Menuju konten utama

Asal-Usul Istilah "Piala Ciki" & Rekor Timnas Raja Runner-up AFF

Asal-usul Piala AFF disebut "Piala Ciki" oleh suporter serta rekor Timnas Indonesia yang enam kali menjadi runner-up tanpa pernah juara.

Asal-Usul Istilah
Pesepak bola Timnas Indonesia RIzky Ridho (kanan) menyiramkan air ke wajahnya saat melawan Timnas Oman dalam laga FIFA Match Day di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Timnas Indonesia mengalahkan Oman dengan skor akhir 3-0. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Turnamen ASEAN Championship atau yang dulu dikenal sebagai Piala AFF berlangsung sejak 24 Juli sampai 26 Agustus 2026 mendatang. Selain persaingan antartim Asia Tenggara, kompetisi ini juga melahirkan dua istilah yang kerap muncul di media sosial, yaitu "Piala Ciki" dan "raja runner-up" untuk Timnas Indonesia.

Istilah "Piala Ciki" umumnya dipakai untuk menyebut Piala AFF dengan nada sindiran. Sebagian suporter menganggap kompetisi ini belum punya gengsi sebesar turnamen resmi tingkat Asia maupun dunia. Sementara itu, julukan "raja runner-up" melekat pada Timnas Indonesia karena catatan panjangnya sejak ajang ini digeber pertama kali pada 1996.

Alasan Piala AFF Disebut Piala Ciki

Istilah "Piala Ciki" bukan nama resmi turnamen, tapi julukan yang lahir dari kalangan suporter. Sebutan ini digunakan sebagai bentuk sindiran terhadap gengsi ASEAN Championship yang dianggap masih berada di bawah turnamen level Asia, seperti Piala Asia maupun Kualifikasi Piala Dunia.

Julukan tersebut juga terkait dengan penyelenggaraan AFF pada masa lalu yang sering berlangsung di luar kalender jeda internasional FIFA. Kondisi itu membuat klub-klub tidak berkewajiban melepas pemainnya, sehingga sejumlah negara tidak selalu tampil dengan skuad terbaik, terutama pemain yang berkarier di luar negeri.

Akibatnya, sebagian penggemar menilai kualitas persaingan AFF tidak semaksimal turnamen resmi FIFA lainnya. Dari sinilah, istilah "Piala Ciki" kemudian makin populer dan terus dipakai sampai sekarang, meski bernada bercanda atau sindiran.

Kendati kerap dicap sebagai "Piala Ciki", ASEAN Championship tetap menjadi salah satu turnamen sepak bola paling bergengsi di tingkat Asia Tenggara. Kompetisi yang pertama kali digelar pada 1996 itu memasuki usia 30 tahun pada edisi 2026, sekaligus jadi ajang resmi antarnegara ASEAN yang rutin mempertemukan rival-rival seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, hingga Singapura.

Selama tiga dekade penyelenggaraannya, turnamen ini sudah melahirkan banyak laga klasik dan menjadi panggung utama persaingan sepak bola di kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, format kompetisi Piala AFF juga berbeda dari kebanyakan turnamen level internasional lainnya. Sejak 2018, babak penyisihan grup pakai sistem kandang dan tandang, sehingga setiap tim harus menjalani perjalanan ke negara lawan, bukan bermain di satu negara tuan rumah. Konsekuensinya, turnamen berlangsung lebih dari satu bulan meski hanya diikuti 10 negara peserta.

Singkat kata, penyebutan "Piala Ciki" lebih tepat dipahami sebagai istilah yang lahir dari budaya suporter, bukan penilaian resmi terhadap kualitas Piala AFF. Terlepas dari julukan itu, turnamen ini tetap punya arti penting bagi perkembangan sepak bola Asia Tenggara, dan selalu jadi ajang yang dinanti jutaan penggemar sepak bola di ASEAN.

Rekor Timnas Indonesia, Raja Runner-up di Piala AFF

Selain julukan "Piala Ciki", ASEAN Championship juga identik dengan istilah "raja runner-up" yang kerap disematkan kepada Timnas Indonesia. Julukan itu muncul karena Indonesia berkali-kali tembus partai final, tetapi belum mampu mengangkat trofi sampai Piala AFF 2024.

Tim Garuda tercatat enam kali finis sebagai runner-up, yakni pada edisi 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020. Catatan tersebut menjadi yang terbanyak dibanding negara peserta lainnya. Karena sering gagal di partai puncak, banyak suporter kemudian menyebut Timnas Indonesia mengalami "kutukan runner-up" atau "kutukan final".

Meski begitu, istilah tersebut hanya julukan yang lahir dari media dan suporter. Tidak ada istilah resmi dalam sepak bola yang menyebut Indonesia dikutuk. Sebaliknya, catatan itu juga menunjukkan konsistensi Timnas Indonesia sebagai salah satu tim yang paling sering mencapai final Piala AFF, meski belum berhasil menjadi juara hingga edisi 2024.

Berikut pencapaian Timnas Indonesia di setiap edisi Piala AFF sejak 1996 sampai 2024.

  • 1996 – Peringkat keempat
  • 1998 – Peringkat ketiga
  • 2000 – Runner-up
  • 2002 – Runner-up
  • 2004 – Runner-up
  • 2007 – Gugur di fase grup
  • 2008 – Semifinal
  • 2010 – Runner-up
  • 2012 – Gugur di fase grup
  • 2014 – Gugur di fase grup
  • 2016 – Runner-up
  • 2018 – Gugur di fase grup
  • 2020 – Runner-up
  • 2022 – Semifinal
  • 2024 – Fase grup

Secara keseluruhan sampai edisi 2024, Timnas Indonesia sudah enam kali menjadi runner-up, dua kali finis di peringkat ketiga atau semifinal, satu kali menempati peringkat keempat, dan lima kali gagal lolos dari fase grup. Catatan itulah yang bikin Indonesia kerap dijuluki sebagai "raja runner-up" di ajang Piala AFF.

Dengan finis 6 kali sebagai runner-up tanpa sekali pun jadi juara, Timnas Indonesia memegang rekor sebagai timnas paling banyak tembus final tanpa pernah mengangkat trofi di ajang AFF.

Sebagai perbandingan, Thailand finis 4 kali sebagai peringkat 2, tetapi 7 kali juara. Sementara itu, Malaysia 3 kali runner-up dan sekali juara. Vietnam 2 kali finis nomor dua, tetapi sudah 3 kali juara. Terakhir, Singapura selalu juara jika mampu menembus final dalam 4 kali percobaan alias punya rekor 100 persen.

Berikut ini perbandingan data negara yang lolos ke final Piala AFF sejak edisi pertama.

NegaraLolos ke FinalRunner-upJuaraPersentase Juara
Timnas Indonesia6 kali6 kali0 kali0%
Malaysia4 kali3 kali1 kali25%
Vietnam5 kali2 kali3 kali60%
Thailand11 kali4 kali7 kali63%
Singapura4 kali0 kali4 kali100%

Baca juga artikel terkait OLAHRAGA atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Olahraga
Reporter: Fitra Firdaus
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid