabkan oleh pergerakan atau pergeseran lempeng bumi. Namun, ada pula tsunami vulkanik, yakni ketika permukaan air laut meningkat hingga menimbulkan gelombang laut tinggi akibat aktivitas vulkanik gunung api.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) IV mendefinisikan tsunami sebagai gelombang laut dahsyat (gelombang pasang) yang terjadi karena gempa bumi atau letusan gunung api di dasar laut (biasanya terjadi di Jepang dan sekitarnya).

Artinya, peristiwa tsunami vulkanik akibat letusan gunung api di dasar laut atau aktivitas vulkanik gunung api di tengah laut sangat mungkin terjadi. Kendati peristiwa ini disebut biasa terjadi di Jepang, bukan berarti Indonesia tidak berkemungkinan mengalaminya.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 2026 kembali mengingatkan pada potensi bahaya tsunami vulkanik yang pernah terjadi pada 2018. Apa saja penyebab tsunami vulkanik dan bagaimana peristiwa ini terjadi?

Ilustrasi gelombang laut

Ilustrasi gelombang laut. foto/istockphoto

Memahami Tsunami Vulkanik dan Faktor Penyebabnya

Tsunami vulkanik terjadi berkaitan dengan adanya aktivitas vulkanik gunung berapi, misalnya erupsi. Menurut catatan NCEI NOAA, Kira-kira seperempat kematian dalam letusan gunung berapi yang memicu tsunami justru disebabkan oleh tsunami, bukan langsung oleh letusannya.

Beberapa hal yang menjadi penyebab tsunami oleh gunung berapi meliputi runtuhnya seluruh atau sebagian bangunan gunung berapi, penurunan permukaan tanah, ledakan, tanah longsor, longsoran pijar, dan gempa bumi yang menyertai atau mendahului letusan.

Adapun sekitar setengah dari semua tsunami vulkanik ini dihasilkan di kaldera (kawah gunung berapi) atau di kerucut di dalam kaldera. Tak hanya itu, letusan bawah laut juga bisa menyebabkan tsunami.

Studi data tsunami menunjukkan bahwa besarnya tsunami berhubungan langsung dengan bentuk zona patahan, laju perpindahan dan arah gerak dasar laut di daerah sumber (episentral), besarnya perpindahan zona patahan, dan kedalaman air di daerah sumber.

Bagaimana Tsunami Vulkanik Bisa Terjadi?

Mengutip artikel ilmiah yang ditulis François Schindelé, dkk. berjudul A Review of Tsunami Generated by Volcanoes (TGV) Source Mechanism, Modelling, Monitoring and Warning Systems (2024), gelombang tsunami yang dihasilkan oleh gunung berapi pada umumnya lebih pendek daripada gelombang yang dihasilkan oleh gempa bumi.

Gelombang yang lebih pendek melemah lebih cepat, meskipun amplitudo awalnya jauh lebih besar. Karena itulah sebagian besar tsunami vulkanik hanya berdampak pada garis pantai lokal.

Tsunami vulkanik terjadi melalui berbagai mekanisme pembentukannya yang telah dirangkum Schindelé sebagai berikut. Pertama, tanah longsor di daratan. Ketidakstabilan lereng gunung berapi menyebabkan jatuhan tebing, runtuhan tebing, an tanah longsor kecil. Ketika tanah longsor di permukaan itu memasuki air, ia akan menghasilkan gelombang impulsif yang kemudian merambat jauh dari sumbernya

Air di depan tanah longsor tersebut didorong ke depan, dan air di atasnya didorong ke atas. Sementara tanah longsor bergerak lebih cepat daripada kecepatan gelombang air dangkal, gelombang tersebut dilepaskan sebagai gelombang bebas.

Kedua, longsor bawah laut. Longsor jenis ini yang menyebabkan tsunami vulkanik mirip dengan longsor di daratan. Bedanya hanya oleh gunung berapi yang seluruhnya atau sebagian terendam di bawah laut.

Biasanya, tsunami yang dihasilkan oleh longsoran bawah laut menampilkan 3 gelombang berurutan yakni puncak pertama di depan muka longsoran sebagai konsekuensi dari energi yang ditransfer dari longsoran.

Kemudian, gelombang tersebut diikuti oleh palung besar yang merambat dengan kecepatan muka longsoran. Selanjutnya, puncak terakhir yang dihasilkan oleh perlambatan longsoran yang bergerak berlawanan arah dengan longsoran.

Ketiga, aliran piroklastik. Aliran piroklastik merupakan campuran gas dan partikel yang mengalir yang dapat dihasilkan oleh berbagai aspek letusan gunung berapi, termasuk runtuhnya kubah dan runtuhnya gumpalan (kolom erupsi).

Adapun komponen dasar yang padat dari aliran piroklastik merupakan sumber utama pembangkitan tsunami. Ini tak jauh berbeda dengan tanah longsor di permukaan.

Ilustrasi gelombang laut

Ilustrasi gelombang laut. foto/istockphoto

Keempat, keruntuhan kaldera. Keldera terbentuk dari letusan eksplosif besar yang mengakibatkan runtuhnya bagian tengah bangunan gunung berapi. Ketika letusan terjadi di bawah air, runtuhnya kaldera kemudian menyebabkan permukaan air surut yang menghasilkan tsunami. Tsunami vulkanik jenis ini terjadi di lokasi letusan yang menghantam Kepulauan Tonga selama erupsi gunung berapi Hunga tahun 2022.

Kelima, ledakan bawah air. Selama ledakan bawah laut oleh letusan gunung berapi yang ada di dalam perairan, rongga bawah laut terbentuk, tergantung pada kedalaman air dan energi ledakan. Ekspansi, kenaikan, dan keruntuhan gravitasi rongga ini kemudian menciptakan dua gelombang pasang berturut-turut yang diikuti oleh sejumlah gelombang kecil yang merambat secara radial dari sumbernya.

Keenam, keruntuhan kolom erupsi. Kolom erupsi atau gumpalan erupsi merupakan awan vertikal tephra vulkanik yang tersuspensi dalam gas yang dikeluarkan selama erupsi eksplosif. Jika erupsi terjadi di pulau vulkanik kecil atau gunung berapi perairan dangkal, kolom erupsi dapat runtuh langsung ke dalam air.

Kemudian, aliran piroklastik yang dihasilkan dari runtuhan tersebut berada di bawah air. Keruntuhan itu sendiri menjadi sumber utama tsunami.

Ketujuh, gaya atmosfer yang dipengaruhi setelah letusan eksplosif. Gelombang atmosfer yang dihasilkan selama letusan gunung berapi besar bisa mengakibatkan tsunami. Ini ditemui pada letusan Krakatau tahun 1883 dan letusan gunung berapi Hunga di Kepulauan Tonga tahun 2022. Tsunami yang dihasilkan oleh jenis gaya atmosfer ini merupakan satu-satunya tsunami vulkanik yang mungkin memiliki jangkauan global.

Kedelapan, gempa bumi vulkano-tektonik. Di antara jenis gempa bumi yang berkaitan dengan proses vulkanik dan magmatik, hanya gempa bumi vulkano-tektonik dalam frekuensi besar yang dapat melibatkan deformasi tanah yang cukup besar untuk menghasilkan tsunami.

Adapun gempa bumi vulkano-tektonik itu sendiri dihasilkan dari akumulasi tegangan yang disebabkan oleh naiknya magma. Fenomena ini terjadi pada gempa Kalapana tahun 1975 di gunung berapi Kilauea, Hawaii.

Namun, perlu diketahui, terjadinya tsunami vulkanik tidak terbatas pada satu mekanisme pembangkitan semata. Sering kali, beberapa mekanisme dapat terjadi dalam satu letusan untuk menciptakan tsunami gabungan.

Tanah longsor merupakan sumber tsunami vulkanik yang paling sering terjadi. Kemudian, pulau-pulau vulkanik (busur) adalah yang paling rentan terhadap tsunami vulkanik.

Penjelasan Erupsi Anak Krakatau 2026 dan Tsunami Vulkanik

Gunung Anak Krakatau
Letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, wilayah Provinsi Lampung. foto/ANTARA

Letusan Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 lalu melontarkan abu mencapai sekitar 15 kilometer. Laman The Nation (5/9/2026) mengutip laporan Weathernews bahwa Jepang mengonfirmasi hal ini tidak akan berdampak tsunami di Indonesia.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) melaporkan bahwa tidak ada perubahan permukaan laut yang signifikan yang diamati di stasiun pemantauan di Jepang ataupun di luar negeri.

Selaras dengan hal tersebut, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa secara morfologi, kondisi Gunung Anak Krakatau tidak berpotensi mengalami keruntuhan yang dapat memicu tsunami.

Pasalnya pertumbuhan Gunung Anak Krakatau setelah erupsi pada 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Sebagian besar tubuh gunung api pada sisi tertentu telah runtuh pada saat itu.

“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” terang Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, dalam konferensi pers pada Minggu (6/9/2026).

Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga dari hasil pemantauannya melaporkan bahwa tidak ada anomali muka air laut yang mengindikasikan terjadinya tsunami akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Baca juga artikel terkait GUNUNG ANAK KRAKATAU atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - Edusains
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora