Menuju konten utama

Kontroversi Argentina vs Mesir, Apakah Mungkin Laga Diulang?

Kontroversi Argentina vs Mesir, apakah mungkin laga diulang? Jawabannya tidak. Cek alasannya dan pernyataan Federasi Sepak Bola Mesir (EFA).

Kontroversi Argentina vs Mesir, Apakah Mungkin Laga Diulang?
Pemain Timnas Mesir berpose sebelum pertandingan sepak bola babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Australia dan Mesir di Stadion Dallas, Arlington, pada 3 Juli 2026. (Photo by Paul ELLIS / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kemenangan dramatis Argentina atas Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 dengan skor 3-2 di Stadion Atlanta, Amerika Serikat pada Rabu (8/7/2026) menimbulkan gelombang reaksi penggemar sepak bola di internet. Tidak sedikit yang mempertanyakan keputusan wasit asal Prancis, François Letexier, di laga itu. Apakah mungkin partai Argentina vs Mesir diulang?

Dalam laga kontra sang juara bertahan Argentina, Mesir sebenarnya tampil apik. Dengan bertahan dan mengandalkan serangan balik, The Pharaohs sempat memimpin 2 gol hingga menit 78. Namun, La Albiceleste yang dipimpin Lionel Messi mampu membalikkan skor dengan 3 kali membobol gawang Mesir dalam 13 menit akhir laga.

Partai Argentina vs Mesir yang intens itu juga diwarnai dua insiden krusial. Yang pertama, adalah dianulirnya gol kedua Mesir ('58) setelah intervensi VAR. Berikutnya, adalah momen ketika Mo Salah diklaim dilanggar lebih dahulu oleh Julian Alvarez sebelum gol ketiga Argentina yang dicetak oleh Enzo Fernandez (90+2').

Pada menit ke-58, saat posisi Mesir sedang unggul 1 gol, Haissem Hassan mengawali serangan balik cepat dari area pertahanan. Ia memberikan operan kepada Mohamed Salah, yang kemudian meneruskannya kepada Mostafa Ziko. Dengan dingin, Ziko menjebol gawang Argentina yang dikawal oleh Emi Martinez. Namun, wasit François Letexier, dibantu oleh VAR, meninjau ulang kejadian jauh sebelum gol tercipta.

Hasil tayangan ulang menunjukkan bahwa pemain Mesir, Marwan Attia, sempat melakukan kontak fisik dengan menarik baju serta menginjak kaki bek Argentina, Lisandro Martínez. Wasit akhirnya membatalkan gol Mostafa Ziko tersebut karena dianggap ada pelanggaran di awal fase serangan (attacking possession phase).

Insiden lain datang pada injury time. Ketika itu, Argentina yang tertinggal 2 gol, menyamakan skor via sundulan Cristian Romero (79') dan tembakan Lionel Messi (83'). Mohamed Salah terjatuh di kotak terlarang setelah kontak fisik dengan Julian Alvarez.

Argentina yang berhasil merebut bola, langsung meluncurkan serangan balik cepat. Umpan silang dari Lautaro Martínez sukses disundul oleh Enzo Fernandez untuk mengubah skor menjadi 3-2.

Mesir menilai gol ini tidak sah karena berawal dari pembiaran pelanggaran terhadap Salah, tetapi tidak ada intervensi VAR agar wasit meninjau ulang kejadian tersebut. Belakangan, usai laga, pelatih Mesir, Hossam Hassan mengeluarkan pernyataan keras bahwa ada kecenderungan wasit untuk menjaga Argentina tetap bertahan di Piala Dunia 2026.

Terkait gol pertama Ziko yang dianulir wasit Letexier, jika mengacu aturan IFAB terkait fouls and misconduct, tindakan menginjak kaki lawan (dalam hal ini Attia terhadap Lisandro Martinez) memang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran. Berdasarkan Pasal 12.1, setiap kontak fisik dalam perebutan bola yang dinilai kurang berhati-hati atau abai akan kewaspadaan, sah untuk dinyatakan sebagai pelanggaran.

Jika ditarik ke dalam Protokol VAR bagian Reviewable Decisions untuk kategori Goal/No Goal, wasit berkewajiban meninjau ulang jika ada indikasi pelanggaran oleh tim penyerang (dalam kasus ini, Mesir) dalam proses membangun serangan (build-up).

Karena Marwan Attia merebut bola lewat kontak fisik tersebut dan tim Mesir terus menguasai bola hingga Ziko mencetak gol, secara tertulis wasit memiliki wewenang penuh untuk mengubah keputusan. Wasit juga punya hak untuk membatalkan gol tersebut karena dinilai lahir dari proses yang tidak sah.

Soal kontroversi yang terjadi di laga kontra Argentina, Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) sudah resmi mengajukan sikap mereka pada Rabu (8/7) sore waktu Indonesia. Mereka menyebut siap "mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mempertahankan keadilan dan kompetisi yang adil".

