tirto.id - Menarik selimut rapat-rapat saat fajar, lalu buru-buru menyalakan pendingin ruangan menjelang tengah hari. Pemandangan kontras ini menjadi rutinitas baru bagi masyarakat di berbagai daerah dalam beberapa pekan terakhir.
Cuaca seperti sedang bermain ekstrem; malam hingga pagi hari menyergap dengan udara dingin yang menusuk tulang, tetapi siang hari berubah menjadi panggung terik yang membakar kulit. Fenomena ini tak pelak memicu tanya di kalangan publik: ada apa dengan cuaca?
Dari Selimut Tebal ke Mandi Keringat
Cuaca malam hingga fajar yang lebih dingin dari biasanya membuat Rini (31) tidur lebih lelap. Rasa nyaman di balik selimut bahkan beberapa kali membuatnya hampir untuk bekerja.
“Nggak kaya gini, Bekasi biasanya panas kan,” katanya bercerita kepada Tirto, Sabtu (18/7/2026).
Rini ternyata tidak seorang diri. Pengalaman serupa rupanya juga dibagikan oleh warganet di berbagai platform media sosial. Misalnya, salah seorang akun di Threads yang menyebut pagi hari di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya meski siang hari tetap panas.
Unggahan itu mendapat respons dari akun pengguna Threads lain di daerah yang berbeda. Komentar dijejali jawaban serupa, mengungkapkan pola cuaca yang sama di tempatnya berada. Yakni merasa kedinginan saat malam, tapi menjelang siang kegerahan bermandikan keringat.
Ketika 'Bediding' dan Monsun Australia Menyapa
Melansir data BMKG, suhu di Bekasi dan sekitarnya pada Jumat (17/7/2026) malam hingga pagi berkisar antara 25 hingga 28 derajat celcius. Sementara tingkat kelembapan berada pada angka 75 persen dengan kecepatan angin 6 km/jam.
Fenomena suhu udara seperti ini sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan musim kemarau. Hal ini disebut juga sebagai bediding, yaitu kondisi ketika suhu udara terasa lebih dingin dari biasanya, terutama di malam hingga pagi hari terlebih di wilayah pegunungan dan dataran tinggi.
Pada musim kemarau, langit yang cendung cerah dan minim awan membuat panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, suhu udara menurun dan udara terasa lebih sejuk bahkan dingin.
Periode puncak musim kemarau ditandai dengan pergerakan angin dari arah timur, yang berasal dari Benua Australia. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau dikenal dengan istilah Monsun Dingin Australia.
Menurut analisis BMKG, Angin Monsun Australia ini bertiup menuju Benua Asia melewati Wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih rendah (dingin). Adapun angin ini bersifat kering dan sedikit membawa uap air, apalagi pada malam hari di saat suhu mencapai titik minimumnya.
Akibatnya, suhu udara di beberapa wilayah di Indonesia terutama Wilayah Bagian Selatan Khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara) terasa lebih dingin.
Selain Monsun Australia, BMKG menyebut fenomena tersebut juga disebabkan oleh faktor posisi geografis, kondisi topografis, ketinggian wilayah, dan kelembaban udara yg relatif kering. Terlebih, pada periode ini posisi sudut datang dari sinar matahari sedang berada di posisi terjauh dari Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia bagian Selatan Khatulistiwa.
Hal tersebut juga yang menyebabkan langit menjadi cerah sepanjang hari. Kurangnya tutupan awan pada malam hari menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi terpancar ke atmosfer tanpa ada hambatan, mengakibatkan penurunan suhu yang signifikan. Selain itu, angin yang tenang di malam hari menghambat pencampuran udara, sehingga udara dingin terperangkap di permukaan bumi.
“Daerah dataran tinggi atau pegunungan cenderung lebih dingin karena tekanan udara dan kelembaban yang lebih rendah,” kata Guswanto yang saat itu menjabat sebagai Deputi Bidang Meteorologi BMKG.
Namun, kondisi langit yang sama justru menimbulkan efek sebaliknya pada siang hari. Berkurangnya tutupan awan membuat radiasi Matahari dapat mencapai permukaan bumi tanpa banyak terhalang dan proses pemanasan berlangsung lebih maksimal. Akibatnya, suhu udara pada siang hari meningkat dan terasa lebih terik dibanding biasanya.
Ancaman Kemarau Panjang yang Mengintai 2026
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari normal, seiring peluang munculnya El Niño yang meningkat dan tetap aktifnya Monsun Australia hingga akhir 2026. Jika dibandingkan dengan normalnya, durasi musim kemarau di Indonesia juga diprediksi lebih panjang dari normalnya mencakup 48,77% luas daratan Indonesia.
