Menuju konten utama

Peneliti BRIN: Metformin di Sungai Bisa Berdampak ke Manusia

Peneliti BRIN Wulan Koagouw memaparkan temuan obat diabetes metformin di sungai Jakarta, risikonya bagi biota air, serta potensi dampaknya terhadap manusia.

Peneliti BRIN: Metformin di Sungai Bisa Berdampak ke Manusia
Header Wansus Wulan Koagouw. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sungai-sungai di Jakarta berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Dari 13 sungai utama dan empat saluran buatan berupa banjir kanal atau drain, semuanya dilaporkan telah berada dalam kondisi tercemar berat. Pencemaran sungai-sungai itu berkaitan erat dengan pembuangan limbah domestik maupun industri yang tidak dikelola dengan baik.

Ada banyak bakteri hingga senyawa yang ditemukan sebagai pencemar sungai-sungai di Jakarta. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta pada 2024 lalu mencatat, bakteri fecal coliform menjadi parameter peringkat pertama yang mencemari sungai.

Bakteri fecal coliform adalah bakteri gram negatif yang secara khusus berasal dari kotoran manusia atau hewan. Jika bakteri ini ditemukan, itu menjadi indikasi kuat bahwa air telah tercemar tinja. Kondisi ini jauh lebih berbahaya karena berkaitan langsung dengan risiko penyakit, seperti diare dan infeksi saluran pencernaan.

Selain itu, limbah medis juga ditemukan mengalir di sungai-sungai Jakarta. Pada 2022 lalu, tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laboratorium Kesehatan DKI Jakarta, dan dua universitas di Inggris menemukan adanya kandungan metformin—obat diabetes yang paling umum diresepkan di dunia—di Kali Angke.

Kandungan metformin yang ditemukan di Kali Angke memiliki konsentrasi yang berkisar dari 27 sampai 414 nanogram (ng/L). Meskipun kadar metformin yang ditemukan di Kali Angke lebih rendah dari beberapa negara, tetapi temuan itu tidak bisa dianggap sepele. Berbagai studi telah membuktikan bahwa metformin memiliki dampak negatif bagi organisme air maupun manusia.

Tanpa proses degradasi alami, metformin dapat dengan mudah masuk kembali ke rantai makanan dan berdampak pada kesehatan manusia. Penelitian Zheng dkk. pada 2024 menunjukkan bahwa tidak seperti obat lain, metformin tidak dimetabolisme dalam tubuh, dan hampir semua yang dikonsumsi oleh manusia dilepaskan kembali ke lingkungan perairan melalui urin dan feses.

Jalur lain masuknya metformin ke lingkungan—atau bahkan lebih buruk lagi ke rantai makanan manusia—adalah melalui penggunaan lumpur limbah sebagai pupuk tanah dan kondisioner untuk pertumbuhan tanaman, atau irigasi lahan pertanian dengan menggunakan air limbah.

Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana kandungan metformin ini bisa ditemukan di sungai Jakarta, dan apa dampaknya bagi biota air hingga manusia, Tirto mewawancarai Wulan Koagouw, peneliti bidang ekotoksikologi dari BRIN yang juga menjadi bagian dari tim peneliti penemuan kandungan metformin di Kali Angke. Berikut adalah petikan wawancara kami dengan Wulan pada Senin (19/1/2026) lalu:

Apa yang membuat Anda tertarik meneliti kandungan metformin di sungai-sungai Jakarta?

Ya, jadi sebenernya penelitian mengenai metformin itu sudah cukup banyak di luar Indonesia, jadi seperti di Eropa sama dan juga di Amerika. Nah, pada saat saya melakukan studi untuk master kemarin di UK, di situ, karena data-data yang di Eropa itu sudah cukup banyak, jadi kita saat itu fokus untuk melihat efek metformin di hewan uji–pada saat itu blue mussel (kerang biru). Dari situ awalnya.

Jadi kita sudah ada data mengenai efeknya seperti apa di blue mussel, yang kemudian saya teliti juga pada saat melakukan PhD kemudian. Nah, setelah itu kan kita ada efek metformin ke hewan uji, tetapi kita belum mencoba melihat saja, ada enggak di Indonesia? Jadi sama halnya ketika pada saat meneliti [kandungan] paracetamol [di Teluk Jakarta] kemarin itu juga, kita snapshot saja, penasaran saja ingin melihat, sama juga untuk metformin.

Kita sudah mengetahui mengenai efeknya, yang sekarang ya sudah kita coba lagi. Jadi penelitian itu pada akhirnya sesimpel itu. Kita hanya ingin melihat saja apakah ada di Indonesia atau tidak dan ternyata memang terdeteksi. Dan itu juga kembali lagi base-nya dengan kenyataan bahwa di Eropa dan di Amerika, setahu saya itu sudah banyak sekali datanya mengenai deteksi metformin di lingkungan.

Kalau di Jakarta titik konsentrasinya yang paling tinggi itu ada di mana? Dan kenapa gitu kira-kira metformin ini bisa akhirnya berakhir di sungai-sungai di Jakarta?

Jadi sebelumnya saya harus menegaskan kembali, untuk disclaimer, ini snapshot studinya. Jadi hanya untuk sekali cuplikan aja sehingga benar-benar preliminary. Dan ini juga berdasarkan data yang tahun 2022 kemarin. Jadi kita juga nggak tahu kalau selebihnya, setelahnya, sudah ada mungkin data yang lebih baru.

Tetapi untuk penelitian yang kemarin itu, yang paling banyak di site tiga [kawasan Kedaung Kali Angke]. Dan untuk daerahnya seperti apa? Itu memang daerah yang cukup padat, secara residential. Jadi buangannya juga di situ tidak hanya dari residential saja, tapi juga dari berbagai sumber. Kalau kita lihat juga dari badan airnya itu, masukannya dari berbagai tempat juga. Nah, di situ cukup tinggi dan perlu juga diingat di sini bahwa kalau ditanya dari mana, itu agak sulit untuk menjawab untuk pointing ke salah satu satu sumber saja, karena sifat dari metformin itu sendiri yang memang tidak berubah ketika keluar dari tubuh.

Sehingga dengan logika tersebut, bisa dikatakan siapa saja sebenarnya atau dari siapa saja yang mengkonsumsi metformin itu bisa langsung mengeluarkan. Jadi metformin bisa ada di lingkungan, sehingga itu bisa dari konsumsi, bisa juga dari buangan langsung, misalnya klinik, rumah tangga, ataupun dari industri, itu bisa dari mana saja.

Sungai Angke

Kondisi sampah di sekitar Sungai Angke. tirto.id/Naufal Majid

Kalau kadar metformin yang ditemukan di Jakarta ini seberapa signifikan dengan ambang atau batas aman kalau menurut standar internasional?

Dari sejauh ini, sekali lagi ini untuk data yang kita bandingkan, dalam paper tersebut juga ada data yang kita bandingkan dengan konsentrasi-konsentrasi metformin yang terdeteksi di daerah-daerah lainnya. Nah, memang kita masih berada pada tahapan medium ya. Jadi itu tidak parah sama sekali kalau misalnya kita bandingkan dengan daerah lainnya yang cukup tinggi.

Dan di sini juga, dari data yang kemarin, yang [temuan metformin dengan kadar] 27-414 ng/L itu sendiri berada di daerah medium low. Kalau untuk kita bandingkan dengan dengan konsentrasi-konsentrasi yang terdeteksi di daerah lainnya. Daerah lainnya [merujuk ke] berbagai tempat di belahan dunia lainnya.

Metformin ini dia nggak terurai di dalam tubuh, Apa lagi karakteristik lain dari metformin ini?

Berbeda dengan obat-obatan lainnya, ada obat-obatan yang memang masuk ke dalam tubuh, tapi kemudian itu dimetabolisme. Karena dimetabolisme, jadi keluarannya tentu saja sudah berbeda seperti itu, jadi termetabolisme dia menjadi bentuk yang lain, seperti itu.

Nah, kalau metformin tidak demikian, karena dia dikonsumsi oleh tubuh, kemudian melakukan tugasnya, untuk terapi diabetes tipe 2, tapi kemudian itu–karena tidak dimetabolisme– akan terkeluarkan atau terekskresi dari tubuh itu tidak berubah seperti itu.

Nah, itulah mengapa dengan logika tersebut, penelitian-penelitian yang sebelumnya di Eropa maupun di Amerika itu banyak memang menemukan atau banyak mendeteksi metformin karena memang itu adalah salah satu karakteristik dari substansinya dari obat-obatan ini, yang menjadi alasan utama kenapa banyak atau secara frekuensi maupun secara konsentrasi tinggi dan juga banyak ditemukan.

Sungai Angke

Kondisi sampah di sekitar Sungai Angke. tirto.id/Naufal Majid

Apakah ada kaitannya dengan tingginya penderita diabetes di Jakarta misalkan? Jika ada datanya ternyata memang tinggi, apakah bisa berkorelasi dengan temuan metformin di sungai-sungai ini?

Jadi logikanya itu sangat valid, dan itu memang juga yang dikaitkan dengan paper-paper sebelumnya yang juga saya sitasi. Karena memang untuk prevalensi angka diabetes itu akan sangat berkaitan erat juga dengan dengan terdeteksinya [metformin], baik secara frekuensi maupun konsentrasi di lingkungan, seperti itu.

Walaupun tentunya ada juga faktor-faktor lain kalau kita memikirkan tentang bagaimana nanti di badan air seperti apa, dan juga untuk hal hidrologi gitu kan, faktor-faktor seperti itu tentunya juga kurang lebih bisa mempengaruhi untuk di lingkungan.

Tetapi dengan logika yang ada, ya tentunya itu akan sangat berkaitan erat dengan prevalensi diabetes di satu negara

Kalau untuk jangka panjang, dampak dari paparan metformin ini untuk organisme di air itu seperti apa? Apakah seperti misalkan ikan atau mikroorganisme itu kalau terpapar metformin atau mungkin masuk ke dalam tubuh mereka, dampaknya seperti apa?

Iya jadi untuk dampak metformin terhadap biota itu sudah cukup banyak sebenarnya paper-nya. Saya, ini karena banyak sebenarnya yang bisa kita lihat pada saat kita search gitu kan, banyak sekali sebenarnya yang yang menunjuk atau yang yang me-report gitu untuk dampak metformin ke berbagai biota.

Dan kalau untuk yang saya ketahui sendiri di sini nanti saya cari lagi, nanti saya bisa share lagi sebenarnya, tapi yang saya ingat adalah dari riset saya sendiri yang di blue mussel ya, yang di kerang biru itu sangat menarik untuk melihat sebenernya short exposure (paparan jangka pendek) dan juga untuk paparan jangka panjang. Karena tadi pertanyaannya adalah untuk jangka panjang seperti itu.

Karena yang kemarin saya fokusnya memang lebih apa yang terjadi di organ reproduksi kerang biru pada saat itu. Nah, ini semakin lama paparannya walaupun dengan konsentrasi yang low, yang rendah, pada saat paparannya itu semakin lama itu tingkat keparahannya di organ reproduksi di jaringan organ reproduksinya itu frekuensinya lebih tinggi seperti itu.

Jadi ada pengaruhnya seperti dan yang paling menarik juga kalau dikaitkan dengan temperatur. Nah, itu juga ada paper pada saat saya master kemarin dan di situ ada indikasi synergism atau efek sinergi antara metformin dan juga naiknya temperatur dan juga kenaikan suhu. Sehingga ini juga sebenarnya salah satu hal yang harus kita waspadai dengan keadaan global warming saat ini, nah itu juga harus kita pikirkan sebenarnya, ‘oh ya dengan naiknya suhu bumi ini dampaknya”.

