tirto.id - Beredar di media sosial Facebook unggahan yang menyebut undur-undur dapat digunakan sebagai obat diabetes dengan cara dibersihkan kemudian dikonsumsi beberapa ekor setiap hari.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Al Hawai” (arsip) pada Selasa, (5/11/2024). Unggahan tersebut memperlihatkan cara menangkap undur-undur dalam pasir.
“Obat diabetes Paling ampuh.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.
Dalam video terdengar suara pria menjelaskan bahwa undur-undur adalah obat ampuh untuk diabetes sambil menunjukkan cara menangkapnya menggunakan sedotan.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh halo guys, ini obat diabetes sangat ampuh namanya undur-undur ini cara mengambilnya dengan cara begini cuma ditiup pakai sedotan, tuh kelihatan tuh tuh makhluknya, kelihatan tuh tuh itu makhluknya.” Begitu narasi diucapkan dalam video.
Sampai artikel ini ditulis pada Jumat (18/9/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 27 ribu tayangan, 45 tanda suka, dan 1 komentar. Dalam kolom komentar, warganet menanyakan cara mengolah undur-undur tersebut dan pengunggah menyebutkan caranya dengan memasukkan ke dalam kapsul atau digerus.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Khairul,” yang menampilkan foto seorang pria dengan menuliskan klaim undur-undur untuk obat diabetes dan yang sudah komplikasi dengan penyakit lain.
“OBAT DIABETES YG SUDAH KOMPLIKASI DENGAN PENYAKIT LAIN : Carilah serangga undur-undur jalan mundur biasanya di dapati di bangunan tua di pondasi rumah, caranya undur-undur dibersihkan dan dimakan beberapa ekor sehari.” Begitu narasi tertulis dalam keterangan unggahan.
Lantas, benarkah undur-undur adalah obat paling ampuh untuk penyakit diabetes dan yang sudah komplikasi dengan penyakit lainnya?

Penelusuran Fakta
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa diabetes terjadi ketika tubuh tidak dapat mengatur glukosa darah (gula darah) dengan benar. Hal ini terjadi ketika tubuh tidak memproduksi cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif.
Insulin adalah hormon yang membantu memindahkan glukosa dari aliran darah ke dalam sel untuk energi. Seiring waktu, kadar glukosa darah yang tinggi dapat merusak jantung, ginjal, mata, saraf, dan pembuluh darah.
Penanganan diabetes bergantung pada jenis diabetes dan dapat mencakup pola makan sehat, aktivitas fisik, pemantauan kadar glukosa, serta obat-obatan, seperti insulin maupun obat penurun gula darah sesuai kondisi pasien.
WHO juga menjelaskan bahwa kadar gula darah tinggi yang berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal, mata, saraf, dan pembuluh darah sehingga pasien diabetes memerlukan pengelolaan penyakit serta pemeriksaan komplikasi secara berkala.
Penelitian terkait Myrmeleon formicarius terdapat dalam laman PubMed. Laman tersebutmenjelaskan terkait salah satu jenis serangga yang dikenal sebagai antlion atau undur-undur, dan kaitannya dengan diabetes.
Penelitian tersebut dilakukan terhadap 24 ekor tikus yang dibuat mengalami diabetes menggunakan streptozotocin, bukan terhadap pasien diabetes manusia.
Dalam penelitian itu, peneliti memberikan ekstrak Myrmeleon formicarius dengan dosis tertentu kepada kelompok tikus dan membandingkannya dengan kelompok kontrol, sehingga penelitian tersebut tidak menguji klaim bahwa manusia cukup memakan beberapa ekor undur-undur setiap hari.
Penelitian tersebut memang menemukan penurunan kadar glukosa darah pada tikus setelah pemberian ekstrak undur-undur, tetapi peneliti juga menyatakan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan senyawa yang berperan dan mekanisme kerjanya.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan pada 2026 menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/302/2026 mengenai Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tatalaksana Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa, sebagai acuan berbasis bukti bagi fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga medis dalam menangani pasien diabetes.
Kementerian Kesehatan RI juga menjelaskan bahwa pengendalian diabetes tipe 2 dapat melibatkan perubahan pola makan, aktivitas fisik, obat antidiabetes, dan pada kondisi tertentu terapi insulin, sedangkan diabetes yang tidak ditangani dengan tepat dapat meningkatkan risiko kerusakan organ dan komplikasi serius.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes menegaskan, klaim bahwa undur-undur merupakan obat diabetes paling ampuh belum terbukti secara ilmiah.
“Ini belum bisa dipastikan kebenarannya karena bukti ilmiahnya tidak ada.” Begitu jelas Wilson.
Penelitian mengenai efek antidiabetes undur-undur sejauh ini masih terbatas pada penelitian praklinis pada hewan, sehingga belum dapat dijadikan bukti bahwa undur-undur efektif atau aman untuk mengobati diabetes pada manusia.
Secara medis, pengobatan diabetes dan komplikasinya harus disesuaikan dengan jenis diabetes, kondisi pasien, serta jenis komplikasi yang dialami. Karena itu, undur-undur tidak dapat disebut sebagai obat diabetes paling ampuh ataupun sebagai pengganti terapi medis yang telah direkomendasikan oleh tenaga kesehatan.
U.S Food and Drug Administration menuliskan bahwa penelitian obat, hasil pada hewan biasanya termasuk tahap pra klinis. Tujuannya antara lain melihat apakah suatu zat memiliki efek biologis dan apakah cukup aman untuk kemudian diteliti pada manusia.
FDA menjelaskan bahwa hasil penelitian hewan memiliki keterbatasan dalam memprediksi respons manusia, sehingga hasil pada hewan saja tidak cukup untuk membuktikan khasiat pada manusia.
Penelitian pada hewan dapat menjadi indikasi awal bahwa suatu bahan berpotensi memiliki efek tertentu, tetapi hasil tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan efektivitas pada manusia. Khasiat dan keamanan untuk mengobati diabetes tetap perlu dibuktikan melalui penelitian pada manusia.
Dengan demikian, adanya penelitian pada hewan tidak cukup untuk membenarkan klaim undur-undur adalah obat diabetes paling ampuh. Diabetes dapat dikelola melalui perubahan pola hidup, aktivitas fisik, obat-obatan atau insulin sesuai jenis, dan kondisi pasien.
Dalam laman Diabetes Journals, secara medis, diabetes ditangani dengan obat yang telah melalui penelitian klinis, seperti metformin, obat golongan SGLT2 inhibitor, GLP-1 receptor agonist, maupun insulin sesuai jenis dan kondisi pasien.
Pemilihan obat tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan nama penyakit, karena dokter mempertimbangkan jenis diabetes, kadar gula/HbA1c, fungsi ginjal, kondisi jantung, obat lain yang sedang digunakan, dan faktor kesehatan lainnya. Pedoman ADA 2026 juga menekankan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Diabetes juga dapat ditangani dengan terapi yang telah terbukti melalui penelitian klinis, seperti insulin dan obat antidiabetes tertentu. Sementara itu, klaim undur-undur sebagai obat diabetes paling ampuh belum memiliki bukti klinis yang memadai pada manusia.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa mengonsumsi beberapa ekor undur-undur setiap hari merupakan obat diabetes yang paling ampuh, termasuk untuk diabetes yang sudah mengalami komplikasi, adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Tidak ada dasar ilmiah yang cukup untuk menyebut undur-undur sebagai obat diabetes paling ampuh.
Memang terdapat penelitian pada tikus yang menunjukkan potensi ekstrak Myrmeleon formicarius dalam menurunkan kadar glukosa darah, tetapi bukti tersebut belum membuktikan keamanan maupun efektivitas mengonsumsi undur-undur secara langsung pada manusia.
Dengan demikian, klaim mengonsumsi undur-undur untuk penyembuhan diabetes dan komplikasinya adalah tidak tepat jika digunakan untuk menggantikan pengobatan diabetes yang telah direkomendasikan tenaga kesehatan, khususnya pada pasien yang sudah mengalami komplikasi.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id


































