tirto.id - Bayangkan, pada suatu pagi kamu bangun tidur masih di rumah yang sama, melihat tetangga yang sama, dan hidup di lingkungan yang sama. Namun, kamu tiba-tiba merasa menjadi orang asing di antara kehidupan yang tidak asing.
Itulah yang dialami Dean James, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, Tim Geypens, dan sejumlah pemain kelahiran Belanda lainnya, yang kebingungan lantaran tiba-tiba kehilangan hak sebagai orang yang lahir di Belanda.
Semuanya terjadi tak lama setelah Go Ahead Eagles menang telak 6-0 atas NAC Breda dalam lanjutan Eredivisie 2025/2026.
Bagi NAC, kekalahan itu adalah petaka; mereka makin dekat dengan ancaman degradasi musim depan. Akhirnya, mereka pun mengeluarkan "kartu as".
NAC melaporkan kepada federasi sepak bola Belanda (KNVB) terkait adanya cacat administrasi di tim Go Ahead Eagles. Mereka menyebut, salah satu pemain Go Ahead Eagles yang jadi starter kala itu, Dean James, memiliki paspor Indonesia, tetapi terdaftar sebagai pemain asal Belanda.
Sebagai pemain naturalisasi Indonesia, Dean James seharusnya sudah terdaftar menjadi pesepak bola non-Uni Eropa. Karenanya, dia harus memiliki izin kerja dan izin tinggal khusus di Belanda, serta gaji berstandar pemain non-Uni Eropa, minimal 600 ribu euro per tahun. Akan tetapi pada kenyataannya, gaji, status kerja, dan izin tinggal sang pemain masih mengikuti standar Belanda.
Hal itu membuat NAC mengklaim Dean James, sebagai pemain ilegal di laga Go Ahead Eagles vs NAC Breda, dan berharap KNVB menetapkan pertandingan ulang, atau syukur-syukur kalau langsung dinyatakan menang Walk Out (WO).
Setelah laporan NAC Breda mengemuka ke publik Belanda, masalahnya meluas, dan belakangan dikenal sebagai skandal passport gate. Tim-tim lain juga tak sedikit yang melaporkan problem serupa. Total terdapat 29 laporan yang masuk ke KNVB, tersebar dari Eredivisie (Liga 1), Erste Divisie (Liga2) hingga Eredivisie Vrouwen (Liga Wanita).
KNVB dan Dinas Imigrasi Belanda (IND) kemudian melakukan investigasi. Hasilnya, terdapat 25 pemain yang tidak memiliki izin kerja dan izin tinggal sebagai warga non-Uni Eropa di Belanda. Dari semua skandal yang diselidiki, penyebabnya sama: pemain tersebut lahir di Belanda, tetapi kemudian dinaturalisasi negara lain, seperti Indonesia, Suriname, dan Cape Verde, sehingga kehilangan status dan haknya sebagai warga negara Belanda.
Menurut Profesor Hukum dan Olahraga dari Vrije Universiteit Amsterdam, Marjan Olfers hukum di Belanda menganut kewarganegaraan tunggal. Oleh karenanya, setiap orang yang memutuskan pindah kewarganegaraan, secara otomatis akan kehilangan haknya sebagai warga negara Belanda.
"Mereka harus memiliki izin untuk dapat bekerja di sini," katanya kepada ESPN.
Masalahnya, pemain-pemain yang memutuskan pindah kewarganegaraan dari Belanda ke Indonesia, Suriname, ataupun Cape Verde, tidak mengetahui konsekuensi dari keputusannya di awal. Itulah yang membuat mereka terjerat masalah yang sebenarnya tak mereka pahami.
“Itu adalah periode yang sangat aneh. Tiba-tiba saya menjadi orang asing di Belanda, meskipun saya lahir dan dibesarkan di sini,” tutur Justin Hubner kepada De Telegraaf.
Langkah Pemain yang Terdampak Passport Gate
Sejak skandal passport gate mencuat pada pertengahan Maret 2026, para pemain, klub, dan KNVB, mengambil langkah jangka pendek. Status pemain-pemain yang masuk dalam daftar itu dibekukan sampai masalah legalitasnya selesai.
Pada 8 April 2026, tim hukum KNVB mengumumkan bahwa setiap pemain dapat kembali membela klubnya dengan syarat mengurus terlebih dulu izin kerja dan izin tinggal khusus sebagai warga non-Uni Eropa. Federasi juga memberi kelonggaran terkait regulasi batas minimum gaji 600.000 euro, setidaknya sampai kontrak selesai.
Bahkan, pihak KNVB membuka peluang pembahasan ulang tentang aturan gaji pemain non-Uni Eropa yang pernah memiliki paspor Belanda.
Meskipun menemukan adanya pelanggaran, KNVB menganggap hal tersebut tidak disengaja. Pasalnya, masalah itu dialami banyak pemain. Terlebih, mayoritas di antaranya tidak mengetahui konsekuensi perpindahan kewarganegaraannya.
Para pemain bermasalah itu mengira status naturalisasinya ke Indonesia, Suriname, dan Cape Verde, akan sama dengan pemain Belanda yang memperkuat Curacao dan Aruba—negara konstituen otonom di bawah Kerajaan Belanda sehingga pemain Belanda yang memperkuat dua negara tersebut tidak kehilangan haknya sebagai warga negara Belanda.
Keputusan KNVB itu—kendati berlaku sementara waktu—membawa angin segar bagi para pemain naturalisasi. Di pekan 30 Eredivisie 2025/2026 dan pekan 36 Erste Divisie, Justin Hubner (Fortuna Sittard), Dean James (Go Ahead Eagles), Tim Geypens (FC Emmen), dan Nathan Tjoe-A-On (Willem II), sudah kembali bermain.
Para pemain diaspora Indonesia mengajukan Readmission atau ”izin tinggal kemanusiaan nonpermanen”. Mereka bisa mengajukan izin kerja dan izin tinggal di Belanda karena lahir dan memiliki orang tua warga negara Belanda, meskipun memegang paspor non-Uni Eropa.

Meskipun sudah bisa membela klubnya masing-masing di Liga Belanda, masalah passport gate belum sepenuhnya selesai. Para pemain bermasalah itu berpotensi kesulitan berpindah klub atau memperbarui kontraknya apabila aturan yang sekarang tidak berubah.
Dengan status pemain non-Uni Eropa, Dean James dan pemain naturalisasi lain di Liga Belanda harus mendapat gaji minimum 600 ribu euro, termasuk saat mereka memperbarui kontrak atau pindah klub di Belanda. Jumlah tersebut sangat besar untuk klub-klub Liga Belanda. Terlebih, kualitas mereka sekarang masih tak sesuai dengan nilai tinggi tersebut.
Salah satu solusi yang bisa dipertimbangkan adalah pengajuan status kerja dan tinggal khusus, seperti yang dilakukan oleh dua pemain Suriname, yakni Tjaroon Chery dan Etienne Vaessen. Mereka memiliki istri dan anak warga negara Belanda sehingga bisa memperoleh status khusus warga non-Uni Eropa dengan hak setara warga Belanda. Keduanya juga tidak dikenai aturan gaji minimum 600 ribu euro per tahun.
Alhasil, ketika pemain lain yang terlibat passport gate masih berkelindan dengan masalah administrasi, Chery dan Vaessen bisa kembali bermain di Liga Belanda pasca-jeda internasional.
Sebenarnya ada opsi lain yang lebih tinggi jaminannya. Tak harus menikah dan punya anak dari orang Belanda. Tidak harus berjibaku latihan keras demi mengejar standar gaji 600 ribu euro per tahun. Caranya adalah dengan kembali menjadi warga negara Belanda.
Menurut pengacara spesialis hukum kewarganegaraan Belanda, Hermie de Voer, mantan warga negara Belanda dapat mendapatkan kembali status kewarganegaraan Belandanya selama memenuhi syarat.
”Jika mereka terus tinggal dan tidak meninggalkan Belanda selama minimal satu tahun dengan izin tinggal itu, mereka bisa memiliki opsi untuk kembali menjadi warga negara Belanda,” terangnya, dinukil dari Kompas.id.
Masalah administrasi kewarganegaraan bak api dalam sekam. Ia terkesan sepele, bahkan tak tampak di permukaan. Karena itulah para pemain naturalisasi tidak memperhitungkannya sama sekali di awal.
Tim Geypens, misalnya, mengaku tidak mengetahui bahwa memilih warga negara Indonesia berarti membuatnya kehilangan kewarganegaraan Belanda. Dia terlalu fokus pada hal-hal baik yang dijelaskan perwakilan PSSI. Penggawa FC Emmen tersebut akhirnya menyesali keteledorannya.
“Mungkin mereka [perwakilan PSSI] menjelaskan konsekuensi dari keputusan yang saya ambil dengan lebih jelas. Tapi, saya tidak terlalu menyelidikinya. Semuanya tampak begitu menjanjikan, dan saya hanya fokus pada satu hal itu,” tutur Tim Geypens.
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id































