tirto.id - Spekulasi soal ucapan Lionel Messi di ruang ganti sebelum final Piala Dunia 2026 terus menjadi perbincangan selepas Argentina kalah 0-1 dari Spanyol. Potongan kata-kata sang kapten Albiceleste yang memuat kalimat "mari lupakan semuanya" memicu dugaan konspirasi di media sosial, termasuk tudingan bahwa hasil pertandingan sudah diatur.
Menanggapi rumor tersebut, ayah gelandang Argentina, Rodrigo De Paul, Roberto De Paul, membantah tuduhan yang beredar. Ia tidak percaya dengan berbagai teori yang mengaitkan kekalahan Argentina dengan dugaan pengaturan hasil laga.
"Ini adalah Piala Dunia. Saya tidak berpikir seorang pemain mempersiapkan diri selama bertahun-tahun hanya agar seseorang mengatakan padanya bahwa dia harus kalah,” ujar ayah De Paul dalam wawancara bersama Radio con Vos.
Roberto De Paul juga menilai banyak pernyataan pemain dan Timnas Argentina dipotong di luar konteks sampai memicu kontroversi yang sebenarnya tidak ada.
Sebelumnya, berbagai unggahan di media sosial menafsirkan kalimat "let's forget everything" yang diucapkan Messi sebagai kode adanya tekanan dari pihak luar atau dugaan campur tangan terhadap hasil pertandingan.
Namun, keluarga para pemain menegaskan bahwa interpretasi tersebut tidak benar.
Senada dengan Roberto De Paul, ayah Alexis Mac Allister, Carlos Mac Allister, juga membantah isu adanya masalah di balik layar sebelum laga final.
Dalam wawancara dengan Radio La Red, mantan pemain Boca Juniors itu mengatakan banyak orang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Spanyol memang tampil lebih baik pada laga puncak.
Carlos bahkan mengaku sempat bertanya langsung pada putranya mengenai situasi di ruang ganti sebelum laga final.
Menurut penjelasan Alexis Mac Allister, ucapan Messi sama sekali tidak terkait dengan isu nonteknis maupun dugaan tekanan dari luar. Sebaliknya, pesan sang kapten hanya bertujuan mengajak rekan-rekannya melupakan tekanan di luar lapangan dan fokus memainkan sepak bola seperti biasa.
Messi disebut meminta tim untuk mengalirkan bola dengan tenang, membangun kombinasi umpan pendek dan segitiga, serta menghindari terlalu sering main bola panjang yang berisiko menjadi duel 50-50.
Dengan demikian, kalimat "let's forget everything" merujuk pada ajakan agar para pemain berkonsentrasi penuh pada permainan, bukan pada tekanan jelang final.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, juga mendapat pertanyaan serupa mengenai rumor tersebut dalam konferensi pers seusai laga. Ia mengaku tidak mengetahui isu yang ramai dibahas di media sosial.
"Saya tidak tahu, saya tidak melihat media sosial. Saya tidak tahu sama sekali tentang apa yang Anda bicarakan," ujar Scaloni, dikutip dari Marca.
Adapun Rodrigo De Paul juga turut menyampaikan tanggapan melalui akun Instagram pribadinya. Gelandang tersebut mengkritik pihak-pihak yang menyebar teori konspirasi selama Piala Dunia berlangsung.
"Saya melihat begitu banyak orang menunggu kejatuhan kami, menyebar teori konspirasi tanpa dasar sepanjang Piala Dunia untuk meredakan rasa sakit mereka sendiri," tulis De Paul.
Kendati kecewa gagal membawa pulang trofi juara, De Paul menegaskan dirinya tetap bangga bisa mengenakan jersey timnas Argentina dan mewakili negaranya di ajang sepak bola terbesar di dunia.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id

































