Menuju konten utama

Kuasa FIFA Mengusik Tradisi Pesta Sepak Bola Asia Tenggara

FIFA ASEAN Cup lahir di tengah kritik terhadap Gianni Infantino. Turnamen baru ini menempatkan hak komersial di bawah kendali FIFA.

Kuasa FIFA Mengusik Tradisi Pesta Sepak Bola Asia Tenggara
ASEAN CUP Diresmikan FIFA. foto/gianni_infantino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - FIFA ASEAN Cup lahir ketika Presiden FIFA Gianni Infantino sedang babak belur dihantam kritik. Ia dituding makin kemaruk memakai sepak bola untuk berbagai proyek komersial.

Belakangan, di tengah dan setelah rencana penjualan hak ekonomi Piala Dunia melalui FIFA Forward Enterprise batal, kompetisi FIFA ASEAN Cup segera melenggang ke tahap eksekusi. Aturan main kejuaraan baru di ASEAN ini menempatkan seluruh hak komersial turnamen di bawah ketiak FIFA.

Langkah tersebut membuka babak anyar hubungan FIFA dengan kawasan Asia Tenggara. Selama tiga dekade, sepak bola di kawasan ini sudah punya rumah sendiri bernama Piala AFF, ajang sepak bola di bawah naungan Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF). Hajatan tersebut lahir pada 1996 dari hasil kongsi federasi-federasi sepak bola se-Asia Tenggara, kemudian tumbuh jadi panggung paling bergengsi di sub-kawasan ASEAN.

Sekarang FIFA menyodorkan FIFA ASEAN Cup, hajatan sepak bola terbaru yang dijadwalkan masuk kalender FIFA mulai September 2026. Secara formal, FIFA menyebut kompetisi ini sebagai upaya membangun sepak bola wilayah kawasan. Akan tetapi, di balik narasi aduhai itu, muncul pertanyaan lainnya: apakah FIFA sedang merambah wilayah yang secara tradisi merupakan ranah organisasi regional? Demi sepak bola atau demi duitnya?

Tiga Dekade Piala AFF & Tradisi Sepak Bola Kawasan

Berbicara soal federasi, FIFA tidak membidani lahirnya AFF. Federasi ini didirikan pada 1984 atas inisiatif enam asosiasi sepak bola Asia Tenggara demi mempererat kongsi dan mendongkrak daya saing sepak bola kawasan, baik di level Asia maupun dunia.

Merujuk keterangan di laman resmi AFF, organisasi ini sempat mangkrak lantaran kendala dana, tapi bisa bangkit lagi pada pertengahan 1990-an. Salah satu keputusan paling krusial kala itu yakni AFF mendirikan turnamen sepak bola antarnegara ASEAN, sebuah ikhtiar untuk menegaskan identitas sepak bola Asia Tenggara sekaligus menopang napas finansial organisasi.

Buahnya yaitu Piala Tiger 1996, yang kelak berganti-ganti nama menjadi AFF Championship, AFF Suzuki Cup, Mitsubishi Electric Cup, dan sekarang ASEAN Championship. Selama 30 tahun itu pula, turnamen Piala AFF merawat persaingan klasik antarnegara Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Piala AFF juga menjadi kawah candradimuka bagi ikon-ikon sepak bola lokal.

Memang, urusan pengelolaan turnamen regional lazimnya berada di genggaman konfederasi kawasan. Di Eropa ada UEFA Nations League racikan UEFA; Afrika punya Africa Cup of Nations milik CAF; Amerika Selatan mengandalkan Copa America lewat CONMEBOL; Amerika Utara menggelar CONCACAF Gold Cup; dan Asia punya Piala Asia garapan AFC.

Bahkan di tingkat sub-regional pola ini ajek. Asia Timur punya EAFF E-1 Football Championship di bawah EAFF; Asia Selatan mengusung SAFF Championship kelolaan SAFF; Asia Tengah menggelar CAFA Nations Cup besutan CAFA. Adapun Asia Tenggara tiga dekade terakhir bertumpu pada Piala AFF yang seutuhnya berada di bawah kendali AFF.

Singkat kata, secara tradisi, bukankah kompetisi regional adalah ranah organisasi kawasan, bukan FIFA?

Preseden paling dekat terjadi di dunia Arab. Negara-negara sub-kawasan Arab sebenarnya punya turnamen Piala Arab sejak 1963 di bawah Union of Arab Football Associations (UAFA). Setelah mangkrak pada 2012, FIFA menghidupkannya lagi lewat FIFA Arab Cup 2021, lalu melanjutkannya pada 2025. Sejak itu, kompetisi timnas dari wilayah Arab praktis berjalan di bawah bendera FIFA.

Latar inilah yang bikin kompetisi FIFA ASEAN Cup tak bisa semata-mata dipandang sebagai "turnamen baru" saja. Ini adalah pertama kalinya FIFA merilis turnamen sepak bola regional di saat sudah ada kompetisi mapan dan masih hidup di sub-kawasan tersebut.

Komersialisasi Berdalih Pengembangan Sepak Bola Kawasan?

FIFA mengumumkan FIFA ASEAN Cup berbarengan dengan penandatanganan nota kesepahaman baru bersama ASEAN pada Oktober 2025. Menurut Gianni Infantino, turnamen ini diniatkan untuk mengakselerasi kemajuan sepak bola Asia Tenggara, mempererat persatuan kawasan, sekaligus menyediakan panggung megah untuk para pesepak bola ASEAN. Narasi tersebut akrab dengan berbagai program pembangunan FIFA.

Dokumen Regulasi FIFA ASEAN Cup 2026 memang menyingkap beberapa hal baru. Ajang tersebut nantinya bakal masuk kalender pertandingan internasional FIFA, memperebutkan poin peringkat FIFA, diikuti 14 negara lewat jalur undangan, serta memboyong teknologi mutakhir macam Goal-line Technology, VAR, sampai Football Video Support.

Akan tetapi, bagian paling memikat justru tersembunyi pada urusan komersialnya. Merujuk pada Pasal 42 Regulasi FIFA ASEAN Cup, FIFA memegang hak eksklusif tanpa batas atas seluruh aset komersial turnamen, mulai dari hak siar, pemasaran, multimedia, sampai sponsor dan identitas visual. Hal ini sejalan dengan aturan pertiketan pada Pasal 38 yang mengharuskan seluruh asosiasi peserta tunduk penuh pada regulasi tiket yang diterbitkan FIFA.

Peserta FIFA ASEAN Cup memang tidak ditarik biaya pendaftaran, tetapi merujuk pada Pasal 37, peserta juga wajib menanggung sederet biaya operasional, seperti asuransi delegasi, penginapan hotel, dan urusan logistik tambahan.

Peserta yang mundur dari kompetisi bakal didenda 15.000 Franc Swiss (jika mundur lebih dari 30 hari sebelum kompetisi dimulai) atau 20.000 Franc Swiss (jika mundur kurang dari 30 hari sebelum kompetisi dimulai), sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 5.2.

Adapun sesuai Pasal 5.5, tim yang mundur saat turnamen berlangsung atau menyebabkan laga batal atau dihentikan, wajib ganti rugi sekaligus kehilangan hak atas klaim remunerasi finansial dari FIFA.

Struktur komersial semacam ini berjalan di tengah badai kritik atas sentralisasi yang memuncak pada proyek FIFA Forward Enterprise (FFE). Lewat FFE, Infantino sebelumnya berhasrat membentuk perusahaan baru bernilai sekitar 20 miliar USD untuk mengelola aset komersial FIFA, termasuk Piala Dunia, dengan menjual porsi sahamnya ke investor swasta.

Usul tersebut memantik penolakan keras dari UEFA, CONCACAF, dan AFC. Konfederasi lintas kawasan protes karena tidak dilibatkan dalam pembahasan. Reuters melaporkan bahwa penasihat senior FIFA, Carlos Cordeiro, sampai memilih mundur dari jabatan, sementara Arsène Wenger menyebut pembatalan proyek itu sebagai "langkah yang wajib dilakukan."

Di tengah badai kritik komersialisasi sepakbola oleh FIFA tersebut, FIFA ASEAN Cup tetap melenggang menuju tahap eksekusi. Secara kelembagaan, kompetisi tersebut jelas meluaskan ruang gerak komersil FIFA ke wilayah yang secara tradisi sudah dikelola secara penuh oleh AFF.

Mampukah Piala AFF Bertahan?

Sekarang, FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF atau ASEAN Championship memang masih bisa jalan berdampingan. Piala AFF tetap bertindak sebagai kompetisi resmi AFF dengan riwayat sejarah hampir 30 tahun, sementara FIFA ASEAN Cup bakal mulai beroperasi di kalender internasional FIFA.

Pertanyaannya, selain apakah kedua turnamen ini bisa hidup rukun, juga: ke mana poros kekuatan sepak bola ASEAN bakal bergeser? Belum ada tanda-tanda Piala AFF gulung tikar, tetapi hadirnya FIFA ASEAN Cup jelas menandai gesernya tata kelola sepak bola sub-kawasan.

Selama berpuluh tahun, berbagai sub-kawasan di seluruh dunia mengurus hajatan sepak bolanya sendiri lewat federasi masing-masing. Sekarang, FIFA sebagai regulator sepak bola dunia justru terjun langsung ke gelanggang regional. Jika upaya itu berhasil, apakah FIFA ASEAN Cup akan jadi pintu gerbang agresi FIFA menuju pasar sub-kawasan lainnya?

Baca juga artikel terkait FIFA atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Horizon
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora