Menuju konten utama
Edusains

Kukira Kau Melamun, Nyatanya Kau Cuma Nge-blank

Kondisi tidur bisa memicu nge-blank. Begitu juga kalau terlalu tertekan, baik oleh pekerjaan maupun kuliah. Tapi, yang jelas, jangan samakan dengan melamun.

Kukira Kau Melamun, Nyatanya Kau Cuma Nge-blank
Ilustrasi Melamun. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kata demi kata sudah terlewati, kalimat demi kalimat terbaca, paragraf demi paragraf sudah terlampaui, tetapi saat hendak membalik halaman, seketika itu pula Anda sadar dan bertanya-tanya: "Apa, ya, isi halaman tadi? Kok, gak ada isinya yang masuk sama sekali?"

Fenomena seperti itu sebenarnya sangat lazim ditemukan. Sesaat Anda tahu persis apa yang sedang dilakukan, tetapi sejurus kemudian segalanya buyar, seakan-akan otak berhenti berfungsi untuk beberapa saat. Secara kolokial, di Indonesia, fenomena ini disebut nge-blank.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi pada otak saat pikiran nge-blank?

Istilah nge-blank tidak jauh berbeda dari istilah yang diberikan para ilmuwan untuk menamai fenomena ketika pikiran mendadak kosong. Dalam studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychological and Cognitive Sciencespada Desember 2025, sekelompok peneliti dari Universitas Sorbonne, Prancis, menyebutnya sebagai mind blanking. Artinya, ya, kurang lebih pikiran yang nge-blank.

Dalam studi itu, Esteban Munoz-Musat dkk. berusaha mencari tahu, bagaimana bisa pikiran manusia tiba-tiba berhenti begitu saja? Untuk itu, mereka pun melakukan eksperimen yang diikuti oleh 62 orang dewasa. Dalam eksperimen tersebut, para partisipan diminta menjalankan tugas sederhana, tetapi sifatnya monoton dan berkelanjutan. Mereka harus merespons rangsangan visual tertentu yang muncul di layar dengan menekan tombol tertentu. Di saat bersamaan, aktivitas otak para partisipan direkam menggunakan mesin Electroencephalogram (EEG).

Di tengah-tengah tugas, secara acak para peneliti tiba-tiba akan menghentikan aktivitas peserta. Mereka kemudian diberi pertanyaan: sebelum aktivitas dihentikan, apa yang ada dalam pikiran Anda? Ada empat pilihan yang diberikan, yaitu fokus pada tugas, memikirkan hal tertentu, melamun, atau merasa pikirannya benar-benar kosong. Para partisipan pun diminta menjawab sesuai dengan keadaan yang mereka alami.

Hasilnya? Tak jarang fenomena yang disebut nge-blank itu terjadi. Hampir semua partisipan melaporkan mengalami kondisi nge-blank atau mind blanking setidaknya sekali selama eksperimen berlangsung. Bahkan, menurut laporan Munoz-Musat cs., banyak dari mereka yang nge-blank lebih dari satu kali sepanjang eksperimen. Ini mengindikasikan, mind blanking sesungguhnya merupakan fenomena yang lumrah terjadi.

Nah, ketika mind blanking terjadi, terlihat pula perubahan perilaku peserta secara nyata. Dibandingkan saat berada dalam kondisi lainnya, peserta yang sedang nge-blank bereaksi lebih lambat dan acap kali gagal merespons rangsangan dari layar. Dengan kata lain, saat pikiran nge-blank, kemampuan otak merespons rangsangan dari lingkungan sekitar ikut menurun.

Melalui rekaman EEG pun kemudian terlihat bahwa saat pikiran nge-blank, terjadi penurunan konektivitas antarbagian otak yang letaknya berjauhan. Dalam kondisi normal, bagian belakang otak (yang memproses penglihatan) dan bagian depan (yang berperan mengontrol perhatian) saling berkomunikasi dengan pola aktivitas listrik secara sinkron. Kerja sama antarbagian inilah yang memungkinkan kita memproses informasi dalam kesadaran penuh.

Saat mind blanking terjadi, koneksi tersebut memang tidak putus, melainkan melemah. Tiap-tiap bagian otak masih aktif, tetapi tidak tersinkronisasi dengan baik. Contohnya ketika sedang membaca, mata kita melihat huruf demi huruf terangkai menjadi kata, kalimat, dan paragraf, tetapi semua informasi itu tidak diproses sebagaimana mestinya. Alhasil, respons pun menjadi lebih lambat dari biasanya.

Jadi, apa sebenarnya yang terjadi di otak saat pikiran sedang nge-blank? Jawabannya adalah tidak ada. Ya, sungguh-sungguh tidak ada. Mind blanking bukan bentuk ekstrem dari kurang fokus, melainkan karena pikiran, ketika itu terjadi, ya, memang sedang tidak ada isinya. Kesadaran tetap berlangsung, tetapi tidak ada pikiran, citra, atau narasi apa pun yang diproses.

Kabar baiknya, kondisi tersebut bersifat sementara dan dinamis alias bisa berubah. Hanya karena pikiran sedang nge-blank, bukan berarti otak rusak, mati, atau berhenti berfungsi. Otak hanya masuk dalam fase singkat, ketika mekanisme yang biasanya menghasilkan pikiran sedang tidak bekerja optimal. Namun, setelah fase itu lewat, semuanya akan kembali seperti sedia kala.

Ilustrasi Melamun

Ilustrasi Melamun. foto/istockphoto

Berbeda dengan Melamun

Mind blanking tidak sama dengan melamun atau mind wandering. Saat melamun, pikiran justru tidak kosong. Dalam kondisi ini, perhatian seseorang memang terlepas dari hal-hal di depan mata. Akan tetapi, kesadaran tetap diisi oleh berbagai pikiran internal, entah itu kenangan, rencana, bayangan, atau skenario-skenario lainnya, yang tidak berkaitan dengan tugas yang sedang dijalankan atau rangsangan yang dihadapi.

Artinya, melamun merupakan kondisi aktif. Studi Munoz-Musat di atas secara khusus menempatkan mind wandering dalam kategori khusus dan, setelah ditelaah, pola deviasinya pun berbeda. Saat melamun, para partisipan memang mengalami penurunan performa dibandingkan dengan ketika sedang 100 persen fokus. Namun, penurunannya tidak separah saat mind blanking.

Penjelasan lebih mendalam soal mind wandering datang dari penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan Osaka University. Para peneliti mengamati aktivitas neuron ketika perhatian subjek penelitian tidak terfokus pada stimulus yang diberikan. Mereka pun menemukan, ketika melamun, neuron-neuron tidak menjadi pasif atau acak, melainkan membentuk pola aktivitas terstruktur layaknya ketika memproses pengalaman nyata.

Temuan Osaka University mengindikasikan, saat mind wandering, otak seolah sedang merekonstruksi atau memutar ulang pengalaman internal. Alih-alih menggunakan rangsangan nyata yang ada di depan mata, otak menggunakan memori serta asosiasi yang sudah tertanam sebelumnya sebagai bahan utama aktivitas mental.

Sementara itu, artikel Harvard Medical School menjelaskan saat daydreaming (melamun), jaringan otak yang berkaitan dengan memori, refleksi diri, dan simulasi masa depan, menunjukkan peningkatan aktivitas. Menurut mereka, melamun bukan bagian dari gangguan perhatian (attention disorder), melainkan cara alami otak bekerja, terutama dalam berencana, memproses emosi, dan berkreasi. Pikiran tetap aktif, hanya saja tidak mengikuti tuntutan rangsangan yang lebih mendesak dari lingkungan.

Pada prinsipnya, melamun masih bermanfaat bagi diri seseorang. Sementara itu, nge-blank adalah kegagalan sementara yang, meski tidak berbahaya bagi otak, juga tidak ada manfaatnya. Lantas, adakah cara mencegah mind blanking?

Ilustrasi Melamun

Ilustrasi Melamun. foto/istockphoto

Penyebab dan Cara Mengatasi Nge-Blank

Dalam sebuah artikel yang dimuat di ScienceDaily, sekelompok peneliti menekankan, fenomena mind blanking berkaitan erat dengan tingkat kesiagaan tubuh (arousal), yakni seberapa siap sistem saraf dalam mempertahankan aktivitas kognitif stabil.

Manusia mengalami mind blanking sekitar 5 hingga 20 persen dari waktu bangunnya, meskipun frekuensinya sangat bervariasi antarindividu. Episode nge-blank cenderung muncul di akhir tugas yang menuntut perhatian berkepanjangan, setelah kurang tidur, atau seusai aktivitas fisik intens. Mind blanking juga bisa terjadi secara tiba-tiba dalam kondisi bangun normal, tanpa pemicu jelas.

Saat mind blanking terjadi, detak jantung dan ukuran pupil menurun, sementara aktivitas listrik otak menunjukkan gelombang lambat yang menyerupai pola tidur. Dalam beberapa kasus, para peneliti bahkan menemukan sesuatu yang disebut sebagai local sleep episodes, atau kondisi ketika sebagian wilayah otak tampak “tertidur”, sementara tetap terjaga secara fisik. Akibatnya, mekanisme kognitif, seperti memori, bahasa, dan perhatian, tidak lagi terkoordinasi dengan baik.

Menariknya, mind blanking tidak hanya dipicu oleh arousal yang terlalu rendah, seperti kelelahan dan mengantuk. Arousal yang terlalu tinggi, misalnya saat seseorang berada di bawah tekanan ekstrem atau berpikir terlalu cepat, juga dapat memicu kegagalan serupa.

Dalam keadaan tersebut, peningkatan aktivitas saraf di wilayah tertentu justru berujung pada perlambatan fungsi kognitif, sehingga alur pikir terhenti alih-alih menjadi lebih tajam.

Karena variasinya luas, para peneliti mengusulkan agar mind blanking dipahami sebagai sekumpulan pengalaman dinamis yang disebabkan oleh perubahan tingkat kesiagaan tubuh, bukan sebuah fenomena tunggal. Dengan kata lain, nge-blank lebih mungkin terjadi ketika otak berada di luar rentang arousal optimal, entah karena terlalu lelah atau tertekan.

Dengan demikian, cara agar tidak sering nge-blank, pada dasarnya, adalah dengan menjaga keseimbangan kondisi tubuh dan pikiran. Istirahat yang cukup, mengelola stres, memberi jeda dari satu tugas ke tugas lainnya, sampai mengurangi beban kognitif merupakan cara paling efektif untuk mengurangi potensi nge-blank.

Baca juga artikel terkait FUNGSI OTAK atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin