Menuju konten utama

Permintaan Minyak Dunia Susut Imbas Perang Iran, Harga Turun

Meski mengalami koreksi lebih dari 1 dolar AS per barel, potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk masih membatasi pelemahan lebih dalam.

Permintaan Minyak Dunia Susut Imbas Perang Iran, Harga Turun
Ilustrasi harga minyak. Seorang pejalan kaki memegang payung berjalan melewati pada papan elektronik yang menunjukkan indeks pasar saham dari berbagai negara di luar broker di Tokyo, Jepang, 18 Januari 2016. Indeks Nikkei Jepang menukik ke level terendah satu tahun pada Senin pagi setelah menjual besar -off di Wall Street pada hari Jumat setelah harga minyak anjlok dan ketakutan tumbuh sekitar masalah ekonomi di Cina, mengirimkan semua sektor ke merah. ANTARA FOTO/REUTERS/Yuya Shino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak dunia mengalami koreksi lebih dari 1 dolar AS per barel pada perdagangan Kamis (13/8/2026), tertekan oleh proyeksi permintaan global yang melandai akibat eskalasi konflik AS-Israel melawan Iran. Meski demikian, potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk masih membatasi pelemahan lebih dalam.

Menukil Reuters, kontrak berjangka Brent tercatat turun 1,29 dolar AS (1,5 persen) ke level 87,69 dolar AS per barel pada pukul 01.00 GMT. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), melemah 1,30 dolar AS (1,6 persen) menjadi 81,97 dolar AS per barel.

Proyeksi tersebut pertama kali terlihat dalam laporan bulanan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Rabu, yang memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global untuk 2026 menjadi hanya 580.000 barel per hari.

Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) juga merevisi tajam perkiraan konsumsi tahun ini. IEA kini memperkirakan kontraksi permintaan mencapai 1,6 juta barel per hari, jauh lebih dalam dibandingkan proyeksi bulan lalu yang hanya 1 juta barel per hari. Penyebab utamanya adalah terbatasnya pasokan bahan bakar dan lonjakan harga imbas perang yang menekan konsumsi.

Tekanan tambahan pada harga minyak berasal dari data inventarisasi komersial AS. Berdasarkan laporan Energy Information Administration (EIA) pada Rabu (13/8/2026), stok minyak mentah Negeri Paman Sam justru melonjak tak terduga sebesar 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel sepanjang pekan yang berakhir 7 Agustus.

Angka ini merupakan yang tertinggi sejak 5 Juni lalu dan sekaligus mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2023, seiring dengan merosotnya volume ekspor. Lonjakan ini kontras dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan stok sebesar 1,4 juta barel.

Meski tertekan oleh sentimen permintaan, harga minyak masih bertahan di level tinggi karena negosiasi antara Iran dan AS untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk dikabarkan mandek.

Seorang petinggi Iran menyatakan pada Rabu bahwa tidak ada kemajuan berarti dalam pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang pernah disetujui pada Juni lalu, termasuk dalam menentukan kerangka waktu implementasinya.

Kekhawatiran pasokan juga semakin nyata menyusul serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb pada Selasa (11/8/2026). Kedua jalur perairan tersebut merupakan urat nadi ekspor minyak dan gas bagi negara-negara Timur Tengah, sehingga setiap gangguan di sana selalu memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan.

Para analis di Haitong Futures pun menyoroti memburuknya situasi keamanan maritim di wilayah tersebut. "Situasi keselamatan navigasi di perairan ini semakin memburuk, memaksa kapal-kapal untuk mematikan sinyal mereka, yang mengurangi transparansi pelayaran dan membuat pasar lebih sulit untuk melacak dan menilai tingkat pasokan aktual," tulis para analis dikutip dari Reuters.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher