tirto.id - Membuat resolusi tahun baru adalah tradisi yang dilakukan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Ketika kalender berganti ke angka yang baru, orang-orang di seluruh dunia biasanya akan berjanji pada diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang lebih baik dari tahun sebelumnya, misalnya hidup lebih sehat, bekerja lebih keras, atau mempelajari keterampilan baru.
Namun, tahukah Anda, tradisi membuat resolusi tahun baru ini bukanlah tren modern? Praktik ini ternyata telah dilakukan oleh peradaban manusia sejak ribuan tahun silam. Bahkan menurut The Standard, tradisi membuat resolusi tahun baru sudah dimulai kira-kira sejak 4000 tahun yang lalu.

Sejarah Resolusi Tahun Baru, Dari Babilonia Kuno Hingga Ritual Umat Kristen Awal
Menurut laman History, orang Babilonia Kuno konon merupakan orang pertama yang membuat resolusi tahun baru, sekitar 4.000 tahun yang lalu. Mereka juga merupakan orang pertama yang mengadakan perayaan tercatat untuk merayakan tahun baru. Meskipun, bagi orang Babilonia kuno ketika itu, tahun baru dimulai bukan pada bulan Januari, melainkan pada pertengahan Maret, saat musim tanam dimulai.
Saat perayaan tahun baru itu mereka mengadakan festival keagamaan besar selama 12 hari yang dikenal sebagai Akitu. Dalam festival itu orang Babilonia mengangkat raja baru atau memperbarui kesetiaan mereka kepada raja yang berkuasa.
Mereka juga membuat janji kepada para dewa untuk melunasi utang mereka dan mengembalikan barang-barang yang mereka pinjam. Janji-janji ini dapat dianggap sebagai cikal bakal resolusi tahun baru yang dikenal oleh orang modern.
Jika orang Babilonia menepati janji-janji yang sudah disebutkan tersebut, mereka percaya, para dewa akan memberikan berkah di tahun yang akan datang. Jika tidak, mereka akan kehilangan berkah dewa tersebut. Ini adalah suatu keadaan yang tidak diinginkan oleh siapa pun.
Praktik serupa juga terjadi pada era Romawi Kuno.Setelah Kaisar Julius Caesar yang reformis melakukan perubahan pada kalender dan menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun barusekitar tahun 46 SM, orang Romawi Kuno juga kerap melakukan praktik yang sama seprti yang dilakukan oleh orang Babilonia Kuno.
Bulan Januari sendiri dinamai sesuai dengan Janus. Ia adalah dewa berwajah dua yang rohnya menghuni pintu dan lengkungan. Hal ini memiliki makna khusus bagi orang Romawi.
Orang Romawi Kuni menganggap Janus secara simbolis, yaitu menatap ke belakang ke tahun sebelumnya dan ke depan ke masa depan. Ketika itu, orang Romawi mempersembahkan korban kepada dewa Janus dan membuat janji untuk berperilaku baik di tahun yang akan datang.
Sementara, dalam tradisi kekristenan awal, hari pertama tahun baru menjadi kesempatan tradisional untuk merenungkan kesalahan masa lalu dan bertekad untuk menjadi lebih baik di masa depan. Pada tahun 1740, pendeta Inggris John Wesley, pendiri Metodisme, menciptakan Layanan Perbaruan Perjanjian, yang umumnya diadakan pada Malam Tahun Baru atau Hari Tahun Baru.
Hal itu jugadikenalsebagai ibadah malam pergantian tahun. Ibadah ini mencakup pembacaan Kitab Suci dan nyanyian pujian, serta berfungsi sebagai alternatif spiritual bagi perayaan meriah yang biasanya diadakan untuk menyambut tahun baru.
Kini, perayaan tersebut populer dirayakan di gereja-gereja Protestan evangelis, terutama denominasi dan jemaat Afrika-Amerika. Saat ibadah malam pergantian tahun yang diadakan pada Malam Tahun Baru, banyak jemaat yang menghabiskan waktu dengan berdoa dan membuat resolusi untuk tahun yang akan datang.

Perkembangan Resolusi Tahun Baru Hingga Kini
Bagi banyak orang, praktik membuat resolusi tahun baru adalah hal yang biasa dan tidak ada hubungannya dengan tradisi keagamaan. Kini, kebanyakan orang membuat resolusi hanya untuk diri mereka sendiri dan fokus sepenuhnya pada perbaikan diri.
Menurut penelitian terbaru, meskipun sebanyak 45 persen orang Amerika mengatakan mereka biasanya membuat resolusi Tahun Baru, hanya 8 persen yang berhasil mencapai tujuan mereka. Namun, hal itu ternyata tidak menghentikan orang untuk membuat resolusi tahun baru. Resolusi kini telah menjadi upaya pengembangan diri yang bersifat personal.
Pada abad ke-19 ungkapan "resolusi tahun baru" mulai populer digunakan dalam literatur dan surat kabar. Pada masa ini, resolusi masih sering dikaitkan dengan perbaikan karakter dan moralitas individu.
Kemudian, pada era Modern, yaitu pada abad ke-20 hingga Sekarang, fokus resolusi tahun baru mulai bergeser secara drastis ke arah self-improvement yang bersifat fisik dan finansial. Berdasarkan data dari berbagai sumber, resolusi paling umum saat ini meliputi:
- Menurunkan berat badan atau olahraga rutin.
- Berhenti merokok atau kebiasaan buruk lainnya.
- Manajemen keuangan dan menabung.
- Mempelajari hobi atau keterampilan baru.
Lantas, mengapa tradisi resolusi tahun baru masih tetap bertahan?

Mengapa Tradisi Resolusi Tahun Baru Masih Tetap Bertahan?
Meskipun banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang gagal mempertahankan resolusinya di bulan Februari, tradisi ini tidak pernah luntur. Mengapa demikian?
Ada istilah, "The Fresh Start Effect", istilah inimerupakan hal yang sangat psikologis. Secara psikologis, manusia memang membutuhkan "penanda waktu" untuk memisahkan masa lalu yang penuh kegagalan dengan masa depan yang penuh harapan. Nah, pergantian tahun berfungsi sebagai semacam reset button mental, atau tombol di dalam pikiran yang berfungsi untuk mengulang kembali.
Berikut adalah alasan mengapa tradisi ini tetap bertahan:
- Optimisme Manusia: Manusia secara alami cenderung optimis terhadap masa depan. Tahun baru memberikan narasi bahwa "saya bisa menjadi orang yang berbeda, dan menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya."
- Kebutuhan akan Kontrol: Membuat tujuan membantu manusia merasa memiliki kendali atas hidup yang sering kali terasa kacau atau tidak pasti.
- Ritual Kolektif: Karena dilakukan secara massal di seluruh dunia, ada rasa solidaritas dan dukungan sosial saat semua orang membicarakan perubahan positif secara bersamaan.
- Meskipun bentuk dan tujuannya telah berubah selama ribuan tahun, inti dari resolusi tahun baru tetap sama, yaitu keinginan manusia untuk memperbaiki diri dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Jadi, bagi yang ingin membuat resolusi tahun baru, jangan pernah ragu untuk melakukannya. Tradisi kuno ini terbukti berhasil menjadi salah satu pendorong banyak manusia melakukan hal-hal yang lebih baik di tahun yang baru. Resolusi juga terbukti berhasil menjadi salah satu motivasi awal untuk menciptakan the best version of ourself atau yourself.
Anda ingin membaca artikel menarik lainnya seputar tahun baru? Jika iya, silakan cek tautan berikut: Link Kumpulan Artikel Tahun Baru
Editor: Lucia Dianawuri & Addi M Idhom
Masuk tirto.id




