Seperti apa nanti? terutama untuk kontaminan-kontaminan seperti ini yang notabene ini kontaminan biologis yang masuk dan berefek gitu kan di di tubuh biota seperti itu.

Boleh dijelaskan terkait kaitan dengan temperature dan suhu, boleh dielaborasi lagi?

Jadi itu sebenernya ada juga riset-riset yang lain tetapi berdasarkan riset yang kemarin saya lakukan di tahun 2016, itu sebenarnya simpel hanya untuk melihat efek metformin dengan temperatur dan di situ memang terjadi indikasi ada synergism atau ada sinergi antara kenaikan suhu dan juga konsentrasi metformin yang bisa kita lihat pada efek negatif di biota tersebut.

Dan sekali lagi yang saya lihat adalah apa yang terjadi di jaringan reproduksinya kerang biru pada saat itu. Sehingga kenaikan suhu itu memberikan pengaruh yang jadi efeknya itu naik secara luar biasa, efek yang tidak baik ya, efek negatifnya gitu, itu lebih parah dari tingkat keparahannya maupun dari tingkat frekuensinya untuk dideteksi di biota yang disebabkan oleh metformin tersebut. Jadi sekali lagi ini hal yang penting sebenarnya yang harus kita ingat bahwa bisa dikatakan walaupun tidak secara langsung, menunjukkan tetapi bisa kita pikirkan melalui logika tersebut.

Bahwa kenaikan suhu bumi tentu saja logikanya itu bisa juga mengakibatkan efek sinergi di efek obat-obatan apa saja yang ada di lingkungan. Bear in mind bahwa di lingkungan itu tidak hanya satu atau dua tapi campuran semua obat-obatan yang ada di situ.

Kalau untuk manusia sendiri, bahayanya temuan metformin di sungai itu seperti apa?

Iya jadi kalau untuk temuan awal tidak sampai di situ, temuan awal saya gitu ya. Temuan awal saya tidak pernah melihat efeknya pada manusia atau tidak juga melihat siklusnya itu akan kembali ke air dan sebagainya. Tetapi temuan ataupun hasil review dan juga hasil-hasil riset lainnya yang sudah dipublikasikan sebelumnya menyebutkan memang bahaya beberapa obat-obatan yang kalau tidak terdegradasi, ditambah juga memang tidak ada sistem yang akan mencegah mereka kembali ke siklus hidrologinya, itu menyebabkan ada kemungkinan obat-obatan ini bisa saja kembali dan masuk ke ground water contohnya, ataupun juga ada hal lainnya seperti cuaca ekstrem gitu kan, fenomena-fenomena yang seperti run-off ya atau ada banjir dan sebagainya, itu tentunya bisa ke mana-mana kan kalau dari sisi siklus hidrologi.

Bahayanya apa ke manusia? Sekali lagi itu bukan riset saya, saya tidak melihat sejauh itu, tetapi di sini yang ingin saya sampaikan adalah pada saat kita melihat metformin, sepengetahuan saya, [dari] kacamata ekotoksikologi, segala sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan dosis atau tidak sesuai pada peruntukannya, tentu saja tidak baik. Kalau saya tidak punya diabetes kemudian saya konsumsi untuk obat diabetes, ya tentu saja itu tidak baik untuk tubuh saya. Walaupun ini sekali lagi hanya berdasarkan logika dan opini ya, jadi tidak state by research.

Nah, yang kedua, yang ingin saya ingatkan bahwa metformin itu hanya salah satu dan kita tidak pernah dan kita harus berpikir bahwa ketika ada satu atau dua atau apalah obat-obatan di situ, itu sebagai indikator, tidak mungkin itu berdiri sendiri. Sehingga dengan logika tersebut, kalau ada cocktails of pharmaceuticals, di suatu tempat gitu kan, ada kemungkinan juga ada obat-obatan lain yang mungkin akan lebih berefek ataupun juga bahaya-bahaya yang saat ini sudah kita ketahui bersama, misalnya antibiotic resistance.

