tirto.id - Resolusi tahun baru memang tidak selalu bisa diwujudkan. Akan tetapi, kegagalan tersebut tidak pernah menghalangi orang-orang untuk terus membuat resolusi di tiap pergantian tahun.
Akhir Desember 2025 lalu, YouGov menerbitkan hasil surveinya terhadap lebih dari 1.000 orang AS. Dari sana, bisa disimpulkan bahwa kesehatan jadi prioritas utama di tahun 2026. Resolusi seperti "olahraga lebih rajin", "makan lebih sehat", dan "meningkatkan kesehatan fisik" berada di lima besar resolusi terpopuler.
Di Indonesia, menurut survei Kompas, terlihat bahwa perbaikan kondisi ekonomi jadi prioritas utama. Namun, bukan berarti kesehatan luput dari perhatian karena "lebih sehat dan bugar" pun masuk dalam lima besar resolusi terpopuler.
Dari sini bisa disimpulkan bahwa hidup lebih sehat memang jadi keinginan banyak orang. Dan untuk meraih itu, apa yang harus dilakukan pun sudah jelas. Olahraga teratur, istirahat yang berkualitas, makan makanan bergizi, hal-hal semacam itulah yang sudah seharusnya dilakukan untuk mencapai hidup yang lebih sehat.
Namun, tahukah Anda bahwa, selain itu semua, ada satu cara sederhana yang bisa dilakukan untuk membuat tubuh jadi lebih sehat?
Cara sederhana itu adalah bernyanyi.
Faedah bagi Fisik dan Mental
Bernyanyi, menurut sejumlah antropolog, sudah jadi bagian dari cara manusia berkomunikasi bahkan sebelum bahasa ditemukan. Berkomunikasi lewat vokalisasi untuk menirukan suara alam dan mengekspresikan perasaan merupakan cikal bakal dari kemampuan kita berbicara. Demikian menurut Anton Killin dalam makalahnya yang berjudul "Where did language come from? Connecting sign, song, and speech in hominin evolution".
Dengan begitu, tidak mengherankan apabila manusia, bahkan sejak sebelum lahir sekalipun, sudah mampu menunjukkan reaksi positif terhadap musik, dan hal ini berlangsung seumur hidup. Tidak ada bagian dari hidup manusia yang terlepas sepenuhnya dari musik, apa pun bentuk dan wujudnya.
Dalam makalah "A Review of the Physiological Effects and Mechanisms of Singing" yang dimuat dalam Journal of Voice, sekelompok peneliti dari Tiongkok dan AS menyebutkan bahwa bernyanyi memiliki banyak manfaat kesehatan. Utamanya untuk penderita gangguan pernapasan, penderita penyakit kronis seperti parkinson dan quadriplegia, serta mereka yang mengalami gangguan mental dan saraf seperti penderita gangguan suasana hati, demensia, dan afasia.
Dengan bernyanyi secara rutin, kapasitas vital paru-paru (lung vital capacity/LVC) mengalami peningkatan. Di samping itu, otot-otot yang berpengaruh pada pernapasan juga menjadi lebih kuat. Dua hal itulah yang membuat bernyanyi punya pengaruh positif pada penderita gangguan pernapasan dan penyakit kronis. Sementara itu, untuk penderita gangguan mental dan saraf, mereka menyebut ada "rekonfigurasi" jaringan saraf yang membuat kondisi mental seseorang jadi lebih baik lewat intervensi dalam wujud bernyanyi.
Apakah manfaatnya hanya itu? Tentu tidak. Selain pernapasan, mental, dan saraf, fungsi tubuh lain juga dapat menerima manfaat dari bernyanyi, termasuk detak jantung dan tekanan darah. Ya, menurut studi yang dilakukan Ragavendra Baliga, seorang ahli penyakit dalam dari University of Ohio, bernyanyi pada dasarnya memiliki pengaruh yang sama terhadap tubuh dengan aktivitas fisik intensitas sedang.
