Menuju konten utama

Rupiah Sentuh Rp17.879, IHSG Lanjutkan Tren Menguat Hari Ini

Rupiah melemah tipis ke Rp17.879 per dolar AS, sementara IHSG menguat ke 6.388,23. Pasar mencermati sentimen global dan tinjauan indeks MSCI.

Rupiah Sentuh Rp17.879, IHSG Lanjutkan Tren Menguat Hari Ini
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 46 poin atau 0,26 persen menjadi Rp18.009 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.963 per dolar AS. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada pembukaan perdagangan hari ini Kamis (13/8/2026) rupiah berada di level Rp17.879 per dolar AS, melemah 2 poin atau sekitar 0,01 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di Rp17.877 per dolar AS. Di sisi lain, tren penguatan terus ditunjukkan IHSG.

Pergerakan rupiah pada perdagangan pagi ini menunjukkan pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini melanjutkan tekanan yang terjadi pada Rabu, ketika rupiah juga turun 16 poin atau 0,09 persen dari Rp17.861 menjadi Rp17.877 per dolar AS.

Artinya, dalam dua hari, rupiah bergerak melemah secara bertahap, meskipun penurunannya masih relatif kecil. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih berhati-hati dalam menentukan arah perdagangan rupiah di tengah sejumlah faktor global dan domestik.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah perkembangan hubungan dan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Analis menilai perkembangan tersebut dapat memengaruhi harga minyak dunia, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.

Ketika ketegangan AS-Iran meningkat dan mengganggu pasokan atau distribusi energi, harga minyak berpotensi naik. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor energi bagi negara-negara yang membutuhkan minyak dari pasar global, termasuk Indonesia.

Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan dolar AS, sehingga berpotensi ikut menekan rupiah. Sebaliknya, jika negosiasi menghasilkan kesepakatan dan ketegangan mereda, risiko gangguan pasokan minyak dapat berkurang dan sentimen pasar berpotensi membaik.

Konflik serta gangguan di Selat Hormuz memang menjadi perhatian pasar karena jalur tersebut sangat penting bagi perdagangan energi global.

Dalam perkembangan terbaru yang menjadi perhatian pasar, Iran disebut mengajukan sejumlah syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz melalui mediator kepada Amerika Serikat.

Di antaranya adalah penghentian agresi di kawasan, termasuk Lebanon dan Palestina, serta pengembalian aset Iran yang dibekukan. Namun, hingga saat ini belum terdapat kesepakatan final antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konfrontasi tersebut.

IHSG Menguat ke Level 6.388,23

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (13/8) menunjukkan sentimen positif sejak awal perdagangan. IHSG dibuka naik 14,38 poin atau 0,23 persen ke level 6.388,23, melanjutkan penguatan yang terjadi pada perdagangan Rabu.

Pada saat yang sama, indeks saham-saham unggulan LQ45 juga menguat 1,44 poin atau 0,23 persen ke posisi 635,28. Penguatan pada pembukaan ini menunjukkan bahwa sebagian investor masih memiliki minat untuk membeli saham setelah IHSG mengalami kenaikan cukup besar pada perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu, IHSG memang mengalami penguatan yang jauh lebih signifikan. Indeks ditutup melonjak 105,97 poin atau 1,69 persen ke level 6.373,85, sedangkan LQ45 naik 8,05 poin atau 1,29 persen menjadi 633,84.

Penguatan tersebut terutama didorong aksi bargain hunting, yaitu tindakan investor membeli saham yang harganya dianggap sudah turun cukup dalam sehingga menjadi menarik untuk dikoleksi.

Dalam dua hari sebelumnya, IHSG mengalami koreksi tajam, sehingga sebagian investor memanfaatkan penurunan harga tersebut untuk kembali masuk ke pasar dengan harapan memperoleh keuntungan ketika harga saham mengalami pemulihan.

Menurut Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta, selain bargain hunting, investor domestik juga memperhatikan tinjauan indeks MSCI Agustus 2026.

MSCI merupakan penyedia indeks saham global yang menjadi salah satu acuan penting bagi investor internasional dalam menentukan alokasi investasinya. Perubahan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI dapat memengaruhi arus dana investor, terutama investor institusi dan asing.

Karena itu, menjelang pengumuman resmi MSCI, pasar cenderung memperhatikan saham-saham yang berpotensi mengalami perubahan bobot atau status dalam indeks tersebut.

Salah satu harapan yang ikut mendorong sentimen positif adalah kemungkinan dicabutnya status pembekuan atau freeze terhadap sejumlah emiten Indonesia oleh MSCI. Jika status tersebut benar-benar dicabut, pasar dapat menganggapnya sebagai perkembangan positif karena berpotensi meningkatkan kembali minat investor terhadap saham-saham Indonesia yang sebelumnya terdampak pembatasan atau ketidakpastian.

“Bisa jadi terdapat ekspektasi positif terhadap pencabutan status pembekuan (freeze) beberapa emiten,” ujar Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta dikutip Antara (12/8/2026).

Ekspektasi tersebut belum tentu langsung menghasilkan arus dana dalam jumlah besar, namun cukup untuk memengaruhi sentimen dan keputusan investor sebelum pengumuman resmi.

Investor juga mencermati pengajuan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Bagi pasar, kepastian mengenai calon pimpinan bank sentral dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Investor terutama memperhatikan bagaimana kebijakan BI akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan kondisi pasar keuangan. Kepastian tersebut dinilai dapat menjadi sentimen positif, khususnya bagi investor institusi yang membutuhkan kepastian mengenai arah kebijakan ekonomi dan moneter.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra