Menyelami yang Silam Bersama Eiji Yoshikawa

Kontributor: Arif Abdurahman, tirto.id - 7 Sep 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Eiji Yoshikawa merevisi beragam teks sejarah seputar sosok Miyamoto Musashi, lalu menceritakannya kembali untuk pembaca modern.
tirto.id - Jika mencari gambar di Google dengan kata kunci "Musashi", maka akan keluar setidaknya tiga hasil teratas ini: ilustrasi samurai karismatik dari manga Vagabond, karakter anime cewek berambut putih dari Fate/Grand Order, dan sampul buku Eiji Yoshikawa terbitan Gramedia.

Ketiganya adalah bentuk kreasi untuk menghidupkan kembali sosok bersejarah serta membawa yang klasik agar bisa dikonsumsi generasi kiwari. Dan Yoshikawa tak kurang imajinatifnya.

Untuk kasus Musashi, Yoshikawa menyulam manuskrip klasik Go Rin No Sho (The Book of Five Rings) dan merevisi beragam teks sejarah seputar sosok Miyamoto Musashi. Kemudian menceritakannya kembali dengan nada yang lebih mudah diakses oleh pembaca modern.

Dengan penceritaan ulang lewat gaya penulisannya sendiri, ia mampu merampingkan manuskrip sehingga makin mudah diserap. Metode ini juga dilakukan untuk banyak novelnya yang lain.

Manuskrip asli Taiko yang awalnya sepanjang 15 volume, oleh Yoshikawa dipadatkan menjadi hanya dua volume. Yang perlu diperhatikan, jangan berharap pada akurasi sejarahnya.

Meski tidak orisinal, beragam karyanya dalam menceritakan kembali sastra klasik membuatnya mendapatkan penghargaan Cultural Order of Merit pada tahun 1960. Ini adalah prestasi tersendiri karena menjadi penghargaan tertinggi yang dapat diterima oleh seorang seniman di Jepang.

Berkat penghargaan bergengsi ini, banyak orang melihat Eiji Yoshikawa sebagai salah satu novelis sejarah terbaik di Jepang.


Mencari Hidup dalam Teks

Yoshikawa lahir pada 11 Agustus 1892 di Prefektur Kanagawa, di sebuah kota yang sekarang menjadi bagian dari Yokohama, dengan nama asli Hidetsugu Yoshikawa. Merujuk Encyclopedia Nipponica, tidak ada catatan lengkap tentang masa kecilnya atau latar belakang sosial-politik keluarganya.

Namun, kisah awal
hidup Yoshikawa menunjukkan bahwa keluarganya menderita kesulitan finansial akibat bisnis ayahnya gulung tikar. Hal ini menyebabkan Yoshikawa berhenti sekolah pada usia 11 tahun dan mulai bekerja serabutan.

Pada usia 18 tahun, ia bekerja sebagai buruh di dermaga Yokohama. Saat bekerja, ia nyaris tertimpa kecelakaan yang fatal. Kejadian yang mendekatkannya pada ajal ini menjadi titik balik dalam kehidupan Yoshikawa, karena setelahnya ia memutuskan untuk pindah ke Tokyo.

Di ibu kota, ia magang di bengkel pernis emas. Meski pekerjaan ini sama sekali tidak berhubungan dengan menulis, di masa-masa ini Yoshikawa pertama kali mengembangkan minatnya pada teks.

Ketertarikan pertamanya adalah pada puisi pendek tradisional Jepang, haiku. Dia sangat tertarik dengan genre ini, sampai-sampai bergabung dengan komunitas puisi. Karya sastra amatir pertamanya adalah kumpulan haiku yang ia tulis dengan nama samaran Kijiro.

Dengan minat barunya dalam sastra, ia mulai menulis novel. Pada tahun 1914, di usia 22 tahun, ia memenangkan hadiah pertama dalam kontes penulisan novel yang disponsori oleh penerbit Kodansha.

Karyanya berjudul Enoshima Monogatari (The Tale of Enoshima), merujuk kisah pulau yang juga telah menginspirasi seniman lukis kayu Hiroshige dan penyair Basho.

Yoshikawa makin getol bergulat dengan teks. Pekerjaan menulis pertamanya adalah di surat kabar Maiyu Shimbun ketika ia bergabung pada tahun 1921. Ia kemudian menjadi bagian dari tim sastra koran tersebut pada usia 29 tahun. Pada usia 30, Yoshikawa mulai menerbitkan versi serial cerita, dimulai dengan judul Shinran.

Tahun 1923 menjadi momen tak terlupakan dalam kehidupannya. Pada tahun itulah dia menikahi Yasu Akazawa. Namun, pada tahun yang sama, Jepang dilanda Gempa Besar Kanto. Sekali lagi, setelah hampir kehilangan nyawanya, pengalaman ini memperkuat tekadnya untuk berkarier sungguh-sungguh di dunia tulis-menulis.

Yoshikawa bekerja lebih keras. Pada tahun-tahun berikutnya, ia dapat menerbitkan ceritanya sendiri melalui Kodansha, penerbit yang mengadakan kontes menulis yang ia ikuti di masa mudanya.

Yoshikawa mampu menerbitkan beberapa artikelnya di berbagai majalah yang diterbitkan oleh Kodansha. Kelak, penerbit itu menobatkannya sebagai penulis nomor satu mereka. Saat itu, ia menggunakan 19 nama pena yang berbeda sebelum memilih Eiji Yoshikawa.

Kali pertama menggunakan nama pena Eiji Yoshikawa adalah ketika menerbitkan potongan serial dari karyanya Kennan Jonan (Sword Trouble, Woman Trouble).

Nama pena itu melekat di benak pembaca Jepang setelah ia menerbitkan potongan serial Naruto Hicho (Secret Record of Naruto) di surat kabar Osaka Mainichi Shimbun. Karya sastra inilah yang melejitkan karier menulis Yoshikawa, dan membuka jalan bagi karya-karyanya selanjutnya untuk diperhatikan oleh publik.


Hidup dalam Perang dan Kisah Klasik

Pada usia 30-an, Eiji Yoshikawa telah memantapkan namanya berkat kontribusinya di berbagai surat kabar lokal. Namun, dekade ini juga menandai bagian kehidupan pribadinya yang penuh gejolak dan berlangsung selama beberapa tahun.

Selama periode ini, tulisannya mulai memiliki nada yang lebih gelap. Karyanya menjadi introspeksi sebagai cerminan dari masalah yang ia alami, seperti pernikahannya dengan Yasu Akazawa yang amburadul.

Meski kehidupan pribadinya bermasalah, Yoshikawa terus menulis. Ia membuat terobosan besar pada tahun 1935 ketika menerbitkan serial berjudul Musashi.

Kisah Musashi berkisar pada samurai paling terkenal di Jepang feodal bernama Miyamoto Musashi, dengan teknik dua pedang legendaris dan filosofi hidupnya. Karya ini murni sastra, bukan biografi.

Musashi diterbitkan di Asahi Shimbun, dan namanya dipahat sebagai legenda dalam genre fiksi sejarah dan pertualangan, sebut Japan Times dalam artikel "'Musashi: An Epic Novel of the Samurai Era' Encapsulates Feudal Japan".

Infografik Mozaik Eiji Yoshikawa
Infografik Mozaik Eiji Yoshikawa. tirto.id/Ecun


Selain masalah dalam kehidupan pribadinhya, Jepang juga mengalami tahun-tahun yang penuh gejolak di awal abad kedua puluh. Tahun 1937 menandai dimulainya perang Jepang dengan Tiongkok. Ini mengubah arah penulisan Yoshikawa untuk sementara waktu, karena surat kabar Asahi Shimbun mengirimnya sebagai koresponden lapangan untuk menulis tentang jalannya perang.

Saat ditempatkan sebagai koresponden lapangan, Yoshikawa menceraikan istri pertamanya, kemudian menikahi Fumiko Ikedo. Meski fokus mendokumentasikan perang Tiongkok-Jepang, ia masih terus menulis novel.

Saat berada di lapangan, Yoshikawa mulai membaca literatur Cina. Di antara karyanya yang terkenal selama periode ini adalah serial yang menceritakan kembali dua klasik, Taiko ki (Taiko: An Epic Novel of War and Glory in Feudal Japan) dan Sangoku shi (Romance of the Three Kingdoms).


Menjadi koresponden selama perang Tiongkok-Jepang dan mengalami Perang Dunia II membuat Yoshikawa lelah. Ketika perang berakhir, ia memutuskan untuk berhenti menulis untuk sementara waktu. Selama masa pensiunnya ia menetap di Yoshino, menikmati masa yang tenang di pinggiran Tokyo.

Setelah dua tahun istirahat, ia kembali menulis pada tahun 1947 dan mulai menerbitkan karyanya lagi di mingguan Asahi.

Karya pascaperangnya tetap populer di dunia sastra Jepang, termasuk Shin Heike monogatari (The Heike Story: A Modern Translation of the Classic Tale of Love and War), Shihon Taihei ki (A Private Record of the Pacific War) dan Shin Suikoden (New Tales from the Water Margin).

Lima belas tahun setelah kembali menulis, Yoshikawa didiagnosis menderita kanker. Ia meninggal pada 7 September 1962 dalam usia 70 tahun. Ia mewariskan belasan judul karya fiksi sejarah yang akan menginspirasi generasi berikutnya, serta diadaptasi ke ragam medium.

Beberapa dekade kemudian, Takehiko Inoue memulai manga Vagabond pada 1998 karena bertanya-tanya seperti apa karakternya ketika dia membaca Musashi. Kodansha yang kini mungkin lebih dikenal sebagai penerbit manga, merilis serial Vagabond yang akhirnya sukses secara komersial dan kritis, menghidupkan kembali Musashi, sekaligus sebuah penghormatan pada Eiji Yoshikawa.

Baca juga artikel terkait PENULIS NOVEL atau tulisan menarik lainnya Arif Abdurahman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Arif Abdurahman
Penulis: Arif Abdurahman
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight