tirto.id - Banjir yang melanda Bangkok, Thailand, setelah hujan deras selama beberapa hari tidak hanya mengganggu aktivitas dan mobilitas warga, tetapi juga memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan pangan.
Sejumlah warga berbondong-bondong melakukan panic buying untuk mengantisipasi kemungkinan kesulitan mendapatkan pasokan selama banjir.
Fenomena pembelian dalam jumlah besar terlihat di sejumlah gerai toserba termasuk 7-Eleven. Warga dilaporkan membeli makanan siap santap, makanan instan, minuman, telur, beras, roti, dan makanan ringan. Kondisi tersebut membuat beberapa rak di toko serba ada kosong untuk sementara.
Pemerintah Thailand kemudian mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying serta memperingatkan pelaku usaha untuk tidak menimbun atau menaikkan harga secara berlebihan.
Banjir di Bangkok Terjadi Sejak 24 September
Hujan deras mengguyur ibu kota Thailand selama beberapa hari sejak Kamis, 24 September 2026, menyebabkan air menggenangi rumah, jalan, dan berbagai fasilitas warga. Kondisi semakin parah karena sejumlah wilayah masih menunggu proses drainase, sedangkan jaringan kanal di Bangkok juga masih memiliki muka air yang tinggi.
Situasi tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari warga, memicu kemacetan lalu lintas, serta membuat sebagian masyarakat harus meninggalkan rumah dan mengungsi ke tempat penampungan.
Berdasarkan data Bangkok Metropolitan Administration (BMA), sekitar 52.000 rumah tangga terdampak banjir dan hampir 4.900 orang telah dievakuasi ke tempat penampungan.
Badan cuaca setempat mencatat curah hujan di sejumlah wilayah kota mencapai lebih dari 330 milimeter dalam periode 24-27 September. Thailand sebenarnya terbiasa menghadapi hujan karena September merupakan puncak musim hujan. Namun, sejumlah warga Bangkok menilai kondisi banjir pada 2026 terasa lebih parah dibandingkan biasanya.
Di wilayah Bangkok bagian timur, kondisi banjir juga menyulitkan warga yang hendak beraktivitas di luar rumah. Para pejalan kaki terlihat mengenakan jas hujan plastik dan menerobos genangan air berwarna keruh.
Di sejumlah lokasi, genangan bahkan mencapai lutut, termasuk di area parkir sebuah toko kelontong. Warga yang terdampak berusaha membawa barang-barang mereka dengan menggunakan wadah plastik yang diapungkan di atas air.
Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt juga memperingatkan warga agar menghindari perjalanan yang tidak diperlukan karena sejumlah ruas jalan masih terendam banjir.
Dampak banjir juga merembet ke sektor pendidikan. BMA menyatakan ratusan sekolah di Bangkok akan ditutup pada 28 September. Penutupan tersebut berlangsung ketika sejumlah ruas jalan masih terendam dan mobilitas warga terganggu. Pemerintah kota juga harus mengatur penanganan darurat serta bantuan bagi masyarakat yang terdampak banjir di seluruh wilayah ibu kota.
50 Distrik di Bangkok Ditetapkan Darurat Bencana
Banjir menyebabkan warga mulai meningkatkan pembelian makanan dan kebutuhan sehari-hari karena khawatir kesulitan memperoleh pasokan. Sejumlah toko serba ada dan toko di lingkungan permukiman mengalami kekosongan beberapa jenis barang selama akhir pekan.
Berdasarkan laporan Thansettakij, warga terlihat membeli makanan siap santap, makanan segar maupun kering, minuman, susu segar, minuman yoghurt, minuman ringan, roti, makanan ringan, telur, dan beras di gerai 7-Eleven. Beberapa rak bahkan kosong sehingga pelanggan yang datang belakangan tidak dapat menemukan produk tertentu.
Seorang karyawan salah satu gerai 7-Eleven mengatakan jumlah pelanggan meningkat tajam sejak Jumat (25/9) malam. Toko tersebut kemudian memesan tambahan pasokan karena stok beberapa barang mulai berkurang.
Pada Sabtu pagi, meskipun hujan masih turun, pelanggan tetap berdatangan dalam jumlah besar. Sejumlah produk untuk sementara tidak tersedia karena toko masih menunggu pengiriman tambahan yang dijadwalkan datang pada sore dan malam hari.
Menurut karyawan tersebut, banyak warga membeli makanan siap santap, makanan instan, minuman, telur, dan beras karena khawatir banjir menghambat aktivitas dan membuat mereka kekurangan makanan.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah pemerintah Bangkok memperluas status wilayah terdampak bencana dari sebelumnya hanya mencakup distrik Nong Chok, Suan Luang, dan Khan Na Yao menjadi seluruh 50 distrik di ibu kota.
Dikutip The Nation (26/9/2026), Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt, dalam kapasitasnya sebagai direktur komando pencegahan dan mitigasi bencana Bangkok, menandatangani perintah tersebut.
Penetapan itu berlaku sejak 25 September 2026 dan dilakukan setelah hujan deras yang berlangsung terus-menerus menyebabkan banjir, kemacetan berat, gangguan aktivitas masyarakat, serta risiko terhadap keselamatan dan properti.
Dengan status seluruh Bangkok sebagai wilayah terdampak bencana, pemerintah dan otoritas setempat dapat melakukan bantuan, penanganan keadaan darurat, serta koordinasi respons bencana berdasarkan Undang-Undang Pencegahan dan Mitigasi Bencana Thailand tahun 2007.
Untuk mencegah kelangkaan dan lonjakan harga, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan Suphajee Suthumpun menginstruksikan lembaga terkait dan kantor perdagangan provinsi di seluruh Thailand untuk memantau ketersediaan serta harga barang kebutuhan pokok.
Kementerian berkoordinasi dengan pedagang grosir dan pengecer untuk mempercepat pengiriman dan mengisi kembali stok di wilayah yang terdampak banjir. Petugas juga diminta memantau gangguan transportasi di kawasan bencana yang dapat menghambat distribusi barang.
Pemerintah kemudian mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan karena panik. Pelaku usaha juga diperingatkan agar tidak melakukan penimbunan maupun menaikkan harga secara tidak wajar.
Konsumen yang menemukan dugaan kenaikan harga berlebihan, penimbunan barang, atau barang yang tidak mencantumkan harga dapat melaporkannya melalui hotline Department of Internal Trade di nomor 1569 atau kantor perdagangan provinsi untuk diperiksa dan ditindak sesuai ketentuan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































