Menuju konten utama

Menteri PU Bentuk Satgas Khusus Antisipasi El Nino Godzilla

Pembentukan satgas diperlukan karena dampak kekeringan tidak hanya mengancam irigasi dan sawah, tetapi juga SPAM serta bendungan di berbagai titik.

Menteri PU Bentuk Satgas Khusus Antisipasi El Nino Godzilla
Foto udara pompa air tenaga surya mengairi irigasi lahan pertanian padi di Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/4/2026). Kementerian Pertanian mengoptimalkan pemanfaatan sebanyak 80.158 unit pompa air yang telah disalurkan kepada kelompok tani sebagai langkah antisipasi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino mulai April 2026 guna menjaga ketersediaan air dan produktivitas pertanian nasional. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, akan membentuk satuan tugas (satgas) khusus untuk mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang diprediksi mencapai puncaknya pada Juni-September 2026.

Langkah ini diambil menyusul peringatan berbagai lembaga bahwa El Nino yang akan terjadi tergolong ekstrem atau dijuluki El Nino Godzilla.

"Saya akan bentuk Satgas khusus untuk menghadapi El Nino 2026-2027," ujar Dody dalam konferensi pers di Kementerian PU, Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Menurutnya, pembentukan satgas ini diperlukan karena dampak kekeringan tidak hanya mengancam irigasi dan sawah, tetapi juga Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) serta bendungan di berbagai titik.

"Yang terdampak tidak hanya masalah irigasi dan sawah yang tidak mendapatkan suplai air karena kekeringan tapi juga mungkin di beberapa titik SPAM-SPAM kita juga mungkin akan kekeringan. Bendungan-bendungan juga mungkin akan mengalami hal yang sama," jelasnya.

Dody menegaskan, satgas ini akan melibatkan lintas direktorat jenderal, mulai dari Sumber Daya Air (SDA), Cipta Karya, hingga direktorat lainnya.

Dody mengakui bahwa langkah antisipasi sebetulnya sudah dimulai sejak awal tahun. Direktorat SDA, misalnya, telah melakukan program pengeboran air dalam di sejumlah titik yang selama ini dikenal sebagai daerah rawan kekeringan.

"Di semua titik, tidak cuma tempat-tempat yang terkenal kering misalnya NTT tapi juga di tempat-tempat lain begitu," ucapnya.

Namun, Dody meminta tambahan upaya kepada jajaran SDA. Selain pengeboran air dalam, ia mewajibkan pembangunan jaringan irigasi tersier, khususnya untuk mengairi sawah dan kebun.

Dody menyoroti masih banyaknya sistem pengairan yang mengandalkan aliran gravitasi tanpa jaringan irigasi yang memadai. Akibatnya, air sering kali tidak mencapai sawah-sawah yang berada di lokasi terjauh.

"Beberapa tempat yang saya kunjungi itu airnya dialirkan begitu saja dan berharap dengan sistem gravitasi maka sawah-sawah yang terjauh itu bisa diairi. Tapi itu kan berharap, maksudnya bisa sejam, bisa sehari, bisa juga berhari-hari dari pemakaian airnya menjadi sangat-sangat tidak efektif, efisien," paparnya.

Ia pun menekankan pentingnya membangun irigasi tersier sebagai solusi paling dasar dan efektif.

"Bagaimanapun juga kita semua harus ingat bahwa air itu adalah bahan baku yang tidak akan mudah direproduksi ulang oleh alam, karena saya minta dibangunkan jaringan irigasi tersier, karena tersier itu saya bilang paling gampang lah," ucapnya.

Baca juga artikel terkait FENOMENA EL NINO atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto