tirto.id - Saya berumur 16 tahun ketika pertama kali tahu bahwa pembalut yang saya buang akan tetap ada di bumi lebih lama daripada hidup saya sendiri.
Sebagai Gen-Z, sejak kecil saya hanya mengenal pembalut sebagai satu-satunya alat untuk menampung darah menstruasi setiap bulan. Murah, mudah didapat, mudah digunakan. Itulah pandangan saya tentang pembalut. Namun, akibat timbunan sampah pembalut yang nyaris tidak terurai, sisi praktis pembalut justru membawa konsekuensi besar bagi kesehatan lingkungan.
Menurut data Biyung Indonesia, organisasi keadilan menstruasi yang juga fokus pada pelestarian lingkungan, saban tahun ada 16,8 miliar pembalut sekali pakai yang berakhir menjadi sampah di Indonesia. Jika dikumpulkan, luasan sampah pembalut itu mencapai 378 km² atau setara luasan Kota Semarang. Dengan kata lain, hanya dalam satu tahun saja, kita dapat “menyelimuti” Kota Semarang dengan sampah pembalut.
Ini sudah bukan lagi masalah pribadi, tetapi masalah lingkungan berskala nasional. Dengan jumlah pembalut semassif itu, penggunaan pembalut organik dapat menjadi bagian dari solusi.
Penelitian Friends of the Earth menunjukkan bahwa satu lembar pembalut terdiri atas 90% plastik, atau setara dengan empat kantong plastik yang membutuhkan waktu 450 tahun untuk terurai. Di sisi lain, satu pembalut organik yang terbuat dari 100% kapas alami menghasilkan 0% plastik. Menurut laman Natural Farm, bahan tersebut hanya perlu waktu 6-24 bulan saja untuk terurai tanpa meninggalkan dampak negatif bagi lingkungan.
Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan pembalut organik bisa mendukung upaya Indonesia untuk selaras dengan program Sustainable Development Goals nomor 12, yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, yang salah satu poinnya bertujuan untuk mengurangi sampah plastik.
Ketika periode menstruasi datang, dalam sehari saya bisa menggunakan 3-4 buah pembalut. Jumlah itu sesuai anjuran The American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG) untuk mengganti pembalut sedikitnya 4 hingga 6 jam sekali. Jumlah ini baru saya seorang. Mari kita hitung totalnya dengan merujuk jumlah penduduk Indonesia.
Menurut Badan Pusat Statistik (2024), Indonesia memiliki jumlah penduduk 278,6 juta jiwa, dengan komposisi 137,9 juta adalah perempuan. Dari jumlah perempuan tersebut, 69,5% di antaranya (90,876 juta jiwa) berada pada usia produktif yang memiliki periode menstruasi setiap bulan. Dengan kata lain, 272,6 juta-363,5 juta juta lembar pembalut sekali pakai berpotensi menjadi penghasil sampah saban bulan.
Kesehatan Perempuan Dipertaruhkan
Tidak hanya lingkungan yang dirugikan, tetapi kesehatan tubuh perempuan juga dipertaruhkan. Baru-baru ini, kakak sepupu saya mengeluh vaginanya gatal akibat penggunaan pembalut yang menyebabkan reaksi alergi.
Di balik kelembutannya, pembalut sekali pakai terbuat dari campuran serat sintetik, plastik, dan zat peningkat penyerapan yang menyebabkan pertumbuhan bakteri dan perubahan pH vagina. Pembalut juga menyimpan zat superabsorben kimiawi serta pemutih berbasis klorin yang berbahaya bagi tubuh perempuan. Beberapa pembalut bahkan mengandung pewangi yang memicu iritasi, infeksi jamur, hingga keputihan.
Hal di atas dibuktikan dengan penelitian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YKLI) yang menemukan 9 merek pembalut dan tujuh merek panty liner terkemuka di Indonesia mengandung klorin, termasuk yang sering saya gunakan. Sebaliknya, pembalut organik terbuat dari bahan alami seperti jagung, bambu, kayu, pisang, atau ampas rami tanpa bahan kimia, pestisida dan hypoallergenic.