"Bernyanyi memantik respons fisiologis yang mirip dengan aktivitas fisik berintensitas sedang, di mana peningkatan konsumsi level oksigen, detak jantung, dan volume udara setiap kali bernapas ternyata melebihi apa yang didapatkan dari berjalan santai. Banyaknya udara yang keluar dan masuk paru-paru mengalami peningkatan signifikan saat bernyanyi dan ini semakin menegaskan manfaatnya," tulis Baliga.
Selain itu, masih menurut Baliga, bernyanyi merupakan aktivitas dengan jenis low-impact. Artinya, saat bernyanyi, kita tidak memberikan tekanan berlebih pada sendi atau sistem muskuloskeletal. Dengan demikian, orang-orang yang menderita artritis, misalnya, atau memiliki keterbatasan fisik lainnya, bisa menjadikan bernyanyi sebagai alternatif dari aktivitas konvensional.
Manfaat Bernyanyi Bersama
Lebih jauh lagi, sistem imun tubuh pun bisa ditingkatkan dengan bernyanyi. Sebuah studi dari tahun 2004 yang dilakukan sejumlah ilmuwan asal Jerman, menyebutkan bahwa bernyanyi, khususnya bernyanyi bersama dalam paduan suara, dapat meningkatkan sekresi immunoglobulin A. Menurut artikel Johns Hopkins Medicine, immunoglobulin A merupakan antibodi untuk memerangi berbagai penyakit yang bisa ditemukan di sistem pernapasan dan pencernaan, ludah, air mata, serta susu ibu.
Selain immunoglobulin A, sekresi endorfin juga dapat terjadi saat kita bernyanyi. Endorfin merupakan hormon yang diproduksi di kelenjar pituitari pada otak yang berfungsi menghilangkan rasa sakit dan meningkatkan suasana hati. Manfaat sekresi endorfin ini secara medis sangat luas, mulai dari mengurangi rasa sakit pascaoperasi, meningkatkan kualitas hidup pasien kanker, mengurangi kecemasan pasien, sampai mengurangi masalah perilaku pada penderita demensia.
Dua studi terakhir secara khusus menyoroti manfaat bernyanyi dalam sebuah grup, misalnya paduan suara. Dan ternyata, bernyanyi dalam kelompok memang memiliki manfaat lebih besar bagi seseorang ketimbang bernyanyi sendirian. Sebab, selain manfaat-manfaat kesehatan secara fisiologis, kegiatan ini juga bisa mendatangkan manfaat psikologis lebih besar.
Selain itu, bernyanyi secara berkelompok, tentu saja, juga bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan sesama manusia. Sarah Wilson dari University of Melbourne, dalam wawancara dengan BBC, menjelaskan, "Sudah terbukti, secara general, bahwa bernyanyi secara berkelompok dapat meningkatkan rasa empati dan koneksi sosial kita. Kita bisa lihat contohnya di stadion sepak bola, di gereja. Bernyanyi secara berkelompok adalah aktivitas yang dapat mempererat komunitas karena, dengan melakukan itu, kita seperti berada dalam satu suara yang sama."
Dengan meningkatnya kualitas hubungan dengan sesama manusia, kualitas kesehatan pun secara otomatis akan meningkat. World Health Organization (WHO) melaporkan pada Juni 2025 bahwa 1 dari 6 orang merasakan kesepian dan kesepian sendiri telah dikaitkan dengan kurang lebih 871 ribu kematian setiap tahunnya.
Menurut WHO, orang yang kesepian berisiko lebih tinggi terkena stroke, penyakit jantung, diabetes, penurunan kemampuan kognitif, dan kematian prematur. Solusi dari semua itu adalah memperbaiki koneksi dengan orang lain, dan bernyanyi bisa menjadi salah satu opsi yang bisa diambil.
Bernyanyi tampak sangat sederhana dan mudah dilakukan, tetapi memiliki manfaat yang luar biasa besar di baliknya. Tentu saja, bernyanyi tidak bisa jadi satu-satunya jalan untuk menuju hidup yang lebih sehat. Akan tetapi, ini bisa jadi awal yang baik untuk mewujudkan segala cita-cita atau resolusi yang berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