Dan itu menurut saya, yang justru dengan bahaya yang memang sudah ada di depan mata itu justru yang kita harus lebih aware dengan hal tersebut. Kalau ternyata memang ada riset-riset yang sudah menunjukkan bahwa jalurnya itu bisa masuk ke ground water, ke tap water dan sebagainya. Tentunya dikaitkan dengan bahaya, contohnya antibiotic resistance ataupun polutan-polutan baru lainnya gitu, itu justru yang harus jadi poin yang kita harus aware bersama. Karena walau bagaimanapun semuanya itu interconnected. Itu yang sebenarnya harus kita pikirkan.

Kaitannya dia sendiri dengan krisis iklim dengan temuan metformin ini seperti apa? Apakah memperparah kandungan metformin di sungai-sungai?

Iya kalau yang bisa saya lihat dari riset yang kemarin, dari riset-riset yang saya lakukan, walaupun tentunya itu tidak meng-cover keseluruhan, hanya bagian kecil saja, tetapi dari situ indikasi untuk kenaikan suhu bumi.

Menurut saya itu adalah sesuatu yang harus kita aware bahwa perubahan iklim saat ini, terutama kenaikan suhu bumi, itu tidak hanya melihat dari efek fisiknya saja, tapi juga untuk kontaminan baru dan efeknya terhadap biota itu efeknya besar seperti itu.

Itu dari yang saya pahami, dari riset saya maupun riset yang lain. Karena kalau ternyata itu bisa membuat efek negatifnya semakin parah dan ditambah juga dengan hal-hal lainnya, otomatis dengan berpikiran bahwa ‘oh ya, kalau tidak hanya metformin saja, kalau ada ratusan obat-obatan atau substansi yang di dalam air, dan ternyata diperparah dengan kenaikan suhu bumi, itu kan semakin panas berarti’. Ini kan efeknya juga akan semakin luar biasa ke biota yang di dalam lingkungan tersebut.

Kita baru berbicara suhu. Kemudian juga kalau pada saat perubahan iklim menyebabkan juga cuaca ekstrem dan sebagainya, itu sudah sangat nyata, banyak sekali di-review ataupun juga modelling dan juga riset-riset lainnya, yang melaporkan memang segala sesuatu yang berakhir dengan fenomena leaching, baik underground ataupun juga yang di surface, run-off gitu kan, karena cuaca ekstrem, banyak hujan gitu dari satu daerah ke daerah lainnya, bercampurlah di situ semua polutan. Dan kita tidak tahu, di situ akan ada apa saja sebenarnya, yang bisa menjadi efek.

Contohnya kalau ternyata di daerah tersebut karena adanya cuaca ekstrem kemudian ada leaching, kemudian juga ada run-off juga, di situ ada residential area dan ternyata mereka menggunakan ground water, pastinya kan masuk juga semuanya di situ.

Dan ini sebenarnya hal-hal yang kita kurang melihat pada saat memikirkan keterkaitan antara perubahan iklim itu sendiri ke masalah-masalah polutan baru atau ke masalah-masalah polusi seperti ini. Hal-hal yang mungkin kita pikirkan baru nanti kita dapat link-nya seperti itu.

Itu dua hal yang menurut saya yang paling krusial atau yang paling bisa dilihat keterkaitan antara polutan baru atau kontaminan baru ini dengan krisis iklim yang ada yang memang terjadi saat ini gitu.

Kalau paparan metformin di sungai-sungai ini, apakah bisa menjadi permasalahan lingkungan yang sulit dipulihkan dalam jangka panjang kalau tidak ditangani dari sekarang?

Menurut saya tentu saja. Dari logika yang tadi saya sebutkan, kalau memang isu ini sesuatu yang tidak perlu ditangani, negara-negara berkembang juga tidak mungkin menangani isu tersebut. Tapi faktanya mereka melakukannya, mereka peduli dengan hal ini, karena memang itu nyata.

Pemikirannya juga seperti yang tadi disebutkan, kalau tidak ditangani, pasti akan ada efeknya. Itu sama halnya dengan polutan apa pun. Contohnya yang sekarang kita tahu bersama soal plastik dan mikroplastik. Itu kejadiannya bukan baru-baru ini saja, sudah lama. Tapi karena tidak langsung diregulasi dan ditangani, pada akhirnya menjadi sesuatu yang sangat besar, dan kemudian membutuhkan effort yang jauh lebih besar untuk membatasi, mendaur ulang, dan mengatasi masalah tersebut.

Hal yang sama juga berlaku untuk polutan ini, dan saya rasa juga untuk polutan apa saja. Dengan isu-isu seperti ini, kalau tidak dipikirkan dan ditangani, suatu saat itu akan balik lagi ke kita. Saya hanya ingin mengingatkan, kita ini hanya punya satu bumi. Apa pun yang dilepaskan ke lingkungan itu tidak akan pindah ke mana-mana, hanya akan bersirkulasi di situ saja.

Dengan logika tersebut, kalau kita tidak punya usaha untuk meminimalisir atau menjaga supaya polutan ini tidak masuk ke rantai yang berbahaya bagi manusia, maka tidak akan ada pembatasan, dan hal-hal tersebut bisa terjadi di kemudian hari.

Apakah ada rekomendasi atau langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah banyaknya limbah medis atau polutan-polutan ini mencemari sungai-sungai di Jakarta?

Kita balik lagi ke kapabilitas, bagaimana cara menghilangkan limbah-limbah ini. Walaupun belum sepenuhnya sempurna untuk memfilter atau menghilangkan residu tersebut, teknologi sebenarnya sudah mulai berkembang.

Tetapi tentu kembali lagi, bagaimana supaya teknologi-teknologi ini bisa lebih sempurna untuk meminimalisir polutan, dan itu kembali ke riset. Teknologi IPAL dan sebagainya semakin hari semakin berkembang, tetapi juga diperlukan riset. Di sisi lain, pada saat risetnya sudah siap, di sinilah pentingnya peran pengambil keputusan dan pemangku kebijakan untuk melihat sejauh mana hasil riset bisa dipakai, misalnya untuk memfasilitasi IPAL yang strategis dan mengadopsi teknologi yang setidaknya bisa meminimalisir polutan.

Yang kedua, kembali lagi ke data. Kita akan sulit bergerak kalau tidak ada data riset. Kita tidak punya argumentasi bahwa hal A dan B perlu dilakukan kalau itu hanya asumsi. Jadi riset tetap sangat diperlukan.

Yang ketiga, awareness dari masyarakat dan dari semua pihak, dari saya, dari Anda, dari para pemangku kepentingan. Kalau kita tidak melihat adanya koneksi antara apa yang muncul di lingkungan, isu ini, cuaca ekstrem, dan dampaknya ke diri kita sendiri, maka akan sulit mendorong perubahan perilaku.

Contohnya, kalau masyarakat tidak tahu bahwa membuang obat ke lingkungan itu bisa berdampak dan bisa balik lagi ke kita, mereka mungkin menganggap itu tidak masalah. Tapi ketika ada awareness bahwa ini bisa berbahaya dan berpotensi kembali ke manusia, pola pikir dan perilaku juga bisa berubah. Karena itu, penyampaian informasi dan komunikasi sains supaya masyarakat mengerti, tahu, dan sadar menurut saya sangat penting.

Yang terakhir tentu saja soal kebijakan. Kalau kita bicara metformin, kita juga bicara polutan lain, dan itu berarti kita bicara semua yang ada di lingkungan. Sumbernya bukan hanya dari perilaku masyarakat, tetapi juga dari fasilitas lain, seperti rumah sakit, industri, atau pihak-pihak yang menggunakan IPAL.

Kalau tidak ada mekanisme untuk memonitor dan membatasi, berarti dibutuhkan regulasi yang tidak hanya membatasi, tetapi juga memiliki sanksi atau punishment bagi pelanggaran. Jadi kebijakan atau regulasi menjadi sangat penting. Itu kira-kira empat hal yang menurut saya penting.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Decode
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Alfons Yoshio Hartanto