Menuju konten utama

Jerit Warga yang Sakit Imbas Pengolahan Sampah RDF Plant Rorotan

Warga mengaku mengalami masalah penyakit setiap kali bau sampah yang dikelola oleh RDF Plant Rorotan mengarah ke perumahan mereka.

Jerit Warga yang Sakit Imbas Pengolahan Sampah RDF Plant Rorotan
Foto udara kondisi fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan di Jakarta Utara, Selasa (4/11/2025). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ferry (38), warga Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, tidak bisa menahan emosi. Perasaannya masih campur aduk saat dimintai tanggapan soal keberadaan Refused Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan. Maklum. Anak bungsunya, KPS (nama diinisialkan atas permintaan narasumber), sakit-sakitan akibat bau yang dikeluarkan fasilitas pengolah sampah yang mulai dibangun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI) pada 2024 itu.

"Marah pasti sebagai orangtua. Sedih juga, marah juga. Kesal, begitu lho. Anak saya sempat terpapar juga. Dari daftar belasan nama anak yang ke puskesmas itu, anak saya juga masuk," kata Ferry ditemui di kediamannya, Rabu (8/7/2026).

Penyakit yang dialami anak Ferry itu bukan hal sepele. Mata anak perempuan yang berusia sembilan tahun itu memerah, juga dipenuhi kotoran. Hidungnya terus mengeluarkan ingus, disertai batuk yang tak kunjung reda.

Ferry menyatakan, apa yang dialami anaknya juga dialami anak-anak lain di sekitar kediamannya. Dia pun menyebut ada anak yang sakit lebih lama daripada anaknya. Semua dalam keadaan sama, mata merah, hidung meler, dan belekan.

Pria yang cukup lama tinggal di Rorotan itu mengaku penyakit selalu muncul setiap RDF Plant Rorotan beroperasi. Setiap kali beroperasi, warga langsung menolak. Sebab, tiap kali beroperasi menimbulkan bau, lalu berujung muncul penyakit, terutama bagi anak-anak.

Seingat Ferry, penyakit itu pun disebut muncul intens ketika RDF Plant Rorotan beroperasi maksimal pada Oktober-November 2025. Ferry mengaku momen itu menjadi kali pertama ia melihat kondisi putrinya yang batuk-batuk, iritasi mata merah, hingga hidung beler.

"Saya pun baru pertama melihat anak saya sakit seperti matanya merah terus, hidungnya meler terus belekan. Karena baunya sendiri pun seperti bercampur bau kimia," kata dia.

Ferry Adrianto

Ferry Adrianto, warga kompleks di Rorotan, Jakarta Utara, yang terimbas bau proyek RDF Plant Rorotan, ditemui pada Rabu (8/7/2026). tirto.id/M Naufal

Menurut dia, bau yang muncul bukan sekadar bau sampah yang lewat sesaat. Intensitasnya jauh lebih lama dan bergantung pada arah angin. Ketika angin mengarah ke permukiman, aroma menyengat itu dapat bertahan berkali-kali dalam sehari.

"Iya, seperti kalau ada mobil sampah lewat, tapi dengan durasi yang lebih sering dalam satu hari. Tidak menentu karena arah angin. Kadang kalau arah anginnya tepat. ya kita kebagian baunya. Hampir setiap hari dalam sebulan itu," katanya.

Memasuki awal 2026, kondisi itu kembali terulang. Ferry mengingat, bau sempat tidak muncul sekitar satu bulan, tetapi kemudian kembali tercium pada Januari-Februari 2026.

Belakangan ini, ia sedang bekerja di luar kota sehingga tidak terlalu mengetahui apakah RDF Plant itu masih mengeluarkan bau menyengat. Namun, tetangga Ferry mengaku masih mencium bau menyengat pada Rabu ini.

Kekesalan Memuncak

Pada awalnya, kata Ferry, warga berupaya menyelesaikan persoalan bau pengolahan RDF Plant Rorotan dengan menutup pintu. Semua warga masuk rumah, termasuk anak-anak, agar tidak mencium bau hasil pengolahan RDF Plant Rorotan. Namun, menurut Ferry, cara itu tidak selalu berhasil menghalau bau. Pada beberapa kesempatan, aroma tersebut tetap masuk ke dalam rumah meski seluruh ventilasi telah ditutup.