Selain itu, pembalut organik juga tidak mengandung bahan klorin, lateks, rayon, atau bahan karsinogenik, sehingga aman dan tidak berbahaya bagi area sensitif. Dengan memilih pembalut organik, kita dapat menghindari risiko zat kimia berbahaya yang mungkin terkandung dalam pembalut biasa dan masuk ke saluran vagina.
Sayangnya, kesadaran akan dampak pembalut konvensional bagi lingkungan dan tubuh sangatlah rendah. Menurut Perfect Fit, sampai hari ini 95% masyarakat Indonesia masih memilih untuk menggunakan pembalut dibanding alat menstruasi lainnya.
Kampanye Minim, Kebijakan Nihil
Saat ini, kampanye yang ada lebih banyak yang menyoroti tentang manajemen kebersihan menstruasinya saja. Perhatian terhadap tata kelola sampah menstruasi itu sendiri masih minim, karena pembahasan tentang menstruasi masih dianggap tabu di Indonesia.
Studi Bloody Honest: This is what boys say about menstruation (2022) menemukan, 86% orang tua di Indonesia tidak mengedukasi anak perempuan mereka tentang menstruasi, sehingga banyak anak perempuan yang tidak tahu apa pun ketika pertama kali mengalaminya.
Oleh karena itu, sampah menstruasi menjadi masalah sosial yang hampir tidak nampak di permukaan. Realitanya, ketika sesuatu dianggap memalukan, ia akan hilang dari percakapan publik. Termasuk dari kebijakan. Terbukti hingga saat ini, Indonesia belum memiliki kebijakan sosial yang secara khusus yang mengklasifikasikan dan mengatur pengelolaan sampah pembalut.
Undang-undang No 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah juga belum menyebutkan secara jelas terkait sampah menstruasi. Padahal, sampah pembalut dikategorikan sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), karena mengandung darah dan cairan tubuh yang seharusnya dikelola secara khusus.
Pengelolaan ini mencakup pemilahan, penyimpanan, pengangkutan, dan pemrosesan oleh pihak resmi. Namun, banyak pemerintah daerah belum memiliki sistem pengelolaan khusus untuk limbah ini, sehingga sampah B3 yang tercampur terus menumpuk di TPA dan tertimbun begitu saja.
Padahal, isu permasalahan sampah di Indonesia sedang ramai diperbincangkan. Keseriusan permasalahan limbah pembalut plastik di Indonesia berbanding terbalik dengan kesadaran masyarakat maupun pemerintah.
Hulu Organik, Distribusi Organik, dan Hilir Organik (HDH) Organik, Tawaran Strategis

Di India, Saathi Pads menunjukkan bahwa kolaborasi produsen lokal dan pemerintah dalam peralihan ke pembalut organik berbahan dasar serat pisang dan bambu mampu menghemat 18,7 ton limbah plastik, 52 juta ton CO ₂ serta menjangkau 7.800 perempuan.
Di balik banyaknya manfaat pembalut organik, nyatanya produk ini masih sulit dijangkau dalam keseharian kita. Mulai dari distribusinya yang terbatas sampai harga yang relatif lebih mahal, menyebabkan celah akses bagi kelompok ekonomi bawah. Pilihan lain seperti menstrual cup atau tampon dinilai masih belum sejalan dengan konsep keperawanan di Indonesia, sehingga bukan solusi yang tepat.
Melihat urgensi ini, saya merancang sebuah program Hulu Organik, Distribusi Organik dan Hilir Organik (HDH Organik), dengan 3 langkah strategis. Di antaranya adalah:
1. Hulu Organik
Hulu Organik akan mendukung produksi dan inovasi pembalut organik. Melalui kebijakan Kementerian Keuangan yang memberikan insentif pajak PPh badan sebesar 2-3%, potongan penghasilan bruto dua kali lipat untuk biaya riset dan pengembangan bahan alami yang biodegradable, serta pembebasan PPN untuk transaksi bahan baku lokal yang ramah lingkungan. Dengan tujuan mendorong pabrik konvensional untuk mengalihkan sebagian produksinya ke pembuatan pembalut organik.2. Distribusi Organik
Distribusi Organik akan berfokus menjamin keterjangkauan dan ketersediaan pembalut organik di tiap kabupaten atau kota. Dinas Kesehatan dan Lingkungan Hidup akan menggandeng raksasa retail di Indonesia, seperti indomaret dan alfamart, untuk menyediakan minimal 2 merek pembalut organik di setiap gerai. Hal ini dinilai efektif karena menurut Faktain, gerai Indomaret tersebar di lebih dari 90% wilayah Indonesia, sehingga mudah dijangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia.3. Hilir Organik
Hilir Organik yang menggaet masyarakat lewat kampanye nasional #PlasticFreePeriod yang akan bekerjasama dengan sekolah, kampus hingga korporasi untuk menyuarakan tentang bahaya pembalut konvensional bagi tubuh dan lingkungan serta alternatif yang lebih sehat yaitu pembalut organik, tata kelola limbah menstruasi dan home compost bin. Berfokus pada masyarakat, program hilir juga akan memberikan e-voucher belanja pembalut organik sebesar Rp30.000 setiap bulannya yang bisa ditukarkan langsung di indomaret/alfamart terdekat.Untuk memastikan keberhasilan program program HDH Organik, diperlukan 3 peran utama. Di antaranya adalah:
1. Regulator dan Protokol
Kementerian Kesehatan menetapkan standar keamanan produk organik yang akan diberi label hijau oleh BPOM. Kementerian Keuangan membuat kebijakan insentif dan menetapkan pembalut organik sebagai industri strategis hijau. Kementerian Perindustrian menyalurkan insentif kepada produsen pembalut organik. Kementerian Lingkungan Hidup mengatur kebijakan pemilahan dan pengelolaan limbah menstruasi berbasis organik untuk dikompos.2. Pelaksana
Dinas Lingkungan Hidup di setiap daerah akan memastikan setiap gerai Indomaret dan Alfamart menjual minimal 2 merek pembalut organik serta memberikan e-voucher Rp30.000 yang bisa ditukar di Indomaret/Alfamart terdekat.3. Pengganda
Dinas Kesehatan daerah akan bekerja sama dengan sekolah SD tingkat akhir, SMP, SMA/sederajat, kampus serta korporasi untuk menambah pengetahuan seputar menstruasi mulai dari tata kelola limbah menstruasi hingga alternatif penggunaan pembalut organic melalui kampanye #FreePlasticPeriod.Jika 50% perempuan Indonesia beralih ke pembalut organik dalam 5 tahun ke depan, kita bisa mengurangi sekitar 210.000 ton sampah plastik per tahun, atau sekitar 3% dari total sampah plastik nasional. Implementasi program HDH Organik dengan pilot project yang dimulai di wilayah pedesaan Jawa Tengah, seperti Temanggung.
Pertimbangan ini didasarkan pada karakteristik daerah yang akses terhadap pembalut organik lebih rendah dibanding kota besar, tapi memiliki pemerintah daerah yang progresif terhadap isu lingkungan dan akses retail yang cukup. Jika program ini berhasil di Temanggung, akan lebih mudah untuk mereplikasi di 20 kota/kabupaten dalam waktu 5 tahun.
Saya percaya, setiap pembalut yang kita pilih adalah sebuah sikap. Ia bisa jadi sekadar benda sekali pakai buang atau malah bisa jadi bentuk protes terhadap sistem yang sudah terlalu lama bungkam. Jika satu pembalut bisa bertahan 450 tahun di bumi, sudah waktunya kita meninggalkan jejak yang lebih ramah.
Yuk, sayangi tubuh dan lingkunganmu dimulai dari hal sekecil memilih pembalut yang lebih sehat!
*Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, penerima Djarum Beasiswa Plus (Beswan Djarum) 2024/2025. Tirto.id bekerja sama dengan Djarum Foundation menayangkan 16 Finalis Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2024/2025. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.
Masuk tirto.id