"Asosiasi Sepak Bola Mesir menyatakan kembali komitmennya terhadap hak-hak tim nasional dan semangatnya untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mempertahankan keadilan dan kompetisi yang adil. Walaupun perjalanan tim di turnamen telah berakhir, kebanggaan dari apa yang telah dicapai oleh pemain-pemainnya akan tetap ada, setelah mereka menunjukkan komitmen dan semangat perjuangan yang memperoleh hormat dari semua orang, dan mempersembahkan gambaran yang terhormat dari sepak bola Mesir," tulis EFA di salah satu unggahan mereka di Instagram.

Sementara itu, dalam unggahan versi bahasa Inggris, EFA menyatakan, "tidak dapat tetap diam mengenai keputusan pengadil yang terjadi selama pertandingan melawan Argentina serta kegagalan untuk menggunakan sistem Pengadil Asisten Video (VAR) dengan baik. Beberapa insiden penting telah menimbulkan kekhawatiran dan pertanyaan mendalam tentang konsistensi dan keadilan dalam keputusan yang secara langsung mempengaruhi perkembangan permainan."

"Beberapa ahli sepak bola dan analis spesialis, baik secara lokal maupun internasional, telah menyoroti insiden insiden yang kontroversial dan berpengaruh dalam pertandingan. Ini menandai pentingnya menjaga tingkat integritas, keadilan, dan transparansi dalam pengadilan permainan, terutama di pertandingan Piala Dunia 2026," tambah mereka.

Lantas, mungkinkah terjadi rematch atau tanding ulang antara Mesir vs Argentina?

Apakah Mungkin Rematch Mesir vs Argentina di Piala Dunia 2026?

Mungkinkah ada rematch Mesir vs Argentina? Jawabannya tidak. FIFA memiliki batasan ketat dalam membedakan kesalahan teknis aturan (technical error) dan kemungkinan kesalahan pengamatan manusia (human error). Dalam kasus terdahulu, FIFA memang pernah mengabulkan tanding ulang. Namun, hanya jika terjadi kesalahan fatal wasit dalam menerapkan pasal tertulis atau adanya bukti skandal kriminal.

Sebagai contoh, dalam kasus Uzbekistan vs Bahrain di Kualifikasi Piala Dunia 2006 yang terjadi pada September 2005. Ketika itu, wasit salah menerapkan aturan hukum tertulis, yang terkategorikan sebagai technical error. Wasit Toshimitsu Yoshida membatalkan gol penalti Uzbekistan, tidak meminta penalti diulang sesuai aturan resmi, tetapi justru menghadiahkan tendangan bebas untuk Bahrain. FIFA membatalkan hasil laga tersebut, dan memerintahkan laga untuk diulang.

Kejadian lain adalah Afrika Selatan vs Senegal pada November 2016 dalam Kualifikasi Piala Dunia 2018. Wasit memberikan penalti kepada Afrika Selatan setelah bola mengenai lutut bek Senegal. Laga ini diulang karena investigasi FIFA menemukan bukti kuat bahwa sang wasit sengaja memanipulasi hasil pertandingan demi sindikat judi.

Namun, FIFA tidak pernah mengulang laga jika kontroversi tersebut lahir dari kesalahan pengamatan atau perbedaan interpretasi wasit di lapangan. Contohnya adalah laga Prancis vs Republik Irlandia pada November 2009 untuk playoff Kualifikasi Piala Dunia 2010. Saat itu, Thierry Henry menggunakan tangan (handball) sebelum mengumpan untuk gol penentu lolosnya Les Bleus. Walaupun Irlandia mengajukan protes, FIFA menolak tanding ulang. Pasalnya, keputusan wasit di lapangan soal fakta pertandingan adalah final.

Dalam kasus Jerman vs Inggris di Piala Dunia 2010, tendangan Frank Lampard sudah masuk gawang, lalu bola memantul keluar. Wasit tidak mengesahkan tendangan itu jadi gol. FIFA tidak mengulang laga tersebut karena yang terjadi adalah murni kesalahan pengamatan manusia. Dari sinilah lahir teknologi garis gawang.

Posisi kasus laga Argentina vs Mesir sepenuhnya masuk ke dalam kategori penilaian di lapangan, bukan kesalahan teknis pasal aturan maupun manipulasi judi. Di dalam dokumen resmi IFAB yang mengatur teknologi VAR, terdapat klausul bahwa sebuah pertandingan tidak dapat dinyatakan tidak sah hanya karena adanya kesalahan keputusan yang melibatkan VAR, atau keputusan wasit untuk tidak meninjau suatu insiden.

Berdasarkan regulasi tertulis IFAB dan sejarah laga-laga "kontroversial" sebelumnya, kemenangan 3-2 Argentina atas Mesir bersifat mutlak. La Albiceleste resmi melaju ke babak perempat final untuk menghadapi Swiss di Stadion Kansas. Sebaliknya, perjuangan The Pharaohs di Piala Dunia 2026 resmi berakhir.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Fitra Firdaus

tirto.id - Olahraga
Penulis: Fitra Firdaus
Editor: Iswara N Raditya