Menuju konten utama

Dari Sampah Plastik Jadi BBM, Kisah Antok Siapkan Tabungan Warga

Antok menyuling kuintalan sampah plastik jadi solar. Hasilnya ditabung warga untuk bayar pajak, listrik, sembako dan dana stunting.

Dari Sampah Plastik Jadi BBM, Kisah Antok Siapkan Tabungan Warga
Tumpukan sampah plastik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur. FOTO/Jember Yang Itu
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di tangan Muhammad Arif Yulianto, tumpukan sampah plastik yang biasanya berakhir mengenaskan di tempat pembuangan akhir (TPA) menjelma menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Pria berusia 40 tahun asal Dusun Krajan, Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur ini sukses menyulap limbah domestik tersebut menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif.

Sehari-hari, pria yang akrab disapa Antok ini mengemban amanah sebagai kepala dusun setempat. Di sela-sela kesibukannya melayani warga, ia menggerakkan sebuah bank sampah yang menampung setoran plastik bekas dari masyarakat. Lewat sentuhan teknologi pirolisis, plastik-plastik itu disuling menjadi solar alternatif.

Namun, inovasi Antok tidak berhenti pada urusan teknis mengubah limbah menjadi bahan bakar. Ia melangkah lebih jauh dengan merajut gagasan yang menyentuh langsung kebutuhan ekonomi warganya.

Nilai ekonomi dari setiap gram sampah yang disetorkan warga tidak dicairkan begitu saja. Antok mengumpulkannya dalam bentuk tabungan khusus, yang nantinya disiapkan untuk membantu warga membayar tagihan listrik, sembako, hingga pajak kendaraan bermotor.

Ide kreatif ini lahir dari keresahan personal Antok yang gerah melihat persoalan sampah plastik di lingkungannya. Alih-alih sekadar mengeluh, ia memilih mendirikan bank sampah dengan konsep baru: tidak hanya mendidik masyarakat untuk menjaga kebersihan, tetapi juga memberikan insentif ekonomi yang berdampak nyata.

“Produksi dulu mulai 2025, pertengahan. Cuma kita coba-coba dulu. Setelah itu, tahun 2026 ini kita mulai mengolah,” kata Antok saat ditemui sejumlah wartawan di rumahnya, Sabtu (18/7/2026).

Antok berkisah, pada tahap awal, pengolahan sampah plastik masih dilakukan dalam skala kecil. Antok mengaku proses tersebut dimulai dari percobaan sederhana. Seiring bertambahnya pengalaman dan dukungan dari berbagai pihak, kapasitas pengolahan kemudian mulai ditingkatkan.

Bahan baku yang digunakan sebagian besar berasal dari masyarakat sekitar. Warga menyetorkan sampah plastik rumah tangga maupun sampah yang dikumpulkan dari pasar ke bank sampah.

Sebelum diolah menjadi BBM, sampah plastik tidak langsung dimasukkan ke dalam mesin. Antok bersama pengelola terlebih dahulu melakukan sejumlah tahapan.

“Bahan datang, kita pilah. Terus kita cacah, kita bersihkan, kemudian kita keringkan secara manual sebentar. Setelah itu baru kita olah,” jelasnya.

Sampah Plastik Jadi Solar di jember

Tumpukan sampah plastik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur. FOTO/Jember Yang Itu

Kuintalan Plastik Hasilkan Ratusan Liter Solar

Saat ini, Antok masih memfokuskan pengolahan sampah plastik untuk memproduksi solar. Padahal, menurut dia, teknologi yang digunakan juga berpotensi menghasilkan jenis BBM lain seperti bensin dan minyak tanah.

“Sementara kita fokus ke solar. Sebenarnya dari plastik bisa menghasilkan bensin dan minyak tanah, tapi kita coba fokus solar dulu,” ujarnya.

Dalam satu kali produksi, bank sampah tersebut mengolah sekitar 4 hingga 5 kuintal sampah plastik. Hasil produksi sangat bergantung pada jenis plastik dan kandungan air yang masih tersisa di dalam bahan baku.

Antok menjelaskan, dari setiap 100 kilogram sampah plastik yang diolah, rata-rata dapat menghasilkan sekitar 40 hingga 70 liter solar.

Menurut Antok, proses pemilahan hingga pengeringan menjadi bagian penting dalam pengolahan. Sebab, kandungan air yang masih tersisa dapat memengaruhi hasil produksi BBM.

Mengubah Sampah Jadi Saldo Pajak hingga Sembako

Antok kini menyiapkan kerja sama dengan Pemerintah Desa Kencong dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Nantinya, setiap setoran sampah warga akan dihitung dan dicatat sebagai nilai ekonomi.

Saldo tersebut tidak langsung diberikan dalam bentuk uang tunai. Antok ingin nilai itu dikumpulkan hingga mencapai nominal tertentu dan kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan warga.

“Kita sedang menyiapkan kerja sama dengan desa dan BUMDes. Jadi masyarakat yang setor sampah, nominalnya kita kumpulkan. Nanti bisa dialihkan untuk pembayaran pajak,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, warga yang rutin menyetorkan sampah dapat mengumpulkan saldo selama beberapa bulan. Ketika nilainya telah mencukupi kebutuhan pajak kendaraan yang dibayarkan setahun sekali, saldo tersebut dapat digunakan untuk membantu pembayaran pajak.

“Pajak kan satu tahun sekali. Jadi kalau beberapa bulan sudah dapat nominal yang sesuai dengan pajak, itu bisa dialihkan untuk pembayaran pajak,” jelasnya.

Bagi Antok, skema itu diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.

“Jadi pajak itu tidak dibebankan dari pengeluaran pribadi. Pengeluaran dari sampah mereka yang kita kelola,” tegasnya.

Tak berhenti pada pajak kendaraan, Antok juga berencana menjalin kerja sama dengan PLN. Ia ingin saldo hasil setoran sampah warga nantinya dapat dimanfaatkan untuk membantu membayar tagihan listrik maupun token listrik.

“Kalau sudah berjalan, kita ingin kerja sama dengan PLN. Jadi masyarakat bisa memanfaatkan hasil setor sampah untuk membantu pembayaran listrik,” katanya.

Antok juga menyiapkan mekanisme lain bagi warga yang rutin menyetorkan sampah. Jika nilai tabungan telah mencapai nominal tertentu, saldo tersebut dapat ditukar dengan bahan kebutuhan pokok (sembako).

“Misalnya nominal sudah mencapai Rp100 ribu, kita bisa rupakan untuk sembako. Bisa beras, gula, minyak, atau lainnya sesuai yang diminta masyarakat,” ujarnya.

Konsep tersebut membuat bank sampah yang dikelola Antok tidak hanya berfungsi sebagai tempat menampung sampah. Ia ingin bank sampah benar-benar menjadi ruang ekonomi bagi masyarakat.

“Selama ini sampah plastik menjadi masalah. Kami mencoba mengajak masyarakat, jangan membuang sampah. Kumpulkan sampah plastikmu, karena bisa menjadi keuntungan,” ucapnya.

Antok berharap masyarakat mulai memilah sampah sejak dari rumah. Menurutnya, perubahan kecil dari kebiasaan warga dapat memberikan dampak besar terhadap persoalan lingkungan.

“Kami ingin masyarakat tidak lagi membuang sampah plastik sembarangan. Lebih baik dipilah, dikumpulkan, lalu disetor ke bank sampah karena bisa memberikan manfaat bagi mereka sendiri,” imbuhnya.

Keuntungan Sampah untuk Penanganan Stunting

Antok menegaskan, keuntungan dari usaha pengolahan sampah tersebut tidak sepenuhnya akan digunakan untuk kepentingan pribadi maupun pengembangan usaha.

Ia memiliki cita-cita besar serta bijak, untuk mengalokasikan sebagian manfaat ekonomi guna kegiatan sosial, termasuk membantu program penanganan stunting dan pemberian makanan tambahan (PMT).

“Untung itu tidak saya makan sendiri. Nanti kita kembalikan lagi ke masyarakat,” tegas Antok.

Ia mengatakan, rencana tersebut akan dikembangkan melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, kecamatan, dan puskesmas.

“Kita ingin support kegiatan stunting, PMT, seperti program One Day One Egg, dan kegiatan sosial lainnya bersama puskesmas, kecamatan, dan desa,” jelasnya.

Selain berdampak pada lingkungan, Antok berharap bank sampah tersebut dapat membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

“Kalau usaha ini semakin besar, otomatis SDM kita juga bertambah. Kita ingin membuka lapangan pekerjaan dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Mendorong Bank Sampah di Setiap Desa

Inovasi pengolahan sampah plastik di Dusun Krajan tersebut telah mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Kencong, Pemerintah Kecamatan Kencong, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember, hingga Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD).

Antok menyebut, Pemerintah Kecamatan Kencong bahkan berencana mendorong pembentukan bank sampah di setiap desa.

“Pak Camat Kencong mau membuat bank sampah di setiap desa. Bahkan, sampah di kantor kecamatan sendiri nantinya akan dikelola. Sampah plastik yang sulit terurai bisa disetorkan ke kami,” katanya.

Terkait penanganan, pemanfaatan, dan pengelolaan sampah plastik itu. Langkah kerja positif Antok, diketahui mendapat dukungan dari pemerintah kecamatan setempat.

"Ini sangat bagus sekali sebenarnya. Jadi Mas Antok ini sangat aware sekali dengan apa yang terjadi di sini, karena sekarang kan sampah lagi jadi trending topic sekarang. Beliau berhasil mengelola, mengurangi limbah sampah menjadi satu energi alternatif," kata Camat Kencong, Ronny Arvianto.

Menurut Ronny, adanya pengelolaan energi positif ini diakui perlu mendapat dukungan dan dinilai memiliki nilai investigasi tinggi. "Dan Insyaallah bisa terus continue, dan jangan berhenti sampai di sini saja," ungkapnya.

Dari sampah plastik yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, Antok kini mencoba membangun sebuah siklus baru. Warga mengumpulkan sampah, bank sampah mengolahnya menjadi BBM, sementara nilai ekonominya dikembalikan lagi untuk membantu kebutuhan masyarakat.

“Ya, mudah-mudahan ini berhasil dan semakin besar. Sedikit demi sedikit kita mengubah SDM masyarakat agar lebih sadar lingkungan,” pungkas Antok.

Baca juga artikel terkait SAMPAH PLASTIK atau tulisan lainnya dari Jember Yang Itu

tirto.id - News Plus
Kontributor: Jember Yang Itu
Penulis: Jember Yang Itu
Editor: Fahreza Rizky