tirto.id - Video Lionel Messi yang memberi motivasi kepada rekan setimnya sebelum final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol viral di media sosial. Potongan video tersebut memicu berbagai teori konspirasi setelah kapten Argentina itu mengucapkan kalimat, "Lupakan semuanya", sesaat sebelum tim masuk lapangan.
Rekaman itu diambil ketika skuad Argentina bersiap meninggalkan ruang ganti MetLife Stadium menuju lapangan untuk menghadapi Spanyol di partai final Piala Dunia 2026. Dalam video tersebut, Messi tampak berusaha menenangkan rekan setim yang tengah menghadapi tekanan besar jelang laga.
"Ayo, teman-teman. Tetap tenang. Yang terpenting kita harus tenang. Mari fokus bermain saja. Lupakan semuanya. Lupakan semuanya. Mari bermain saja," kata Messi.
سكالوني في المؤتمر الصحفي حكا فيه امور حدثت قبل النهائي لن اتحدت عنها احترامًا للبطولة ،ميسي قبل المباراة بحكي هيا يا رفاق دعونا ننسى ما حدث ولا كانه صار اشي ، ماذا حدث شو صار ايش فيه حد يطلع يحكي ؟
— Mansur (@Ryyad10) July 20, 2026
لانه مستحيل الشكل الي شفته امس بدون سبب pic.twitter.com/ZI6W4RgnrP
Ucapan "lupakan semuanya" kemudian viral di media sosial. Sebagian warganet mengaitkan dengan berbagai teori konspirasi mengenai final yang berakhir dengan kemenangan Spanyol 1-0. Mereka menghubung-hubungkan dengan cederanya Lisandro Martinez dan Cristian Romero, hingga kartu merah untuk Enzo Fernandez.
Namun, media Argentina Clarin mengungkap bahwa ucapan Messi memiliki konteks berbeda dari berbagai spekulasi yang beredar. Menurut laporan media tersebut, sang kapten sengaja mengajak seluruh pemain mengabaikan berbagai tekanan dan polemik yang muncul jelang pertandingan.
Di internal tim Albiceleste, sejumlah pemain disebut merasa terganggu oleh kritik dan komentar dari kubu Spanyol sebelum final berlangsung. Salah satu pernyataan datang dari bek Spanyol, Aymeric Laporte. Sebelum laga, ia sempat menyinggung sejumlah keputusan wasit di laga-laga Argentina selama Piala Dunia 2026.
Situasi tersebut memicu ketegangan di kubu Argentina. Karena itu, Messi meminta seluruh pemain melupakan segala hal di luar pertandingan agar bisa berkonsentrasi penuh menghadapi laga final.
Adapun ketegangan kedua tim bahkan masih berlanjut setelah pertandingan usai. Selepas Spanyol menyegel kemenangan 1-0 lewat gol Ferran Torres pada menit ke-106, bek Argentina Nicolas Otamendi terlibat adu argumen dengan kapten Spanyol, Rodri.
Otamendi disebut mempersoalkan sejumlah komentar yang sebelumnya dilontarkan pemain Spanyol, termasuk Laporte, jelang partai final.
Spanyol Memang Unggul Statistik di Final Piala Dunia 2026
Terlepas dari berbagai teori konspirasi yang beredar di media sosial, statistik resmi FIFA menunjukkan Spanyol memang tampil lebih dominan sepanjang pertandingan.
La Roja menguasai 60 persen penguasaan bola, sedangkan Argentina hanya mencatatkan 32 persen. Spanyol juga melepas 20 tembakan dengan 12 di antaranya tepat sasaran. Sebaliknya, Argentina hanya mampu menghasilkan dua tembakan dan tidak satu pun mengarah ke gawang. Tembakan La Albiceleste baru tercipta ketika laga berjalan 116 menit.
Dominasi Spanyol juga terlihat dari distribusi bola. Juara dunia 2026 itu mencatatkan 878 operan dengan 789 operan sukses, sementara Argentina hanya membukukan 476 operan dengan 375 operan akurat. Spanyol juga memperoleh sembilan sepak pojok, sedangkan Argentina hanya empat.
Dari sisi disiplin, Argentina menerima 7 kartu kuning dan 2 kartu merah, termasuk untuk Leandro Paredes usai laga. Sebaliknya, Spanyol menyelesaikan pertandingan tanpa menerima kartu kuning maupun kartu merah.
Hingga kini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ucapan Messi berkaitan dengan dugaan rekayasa pertandingan. Statistik FIFA pun memperlihatkan Spanyol unggul dalam penguasaan permainan, peluang, sampai akurasi operan.
Data itu memperkuat bahwa kemenangan 1-0 Spanyol memang lahir dari performa yang lebih baik di lapangan, bukan karena adanya konspirasi.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id


































