Menuju konten utama

Jadi Rujukan Korban Gempa, Puskesmas Palue, Sikka Minim Nakes

Saat ini terdapat 42 tenaga kesehatan yang aktif, sementara kebutuhan ideal puskesmas rawat inap tersebut mencapai sekitar 60 hingga 65 tenaga.

Jadi Rujukan Korban Gempa, Puskesmas Palue, Sikka Minim Nakes
Salah seorang personel TNI yang mengalami luka dirawat di halaman Puskesmas Palue. (FOTO/Istimewa)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Puskesmas Rawat Inap Palue, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, menjadi salah satu tumpuan utama masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, termasuk menangani dan merujuk pasien korban gempa Flores. Di balik peran krusial tersebut, Puskesmas Palue masih menghadapi keterbatasan tenaga kesehatan (nakes).

Saat ini terdapat 42 tenaga kesehatan yang aktif, sementara kebutuhan ideal puskesmas rawat inap tersebut mencapai sekitar 60 hingga 65 tenaga. Yang paling krusial, Puskesmas Rawat Inap Palue tidak memiliki dokter tetap.

Kepala Puskesmas Rawat Inap Palue, Maria Mardiana Ngole, mengatakan tenaga yang tersedia saat ini terdiri dari PNS, PPPK dan PPPK paruh waktu.

"Kalau idealnya itu harus sekitar 60-an," kata Maria, Rabu (16/9/2026) pagi di Puskesmas Palue.

Menurut Maria, kekurangan tenaga paling terasa pada perawat, bidan dan dokter. Kondisi tersebut makin menjadi persoalan serius karena Puskesmas Palue merupakan puskesmas rawat inap yang harus tetap memberikan pelayanan selama 24 jam.

"Jumlah nakes ada 42, sama sekali tidak ada dokter. Jadi kalau dokter dari Kemenkes ini tanggal 20 September pulang, artinya kami di Puskesmas Palue tidak ada dokter," ungkapnya.

Jadi Rujukan Korban Gempa

Keterbatasan tenaga kesehatan itu berlangsung ketika Puskesmas Palue memiliki peran penting dalam penanganan korban gempa Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026.

Selama masa tanggap darurat gempa, sedikitnya 15 pasien yang berkaitan langsung dengan bencana mendapatkan penanganan rawat inap di Puskesmas Palue.

Dari jumlah tersebut, tujuh pasien harus dirujuk ke Maumere karena membutuhkan penanganan lebih lanjut.

"Kalau pasien yang terkait dengan gempa itu, rawat inap itu 15 orang. Dari 15 orang itu, 7 orang dirujuk. Rujukannya 5 orang pakai helikopter, 2 orang pakai rujukan biasa," kata Maria.

Pasien yang dirujuk antara lain mengalami patah tulang, luka pada bagian kepala dan cedera akibat benturan saat gempa.

"Itu karena ada yang patah tulang, ada yang kepalanya bocor, ada yang karena benturan-benturan itu yang harus segera dirujuk ke Maumere untuk penanganan lebih lanjutnya," ujarnya.

Lima pasien dievakuasi menggunakan helikopter, sementara dua pasien lainnya dirujuk melalui jalur biasa.

Selain korban luka akibat gempa, Puskesmas Palue juga menangani pasien dengan penyakit penyerta. Maria menyebut terdapat dua pasien dengan penyakit penyerta yang berasal dari wilayah Rokirole dan Ladolaka.

Puskesmas Palue bukan hanya melayani pasien dari wilayah kerjanya. Fasilitas kesehatan tersebut juga menjadi pusat koordinasi penanganan dan rujukan pasien dari Puskesmas Tuanggeo sebelum pasien dibawa ke Maumere.

"Semua pasien dari Puskesmas Tuanggeo kalau untuk rawat inap dan rujukan terakhirnya ada di sini, baru kami lanjutkan ke Maumere," jelas Maria.

Menurut dia, seluruh pasien yang dirujuk ke Maumere selama penanganan korban gempa berasal dari wilayah kerja Puskesmas Tuanggeo yang terdampak cukup parah.

"Pasien yang dirujuk semua ke Maumere itu semuanya dari Tuanggeo. Semua dari Puskesmas Tuanggeo karena mereka paling terdampak," katanya.

Untuk kebutuhan obat-obatan, Maria memastikan tidak menjadi persoalan selama masa tanggap darurat. Dukungan obat datang dari Dinas Kesehatan dan relawan yang diterjunkan ke wilayah terdampak.

"Kalau obat tidak ada masalah. Karena setiap kali ada kirim relawan dari Dinas, selalu sertakan dengan obat-obatan. Kemudian dari IDI juga selama ini back up kami," ujarnya.

Dokter Hanya Relawan

Kekosongan dokter tetap untuk sementara terbantu dengan kehadiran relawan Kementerian Kesehatan. Pada gelombang ketiga, sebanyak 16 relawan diterjunkan ke wilayah Palue. Mereka terdiri dari dokter, perawat, bidan dan apoteker.

Namun, karena wilayah Tuanggeo mengalami dampak gempa lebih berat, sebagian besar relawan ditempatkan di wilayah tersebut. Puskesmas Palue mendapatkan satu dokter, satu perawat dan satu fisioterapis.

Relawan yang bertugas di Puskesmas Palue sementara menggunakan ruang UGD sebagai tempat menginap. Sementara pelayanan UGD dipindahkan ke tenda. Penugasan relawan gelombang terakhir tersebut dijadwalkan berakhir pada 20 September 2026.

Artinya, apabila tidak ada tenaga pengganti setelah masa penugasan berakhir, Puskesmas Palue akan kembali menghadapi kondisi tanpa dokter.

Maria mengatakan kebutuhan dokter dan tenaga kesehatan di Puskesmas Palue sebenarnya telah diajukan melalui rencana kebutuhan tenaga atau renbut.

Menurut dia, Dinas Kesehatan juga telah melakukan pemetaan kebutuhan tenaga untuk kemudian disalurkan ke fasilitas kesehatan yang mengalami kekurangan.

"Kemarin juga saya sudah sempat tanya dengan Pak Kabid SDK, katanya sudah dipetakan untuk disalurkan tenaganya," katanya.

Namun, hingga kini Puskesmas Palue masih menunggu realisasi penambahan tenaga tersebut.

Perawat dan Bidan Harus Kerja Rangkap

Puskesmas Palue

Pasien korban gempa yang dirawat di halaman Puskesmas Palue usai gempa, Sabtu (15/8/2026). (FOTO/Istimewa)

Keterbatasan tenaga membuat perawat dan bidan di Puskesmas Palue harus menjalankan pekerjaan rangkap. Selain melayani pasien rawat jalan, mereka juga harus siap menangani pasien rawat inap selama 24 jam.

"Jadi double pekerjaannya karena kami kekurangan tenaga," kata Maria.

Menurut dia, status sebagai puskesmas rawat inap mengharuskan tenaga kesehatan tetap bersiaga meskipun jumlah kunjungan pasien tidak selalu tinggi.

"Kadang dilihat bahwa kunjungan jumlah kunjungan kurang, tapi statusnya itu yang mewajibkan kami harus siap sedia 24 jam. Pasien ada tidak ada kami harus standby," jelasnya.

Ketika membutuhkan konsultasi dokter, tenaga kesehatan Puskesmas Palue berkoordinasi dengan dokter di Puskesmas Tuanggeo melalui telepon.

"Kalau ada pasien kami konsulnya ke Tuanggeo," ujarnya.

Dikatakan Maria, di tengah keterbatasan tenaga, pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap berjalan. Tenaga Puskesmas Palue bahkan turun dari dusun ke dusun untuk memberikan pelayanan kepada warga terdampak gempa.

"Kalau mau bilang pelayanan, kami itu turun dari dusun ke dusun," kata Maria.

Bagi Maria, peran Puskesmas Palue dalam penanganan bencana tidak terlepas dari pelayanan yang dilakukan sejak hari pertama gempa.

Selain menangani pasien, tenaga puskesmas juga menjadi bagian penting dalam memastikan pasien dari fasilitas kesehatan lain di Palue mendapatkan rujukan hingga ke Maumere.

"Kami puskesmas rawat inap, puskesmas yang terakhir koordinasikan semua sebelum rujukan, sebelum diantar ke Maumere kan di sini. Di Puskesmas Palue," tegasnya.

Warga Minta Dokter Tetap

Kondisi tersebut menjadi perhatian warga Palue. Wiliam Toka selaku Tokoh Pemuda Palue meminta Pemerintah Kabupaten Sikka menyediakan seorang dokter tetap yang dapat melayani masyarakat di Puskesmas Palue.

Menurut Wiliam, keberadaan dokter tetap dibutuhkan bukan hanya untuk menangani korban bencana, tetapi juga memastikan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah kepulauan tersebut berjalan secara berkelanjutan.

"Kami berharap Pemerintah Kabupaten Sikka bisa menyediakan satu dokter tetap di Puskesmas Palue. Jangan sampai setelah dokter relawan pulang, Palue kembali tidak punya dokter," kata Wiliam.

Ia berharap kebutuhan dokter di Puskesmas Palue menjadi perhatian Pemkab Sikka, terutama karena puskesmas tersebut memiliki fungsi rawat inap dan menjadi salah satu pusat rujukan pasien di Kecamatan Palue.

"Ini bukan hanya soal korban gempa. Warga Palue setiap hari juga membutuhkan pelayanan kesehatan. Karena itu kami minta ada dokter yang menetap dan melayani masyarakat di sini," ujarnya.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Mario Wihelmus PS

tirto.id - Flash News
Kontributor: Mario Wihelmus PS
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama