tirto.id - Seorang fan Argentina membuat petisi di Change.org, memohon agar FIFA menggelar pertandingan ulang atau replay final Piala Dunia 2026. Apa mungkin duel Argentina vs Spanyol digeber ulang oleh FIFA?
Diketahui, Sosok Gix S membuat petisi replay final Piala Dunia 2026 dengan alasan bahwa sejumlah keputusan wasit Slavko Vincic dan timnya memengaruhi jalannya pertandingan. Sampai artikel ini ditulis, petisi itu sudah panen lebih dari 94.000 tanda tangan.
Dalam petisinya, Gix S meminta FIFA untuk memeriksa berbagai insiden selama laga final Argentina vs Spanyol.
"Ini adalah kekecewaan besar bagi para pemain, pelatih, dan, yang terpenting, bagi para penggemar yang mendambakan pertandingan yang ditentukan oleh bakat dan dedikasi di lapangan, dan bukan oleh keputusan wasit yang curang. Beberapa video yang beredar di media sosial menunjukkan keputusan wasit yang jelas-jelas menguntungkan satu tim daripada tim lainnya, mengubah jalannya pertandingan yang sebenarnya," tulisnya.
Sayangnya, petisi itu tidak menyertakan bukti sah yang mendukung tuduhan bahwa keputusan wasit sudah mengubah hasil pertandingan.
Apakah FIFA Bisa Mengulang Final Piala Dunia 2026?
Hampir pasti tidak. Petisi di Change.org, sebanyak apa pun jumlah tandatangan terkumpul, tidak punya kekuatan hukum atau efek mengikat terhadap keputusan FIFA. Karena itu, petisi tersebut tidak bisa memaksa badan sepak bola dunia itu menggelar pertandingan ulang.
FIFA memang pernah bikin keputusan untuk mengulang laga, tetapi hanya dalam situasi terbatas. Badan sepak bola dunia itu cuma mengulang pertandingan apabila wasit melakukan kesalahan teknis saat menerapkan aturan laga, atau investigasi menemukan bukti manipulasi pertandingan.
Salah satu contohnya terjadi pada laga Uzbekistan vs Bahrain dalam Kualifikasi Piala Dunia 2006 pada September 2005. Saat itu, wasit Toshimitsu Yoshida keliru menerapkan Laws of the Game ketika membatalkan gol dari situasi penalti Uzbekistan.
Alih-alih memerintahkan penalti diulang sesuai aturan, ia justru memberi tendangan bebas kepada Bahrain.
FIFA kemudian membatalkan hasil pertandingan itu, lalu menggelar laga ulang karena kesalahan tersebut termasuk kategori technical error, bukan kekeliruan penilaian di lapangan.
FIFA juga mengambil keputusan serupa pada pertandingan Afrika Selatan vs Senegal di Kualifikasi Piala Dunia 2018. Investigasi FIFA membuktikan wasit pada laga itu sengaja memengaruhi hasil laga demi kepentingan sindikat pengaturan skor. Temuan tersebut lantas menjadi dasar FIFA untuk mengulang pertandingan.
Sebaliknya, FIFA tidak pernah mengulang pertandingan hanya karena kontroversi keputusan wasit. Pada playoff Kualifikasi Piala Dunia 2010 antara Prancis vs Republik Irlandia, misalnya, Thierry Henry sempat menyentuh bola dengan tangan sebelum terciptanya gol penentu kemenangan Prancis.
Meski Republik Irlandia mengajukan protes, FIFA tetap mempertahankan hasil laga karena keputusan wasit mengenai fakta di lapangan bersifat final.
Hal serupa terjadi pada duel Jerman vs Inggris di Piala Dunia 2010. Tendangan Frank Lampard sebenarnya sudah lewat garis gawang sebelum memantul keluar, tapi wasit tidak mengesahkan gol tersebut. FIFA tidak mengulang laga itu, insiden tersebut justru mendorong munculnya teknologi garis gawang (goal-line technology) di sepak bola.
Kasus final Piala Dunia 2026 antara Argentina vs Spanyol juga termasuk kategori penilaian wasit di lapangan. Sampai kini, FIFA belum menemukan kesalahan teknis dalam penerapan aturan, maupun bukti manipulasi pertandingan sebagai dasar untuk menggelar laga ulang.
Selain itu, Laws of the Game terbitan IFAB juga menegaskan kalau sebuah laga bukan otomatis tidak sah hanya karena ada kesalahan keputusan yang melibatkan VAR, atau karena wasit memilih tidak meninjau suatu insiden. Singkatnya, hasil final masih tetap berlaku dan Spanyol tetap tercatat sebagai juara Piala Dunia 2026.
Muncul Pula Petisi agar FIFA Ban Argentina
Terlepas dari fan Argentina yang meminta replay final Piala Dunia 2026, sejumlah pihak juga meluncurkan kampanye agar FIFA menghukum La Albiceleste. Kampanye bertajuk Argentina Out yang sudah berlangsung selama Piala Dunia 2026 kini sudah dapat lebih dari 23 juta tanda tangan.
Sementara itu, sosok lain bernama Omar Tamer juga membuat petisi di Change.org yang meminta FIFA menyelidiki dugaan perlakuan istimewa terhadap Argentina. Petisi itu sekarang sudah mendapat 10 ribu tandatangan, meminta FIFA agar mem-banned Argentina di Piala Dunia selanjutnya, jika hasil penyelidikan terbukti ada favoritisme atau kecurangan.
Sampai kini FIFA belum membuka penyelidikan resmi atau memberi sanksi kepada Argentina. Entah petisi replay maupun petisi banned Argentina di Piala Dunia, semua tidak mengubah hasil final. Spanyol tetap sah juara Piala Dunia 2026.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id






























