tirto.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 1.527 kasus influenza positif di Indonesia hingga minggu ke-38 atau akhir September 2026. Angka tersebut berasal dari pemeriksaan 8.757 spesimen melalui surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI).
Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan positivity rate influenza pada minggu ke-38 mencapai 56 persen. Kenaikan kasus tersebut sesuai dengan pola musiman influenza yang biasanya meningkat mulai September hingga akhir tahun.
“Pada minggu ke-38 di bulan September ini, terjadi peningkatan positivity rate menjadi 56%,” kata Andi dalam konferensi pers melalui zoom, Senin (28/9/2026).
Meski positivity rate meningkat, Andi mengatakan aktivitas influenza di Indonesia belum mencapai tingkat tinggi atau extraordinary.
Berdasarkan surveilans SARI di rumah sakit, aktivitas influenza masih berada pada tingkat rendah. Sementara itu, surveilans ILI di puskesmas dan sentinel Balai Besar Karantina Kesehatan berada pada tingkat moderat.
“Jadi, ini berbicara mengenai tingkat aktivitas influenza. Untuk SARI, tingkat aktivitas influenza berada pada area kuning atau rendah. Sementara itu, untuk ILI, tingkat aktivitasnya sedang atau moderat,” ujarnya.
Andi menjelaskan pola kenaikan influenza terjadi secara musiman. Berdasarkan pemantauan selama 10 tahun terakhir, kasus biasanya meningkat sekitar September hingga akhir tahun. Puncak aktivitas influenza secara historis terjadi sekitar minggu ke-39 atau ke-40.
“Untuk kenaikan kasus influenza, kalau kita lihat dari yang tadi sudah saya sampaikan, polanya musiman dan cenderung mulai meningkat pada September. Kasusnya akan cukup tinggi sampai akhir tahun, kemudian turun kembali,” kata Andi.
Dari 1.527 kasus positif pada 2026, influenza A subtipe H1N1pdm09 menjadi jenis yang paling banyak ditemukan. Kasus kemudian diikuti influenza A H3N2 dan influenza B Victoria.
Jumlah tersebut masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, Kemenkes mencatat 2.790 kasus influenza positif dari 11.805 spesimen yang diperiksa atau sekitar 26 persen. Sementara pada 2026, terdapat 1.527 kasus positif dari 8.757 spesimen atau sekitar 17 persen hingga minggu ke-38.
DKI Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah kasus influenza terbanyak. Berdasarkan jumlah kasus dan proporsi positivity rate, kasus tertinggi tercatat di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Kemenkes juga mempercepat distribusi obat antivirus Oseltamivir menyusul meningkatnya perhatian masyarakat terhadap influenza. Distribusi dilakukan berdasarkan jumlah kasus dan kebutuhan pasien di fasilitas kesehatan.
Dirjen Farmalkes Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia, mengatakan Oseltamivir telah didistribusikan ke sekitar 196 rumah sakit.
“Saat ini, distribusi sudah dilakukan ke sekitar 196 rumah sakit dan akan terus dilakukan berdasarkan kebutuhan yang masuk kepada kami,” tutur Lucia.
Pemerintah juga melakukan pengadaan Oseltamivir dari produksi dalam negeri dan impor. Langkah tersebut dilakukan untuk mengatasi keterlambatan produsen dalam negeri yang belum dapat memenuhi kebutuhan.
Lucia meminta masyarakat tidak melakukan pembelian Oseltamivir secara berlebihan. Menurutnya, sebagian besar kasus influenza tanpa tanda bahaya dapat ditangani dengan istirahat yang cukup dan menjaga asupan cairan.
“Pertama, masyarakat tidak perlu melakukan panic buying,” ujarnya.
Lucia menegaskan Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau dikonsumsi untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis.
“Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis,” kata Lucia.
Oseltamivir diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, terutama kepada pasien influenza terkonfirmasi yang mengalami kondisi berat dan dirawat di rumah sakit.
Obat tersebut juga dapat diberikan kepada pasien dengan komorbid atau kelompok berisiko mengalami komplikasi, seperti anak di bawah dua tahun, lansia di atas 65 tahun, dan ibu hamil.
Kemenkes mengingatkan masyarakat tidak membeli atau menyimpan Oseltamivir tanpa resep dan kebutuhan medis yang ditentukan dokter. Penggunaan obat yang tidak sesuai indikasi juga dapat meningkatkan risiko munculnya virus influenza yang kurang sensitif atau resisten terhadap antivirus.
Ahli Farmakologi, Dewi Selvina Rosdiana, mengatakan Oseltamivir dapat memperpendek durasi penyakit pada anak yang mengalami influenza tanpa komplikasi. Namun, manfaat tersebut rata-rata kurang dari satu hari.
Dewi merujuk pada hasil studi meta-analisis terhadap lebih dari 2.500 anak berusia di bawah 18 tahun yang mengalami influenza tanpa komplikasi dan menjalani perawatan rawat jalan.
Menurut Dewi, manfaat Oseltamivir lebih terlihat ketika obat diberikan kurang dari 24 jam setelah gejala muncul, terutama pada anak di bawah enam tahun dan pasien yang infeksinya terbukti disebabkan oleh virus influenza melalui pemeriksaan laboratorium.
“Namun, pemberian Oseltamivir pada kelompok anak dengan influenza tanpa komplikasi yang dirawat jalan itu hanya mengurangi durasi sakit rata-rata sekitar 18 jam, atau kurang dari satu hari,” kata Dewi.
Dewi mengatakan bukti yang ada belum cukup kuat untuk menunjukkan manfaat klinis yang bermakna dari Oseltamivir dalam memperpendek lama sakit pada anak dengan influenza tanpa komplikasi.
“Berdasarkan bukti yang ada saat ini, studi meta-analisis tersebut dilakukan pada lebih dari 2.500 pasien anak yang mengalami influenza tanpa komplikasi dan dirawat jalan. Belum terdapat bukti yang cukup kuat bahwa Oseltamivir memberikan manfaat klinis yang bermakna dalam memperpendek lama sakit,” ujarnya.
Selain itu, penelitian yang dirujuk Dewi menunjukkan anak yang mendapatkan Oseltamivir memiliki risiko mengalami efek samping muntah 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan anak yang mendapatkan plasebo.
Karena itu, Dewi meminta penggunaan Oseltamivir pada anak disesuaikan dengan kondisi pasien dan berdasarkan pertimbangan dokter.
“Penggunaan Oseltamivir disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan harus berdasarkan pertimbangan dokter,” katanya.
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































