Menuju konten utama

Tak Disangka, Rasa Bosan Bisa Memberi Energi Positif bagi Anak

Kebosanan memberi anak ketenangan batin yang membantu imajinasi dan kesadaran diri.

Tak Disangka, Rasa Bosan Bisa Memberi Energi Positif bagi Anak
Ilustrasi Anak Bosan. foto/istockphoto

tirto.id - Hari libur sekolah yang panjang kerap membuat orang tua "mati gaya" Segala aktifitas mengisi liburan sudah disiapkan, tapi hari libur belum juga berakhir. Gelagat rasa bosan mulai tampak, haruskah orang tua menolong anak mengatasi rasa bosannya?

Belum lama, sebuah riset tahun 2018 menemukan bahwa terlepas dari latar belakang pendidikan, ras dan besarnya pendapatan, orang tua merasa yakin bahwa anak-anak harus mengikuti kegiatan ekstrakurikuler supaya tidak mudah mengalami kebosanan.

Tetapi Erin Westgate Ph.D, asisten dosen psikologi di Universitas Florida menyatakan bahwa mengalami kebosanan itu normal, alami, dan sehat.

Kebosanan menurut Erin, timbul karena hal yang kita lakukan itu terlalu mudah, terlalu sulit, atau kurang bermakna. Rasa bosan ini dapat mengarahkan anak pada kesempatan untuk melakukan berbagai hal yang menarik dan memuaskan.

Erin yang meneliti tentang rasa bosan, dalam risetnya juga menyebut bahwa rasa bosan dapat menghasilkan rentang perilaku yang luas, yaitu perilaku positif, netral, dan negatif. Kegiatan melamun yang dipicu rasa bosan masuk kategori positif. Sedangkan mengatasi rasa bosan dengan ngemil termasuk netral, dan menggunakan narkoba atau hal-hal buruk lainnya masuk kategori negatif.

Rasa bosan merupakan kondisi mental yang bisa dialami oleh siapa saja, termasuk juga anak-anak.

Mengapa rasa bosan itu timbul?

Evi Sukmaningrum, Ph.D, Psikolog Klinis Dewasa dan Keluarga dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta mengatakan bahwa, bosan dapat terjadi sebagai hasil dari kejadian atau hal-hal yang dihayati, dipikirkan, maupun diinterpretasikan oleh anak sebagai sesuatu yang kurang atau tidak menarik, repetitif, atau terprediksi, sehingga tidak ada sesuatu yang menantang atau membuat ingin tahu lebih lanjut.

Akan tetapi bosan pun bisa terjadi karena mereka terlalu terstimulasi, atau saat mereka lapar, lelah, atau kurang sehat.

“Sebagaimana bentuk perasaan lainnya, rasa bosan juga merupakan hal yang wajar, dan sinyal bagi seseorang - mulai dari usia dini hingga tua - bahwa ada sebuah situasi yang sedang diinterpretasikan sebagai rasa ‘bosan’.”

Bosan, Sumber Energi Positif

Setiap orang di setiap usia pernah mengalami kebosanan. Bayi pun bisa merasa bosan berada pada satu posisi; terlentang sepanjang hari, dan dia akan rewel sampai ditolong mendapatkan posisi baru yang membuatnya merasa mengalami sesuatu yang berbeda.

Stephanie Lee, doktor di bidang psikologi dalam artikel “The Benefits of Boredom” dalam jurnal Child Mind Institute menyatakan, kebosanan bisa menjadi sumber energi yang penting untuk membangun kepribadian anak. Rasa bosan dapat membantu anak mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan rasa percaya diri.

Evi, yang meraih gelar Doktor dari University of Illinois at Chicago menjelaskan bagaimana rasa bosan itu bisa menjadi sumber energi untuk membangun kepribadian anak.

“Betul bahwa sebenarnya rasa bosan merupakan sebuah pengalaman yang bisa memberikan efek positif bagi anak karena di "ujung" sana ia juga akan belajar proses mulai dari; mengalami rasa bosan, menikmati kebosanan tersebut, mengelola kebosanan hingga mengatasinya.”

Proses itulah, menurut Evi yang merupakan energi untuk membangun kepribadian anak menjadi lebih positif. Sehingga ketika ia mendapatkan lagi pengalaman terkait rasa bosan, ia akan "belajar ulang" tentang bagaimana keseluruhan proses hingga akhir.

“Dari proses tersebut maka anak akan mengembangkan kemampuan untuk berpikir kreatif, strategis, dan ketika ia mampu mengelola dan mengatasinya, maka akan menambah rasa percaya dirinya,” jelas Evi yang saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Pusat Penelitian HIV AIDS di Unika Atma Jaya.

Ayumi Tanggo (40), ibu dari 2 anak perempuan, Shiloh (10) dan Haven (7) punya keyakinan bahwa, kreativitas sering datang dari rasa bosan.

"Semua orang pernah merasa bosan, dan rasa bosan adalah hal yang sangat manusiawi."

Ayumi yakin bahwa kebosanan itu sesuatu yang datang dan pergi, dan dapat diatasi. Ia tidak khawatir saat anak-anaknya mengalami rasa bosan. Mereka punya caranya masing-masing untuk mengatasinya.

Lalu, apakah boleh kebosanan itu diatasi dengan duduk diam, melamun, dan membiarkan otak bebas mengembara?

“Boleh saja,” kata Dr. Vanessa Lapointe dari Melbourne Child Psychology & School Psychology Services. Dalam artikelnya “Why You Should Do Nothing When Your Child Says ‘Im Bored’” ia justru menyarankan agar anak-anak dibiarkan duduk dalam kebosanan mereka supaya dunianya jadi senyap, sehingga mereka dapat mendengarkan diri mereka sendiri.

Vanessa ingin mengatakan bahwa kondisi bosan yang memuncak dapat mengarahkan anak untuk berkontemplasi. Ia juga menyatakan bahwa anak-anak butuh waktu untuk diri sendiri, berhenti dari serbuan dunia luar untuk melamun, mengejar pemikiran, dan menemukan sendiri bakat dan minatnya.

Katanya, biarkan saja pikiran anak mengembara karena itu penting bagi kesejahteraan dan fungsi mentalnya. Dengan demikian rasa bosan ini menjadi sinyal bagi seseorang untuk kembali mendapatkan kewarasannya.

“Kebosanan memberi anak ketenangan batin yang membantu imajinasi dan kesadaran diri. Pada saat bosan, anak mulai melamun, dan melamun itu memicu pemikiran kreatif. Ketika anak tidak melakukan apa-apa, sebenarnya mereka sedang berimajinasi tentang sesuatu yang bahkan isinya bisa sangat kreatif,” kata Evi.

Infografik Rasa Bosan Untuk Anak

Infografik Rasa Bosan Untuk Anak. tirto.id/Ecun

Bosan bukan Hal Tabu

Rasa bosan bisa menjadi sumber energi positif kalau orang tua membantu mendampingi anak dalam proses belajar mengalami bosan.

“Tapi yang umumnya terjadi, orang tua panik, takut, menolak, dan malah marah ketika anak merasa bosan. Padahal rasa bosan ini harus dilihat sebagai bagian dari pengayaan perasaan anak. Kalau anak dilarang bosan, sama dengan melarang anak untuk marah, sedih, patah semangat dan perasaan lainnya,” ujar Evi.

Akhirnya perasaan yang awalnya merupakan hal wajar malah direspon berlebihan sehingga anak justru belajar bahwa rasa bosan ini negatif, harus dihindari, tabu, dan sebagainya.

“Alih-alih membangun proses pengembangan diri yang konstruktif, malah yang terjadi anak ikut frustrasi, gagal, marah, takut, panik, saat mengalami kebosanan,” kata Evi.

Kegiatan ekstrakurikuler menjadi pilihan bagi banyak orang tua, seperti yang ditemukan dalam sebuah survei di AS terhadap 3.000 orang tua. Respon paling umum untuk pertanyaan mengatasi rasa bosan pada anak adalah dengan memberi mereka kegiatan ekstrakurikuler.

Artinya anak-anak menggunakan waktunya dengan berpindah-pindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain yang terstruktur, sehingga hanya punya sedikit waktu untuk berdiam diri, membuat keputusan sendiri mau berbuat apa.

“Kegiatan yang melibatkan olahraga, musik, menari, telah terbukti bermanfaat bagi perkembangan fisik, kognitif, budaya dan sosial anak. Namun akan lebih baik bila berbagai alternatif kegiatan tersebut juga direncanakan bersama anak sehingga mereka tetap belajar bagaimana agar mereka tetap belajar terlibat dan terhubung dengan dunianya - kalau anak usia prasekolah bisa dimulai dari orang tuanya sendiri,” kata Evi.

Lebih lanjut ia mengingatkan bahwa di sela rangkaian kegiatan itu anak perlu silent time atau me time untuk dirinya sendiri tanpa beraktifitas.

“Anak-anak butuh waktu untuk mereka sendiri, berhenti dari tuntutan maupun tekanan dunia luar - untuk sekadar melamun, mengejar pemikiran dan pekerjaan mereka sendiri, dan menemukan minat bakat pribadi.”

Anak-anak yang tidak punya waktu bebas untuk melakukan kegiatan yang tidak terstruktur cenderung lebih mudah cemas dan mudah depresi.

Pengasuhan yang intensif menuntut orang tua untuk memberikan hiburan yang nyaris konstan untuk anak-anak mereka, sehingga mereka tidak punya waktu untuk bosan, tidak punya waktu untuk memulai aktivitas mereka sendiri, ungkap Peter Gray, Ph.D, psikolog dan guru besar emeritus di Boston College, penulis buku Free to learn: Why Unleashing the Instinct to Play Will Make Our Children Happier, Most Self Reliant and Better Students for Live.

Kedua anak Ayumi mengikuti beberapa kegiatan ekstrakurikuler.

“Mereka les menari dan musik di weekday, berenang di akhir minggu. Kalau tidak ada kegiatan dan sedang didera rasa bosan, mereka akan main berduaan atau main sendiri-sendiri. Shiloh menggambar, Haven tidur. Kalau ada barang-barang di rumah tiba-tiba hilang, Haven pasti sedang berbuat sesuatu. Wadah sikat gigi, kancing baju dan tutup botol jadi mainannya,” ujar Ayumi yang tinggal di Jakarta.

Menurut Ayumi, membantu anak mengatasi rasa bosan itu tricky.

“Saya mengajarkan mereka untuk tidak beralih pada gadget atau jalan-jalan ke mal kalau lagi bosan. Penggunaan gadget saya batasi 2 jam sehari. Berarti saya sendiri juga harus memberi contoh positif untuk mengatasi rasa bosan,” kata Ayumi.

Monika Erika (37), ibu dari Lukas (7) bisa menemukan tanda-tanda kebosanan pada anaknya. Sejauh ini Monika hanya melakukan antisipasi agar ia tidak melakukan hal-hal berbahaya.

“Kalau lagi bosan dia akan melakukan akrobatik. Kalau bosan di dalam mobil misalnya, dia lompat dari jok depan ke jok belakang. Atau mulai iseng, ganggu adiknya,” ujar Monika.

Tanda-tanda lain Lukas merasa bosan adalah melakukan banyak hal yang random dengan durasi singkat-singkat. “Beberapa menit nyiram tanaman, lalu ambil sepeda. Main sepeda sebentar, lalu melakukan hal lain lagi,” kata Monika.

Namun begitu ia tidak memberi Lukas aktifitas lain. “Supaya Lukas mengenal rasa bosan dan belajar mengatasi sendiri kebosanannya. Saya dan suami memastikan dia tidak melakukan hal-hal berbahaya,” tutur Monika.

Di usia berapa anak diharapkan dapat mengatasi sendiri rasa bosannya?

“Dalam tahap perkembangan anak, keinginan untuk melakukan sesuatu secara mandiri biasanya muncul di usia tiga atau empat tahun. Orang tua banyak yang belum menyadari bahwa anaknya yang mudah bosan perlu mengembangkan inisiatif yang lebih mandiri, sehingga akhirnya orang tua mengambil peran untuk menawarkan lebih banyak stimulasi dalam bentuk kegiatan atau hiburan."

"Tentu saja ini dapat membantu anak, namun bila orangtua terus menerus mengambil alih, maka anak tersebut menjadi sangat tergantung pada sumber rangsangan eksternal. Idealnya orang tua berperan sebagai fasilitator yang mampu memberikan rangsangan bagi anak untuk melakukan hal-hal apapun dalam mengatasi kebosanan mereka,” kata Evi.

Caranya?

“Bantu anak Anda untuk melihat bahwa rasa bosan ini sebagai hal yang wajar dan bukan kekurangan. Bantu mereka menghadapi rasa tidak nyaman tersebut. Ketika mereka dilanda kebosanan, ajak mereka untuk melihat bahwa mereka membutuhkan ruang dan waktu untuk menciptakan hiburan bagi diri mereka sendiri."

"Berikan dorongan bahwa anak mampu berkreasi dalam mengisi kebosanannya. Ajak mereka melihat benda apapun yang ada di sekitar mereka untuk dijadikan permainan, hiburan maupun inspirasi dalam berpikir kreatif, menumbuhkan rasa ingin tahu untuk berkreasi. Misalnya, kardus untuk membuat rumah-rumahan, kulit buah untuk hiasan dan lain-lain. Intinya, bantu anak untuk terhubung kembali dengan dunianya,” pungkas Evi.

“Kalau anak bilang, ‘Aku bosan!’ Beri saja senyuman, lalu jawab, ‘saya suka banget sama rasa bosan,” saran Vanessa Lapointe.

Dengan demikian, anak belajar mandiri mengelola rasa bosan. Lagipula, kalau melamun atau tidur jadi pilihan, mengapa tidak?

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan lainnya dari Imma Rachmani

tirto.id - Gaya hidup
Kontributor: Imma Rachmani
Penulis: Imma Rachmani
Editor: Lilin Rosa Santi