Pencatatan meteorologis BMKG menunjukkan suhu maksimum harian di Indonesia pada 16 Juli - 17 Juli berada pada rentang 34,8°C hingga 36,2°C. Suhu tertinggi tercatat di Stasiun Meteorologi Mutiara Sis-Al Jufri, Palu.
Dalam periode kemarau suasana gerah adalah fenomena yang biasa dihadapi. Secara meteorologis hal ini disebabkan suhu udara yang panas disertai dengan kelembapan udara yang tinggi. Wilayah perkotaan terutama di kota besar umumnya memiliki suhu udara yang lebih panas dibandingkan bukan wilayah perkotaan.
Perangkap Panas di Balik Beton Kota
Fenomena meningkatnya suhu pada wilayah perkotaan dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI). Fenomena ini dipicu oleh dominasi permukaan beton dan aspal yang menyerap serta menyimpan panas, minimnya ruang hijau, hingga bentuk bangunan perkotaan yang menghambat pelepasan panas. Perubahan tutupan lahan menjadi kawasan terbangun juga memperkuat efek tersebut.
Peningkatan suhu yang terkait dengan fenomena UHI perkotaan bervariasi tergantung pada tutupan lahan. Fenomena ini dipicu oleh beberapa faktor, diantaranya struktur geometris kota yang rumit, sedikitnya vegetasi, hingga efek rumah kaca. Selain itu, perubahan tutupan lahan yang menjadi lahan terbangun juga memperparah terjadinya UHI.
Bukan Sekadar Gerah, Ini Krisis Nyata
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa perubahan iklim kini bukan lagi semata persoalan lingkungan, melainkan telah berkembang menjadi krisis kesehatan masyarakat.
Suhu udara yang terus meningkat, terutama di kawasan perkotaan, berdampak pada meningkatnya risiko penyakit akibat panas, memperburuk kualitas udara, mengganggu kesehatan mental, hingga menambah beban sistem layanan kesehatan.
Salah satu rekomendasi penting yang disampaikan komisi bentukan WHO adalah agar perubahan iklim diakui sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Langkah tersebut dinilai penting agar negara-negara memperlakukan krisis iklim sebagai ancaman kesehatan yang mendesak, bukan sekadar persoalan lingkungan.
Namun, suhu tinggi bukan sekadar persoalan rasa gerah. Sebuah discussion brief yang diterbitkan lembaga riset lingkungan adelphi global mengingatkan bahwa panas ekstrem kini telah berkembang menjadi isu kesehatan sekaligus ekonomi. Perubahan iklim membuat periode suhu tinggi semakin sering terjadi, sementara dampaknya tidak berhenti pada risiko dehidrasi atau sengatan panas, tetapi juga menggerus pendapatan masyarakat dan meningkatkan biaya hidup.
Paparan suhu tinggi membuat pekerja memperlambat ritme kerja, memperpanjang waktu istirahat, atau mengurangi jam kerja demi menghindari gangguan kesehatan. Bagi pekerja harian yang dibayar berdasarkan jam kerja atau jumlah pekerjaan yang diselesaikan, setiap jam yang hilang berarti berkurangnya pendapatan.
Di sisi lain, suhu tinggi juga meningkatkan biaya hidup. Gangguan kesehatan akibat panas membutuhkan perawatan medis yang tidak selalu sepenuhnya ditanggung negara. Semakin sering masyarakat mengalami penyakit terkait panas, semakin besar pula beban pengeluaran rumah tangga untuk layanan kesehatan.
“Negara-negara yang diklasifikasikan sebagai ekonomi berpenghasilan menengah ke atas seperti Indonesia tau Afrika Selatan melaporkan tingkat kemiskinan yang tinggi (dengan 68% penduduk berpenghasilan di bawah 8,30 USD per hari) dengan kehilangan hari kerja akibat panas yang menambah risiko jatuh lebih jauh di belakang garis kemiskinan,” tulis riset tersebut.
Dalam analisis Adelphi Global terhadap sejumlah negara, Indonesia termasuk negara yang menghadapi risiko kehilangan hari kerja tertinggi akibat panas, terutama pada sektor yang banyak mengandalkan aktivitas fisik di luar ruangan seperti pertanian dan konstruksi.
Risiko tersebut dinilai semakin besar karena sebagian pekerja masih berada di sektor informal sehingga kehilangan jam kerja secara langsung berarti kehilangan pendapatan.
Adapun respons terhadap panas ekstrem tidak bisa hanya mengandalkan peringatan cuaca. Pemerintah perlu mengintegrasikan kebijakan adaptasi iklim, perlindungan kesehatan, dan ketenagakerjaan agar masyarakat, terutama kelompok rentan, tidak menanggung beban ekonomi yang semakin besar akibat suhu tinggi.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