Pernah suatu waktu, situasi kampungnya berubah mencekam gara-gara operasional RDF Plant Rorotan. Pada akhir 2025, lingkungan rumah yang ramai langsung sepi. Anak-anak yang bermain di luar dipaksa masuk rumah karena khawatir bau yang muncul dari operasional RDF Plant Rorotan.

"Anak-anak kecil coba, kan kasihan, yang main-main di taman tidak bisa. Kemarin waktu operasi itu tidak ada orang di luar. Benar-benar sepi, semuanya di dalam karena baunya," katanya.

Dampak negatif RDF Plant Rorotan tidak hanya masalah kesehatan. Beberapa warga, terutama yang mengontrak, memutuskan pindah. Kampung semakin sepi. Bagi yang punya rumah tetap dan ingin pindah, tidak sedikit yang kesal. Sebab, nilai rumah mereka jadi murah.

"Iya betul, harga rumah turun. Bahkan banyak yang ngontrak juga pindah. Banyak juga yang dijual sekarang, tapi enggak laku-laku," kata Ferry.

Perumahan terdampak pencemaran akibat RDF Rorotan

Warga menunjukkan hasil pemeriksaan kesehatan anaknya yang terdampak polusi udara yang diduga berasal dari fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan di perumahan Shinano di kawasan JGC, Cakung, Jakarta Timur, Selasa (4/11/2025).ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/YU

Apa yang dialami anak Ferry diamini Nadine (36). Dia membenarkan banyak anak-anak sakit, bahkan termasuk orang dewasa saat RDF Plant Rorotan beroperasi.

"Seminggu terakhir ini saya agak sesak napas. Saya memang sensitif di hidung. Kasihan juga yang punya komorbid, manula, sama bayi yang lebih sensitif," ujarnya kepada Tirto, Kamis (9/7/2026).

Nadine berpendapat, kondisi warga Rorotan seharusnya diperhatikan Pemprov DKI. Dia menilai, Pemprov DKI seharusnya memantau kualitas udara di dekat RDF Rorotan dan memperbaikinya. Dia mengaku, informasi kualitas udara Rorotan tidak transparan. Kemudian, dia mendesak agar Pemprov DKI mendengar pandangan warga.

"Pemerintah harus mendengarkan warga terdampak. Jangan main-main dengan kesehatan dan nyawa warga. Yang dipertaruhkan itu bukan sekadar rasa enggak nyaman, tapi kesehatan orang-orang yang tinggal di sini setiap hari," sambung dia.

Dia menekankan bahwa warga Rorotan tidak seharusnya menjadi kelinci percobaan program yang justru merugikan warga.

"Saya dari awal bilang, kita enggak mau jadi kelinci percobaan. Kalau memang dulu proyeknya belum berhasil dan masih menimbulkan dampak, seharusnya jangan dioperasikan," kata Nadine.

Sementara itu, Ferry mengaku warga mulai mempertimbangkan langkah lebih serius selain demonstrasi. Warga tengah menyiapkan gugatan perwakilan kelompok atau class action terhadap proyek RDF Plant Rorotan. Ia mengaku mendukung langkah hukum tersebut. Warga akan mempertanyakan berbagai aspek, mulai dari dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) hingga jarak fasilitas dengan permukiman.

"Sedang disusun. Akan [melayangkan class action). Kita sudah ada pengacaranya, sedang disusun. Makanya, kita tanyakan AMDAL, ya tidak pernah keluar. Kan aturan AMDAL itu dari lingkungan terdekat. Sedangkan, ini [RDF] dari permukiman yang paling dekat hanya sekitar 300 meter. Ke rumah saya, sekitar 800 meter saja masih kebagian baunya," ujar Ferry.

RDF Plant Rorotan

Operator eskavator memindahkan sampah ke mesin pengolahan sampah di Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta, Selasa (25/2/2025). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/Spt

Kerap Berhenti Sementara karena Penolakan

Tim Tirto sempat mengelilingi kompleks permukiman dekat RDF Plant Rorotan pada Rabu siang-sore. Di beberapa ruas jalan, bau sampah memang tercium dengan lebih menyengat. Padahal, di sekitar ruas jalan itu tidak ada tempat pembuangan sampah. Dalam pantauan di lokasi, setidaknya terdapat dua taman. Taman itu baru ramai ketika Rabu sore.

Terpisah, Tirto tidak diperkenankan untuk meninjau langsung RDF Plant Rorotan. Dalam pantauan, kawasan itu dijaga oleh beberapa penjaga keamanan. Truk kontainer, mobil, serta motor keluar masuk fasilitas tersebut sepanjang Rabu sore.

RDF Plant Rorotan sendiri dibangun menghabiskan anggaran Rp1,28 triliun. Tempat seluas 7,78 hektare ini dibangun Maret-Mei 2024 ini diperkirakan mampu mengolah 2.500 tok sampah per hari. Kemudian mulai beroperasi pada awal 2025.

Namun, perjalanan operasi tersebut tidak mulus. Pada awal tahun, operasional RDF Plant Rorotan dihentikan sementara karena puluhan warga jatuh sakit. Setidaknya 14 warga dikabarkan sakit setelah RDF pada 21 Maret 2025 akibat bau sampah. Tiga hari kemudian, 12 warga dikabarkan sehat.

Pada bulan Mei 2025, warga kembali menolak RDF Plant Rorotan kembali beroperasi. Pada September 2025, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta kembali meyakinkan publik bawha RDF Plant Rorotan aman. Namun, 3 November 2025, warga kembali menyuarakan penolakan. Kali ini, puluhan anak dikabarkan sakit akibat uji coba RDF Plant Rorotan. RDF kembali berhenti operasi sehari kemudian.

Pada 27 November 2025, Pemprov DKI kembali mengaktifkan RDF Plant Rorotan dengan batas membawa sampah 1.000 ton per hari. Kemudian, Pramono meminta RDF Plant Rorotan hanya bekerja di 750 ton per hari pada awal Februari 2026. Usai kejadian longsor TPST Bantargebang di Mei 2026, Pemprov DKI menyatakan RDF Plant Rorotan kembali beroperasi penuh. Terakhir 17 Juni 2026, warga kembali menuntut operasional maksimal RDF Plant Rorotan dihentikan.

Gubernur DKI Jakarta hentikan sementara uji coba operasional RDF Rorotan

Foto udara kondisi fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan yang berdekatan dengan pemukiman warga di Jakarta Utara, Selasa (4/11/2025). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/YU

Menanggapi keluhan warga, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, memastikan pemerintah akan memperhatikan kesehatan dan kenyamanan warga sekitar RDF Plant Rorotan.

"Kesehatan serta kenyamanan warga sekitar RDF Plant Rorotan adalah prioritas utama Pemprov DKI Jakarta. Kami telah beberapa kali menghentikan sementara operasional untuk evaluasi mendalam setiap kali ada keluhan berulang," kata Chico kepada Tirto, Jumat.

Chico mengaku operasional RDF Plant Rorotan telah berjalan secara bertahap dan terkontrol, yakni target aman 1.000 ton per hari. Kemudian, mereka menggunakan truk compactor tertutup baru, dengan penambahan deodorizer, pengendalian emisi ketat, dan pemantauan SPKU. Sementara itu, akhir pekan digunakan pembersihan agar minim dampak.

Saat ini, mereka sudah mengidentifikasi masalah bau yang berujung pada penyakit, yakni masalah saat pengangkutan sampah. Mereka pun terus berupaya memperbaiki permasalahan sekaligus bertanggung jawab ketika ada gangguan kesehatan warga sekitar.

"Kami terus perbaiki SOP, armada, dan dialog intensif dengan warga. Gubernur Pramono Anung juga telah bertemu langsung berkali-kali dan siap bertanggung jawab jika ada dampak kesehatan," kata Chico.

Chico Hakim

Cyril Raoul Hakim. instagram/chicohakim

Baca juga artikel terkait FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - News Plus
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher