Menuju konten utama
Horizon

Di Balik Tren Hobi Memelihara Batu

Di Korea dan Cina, banyak orang mulai memiliki hobi absurd: memelihara batu. Mengapa manusia gemar memelihara benda-benda mati? Tentu saja karena …

Di Balik Tren Hobi Memelihara Batu
Batu bata merah yang dipelihara hingga tumbuh lumut dan rumput. (Sumber: Douyin/South)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - "Memelihara batu bata lebih baik ketimbang memelihara kucing atau anjing; mereka tidak lari-lari, tidak berisik, bahkan tidak berbulu,” tulis South, pengguna Douyin (aplikasi TikTok versi Cina), dalam takarir unggahan foto batu peliharaannya yang mulai ditumbuhi lumut dan tumbuhan kecil.

Awal pekan kedua Agustus 2026, situs berita dan budaya pop di Beijing, Sanlian Lifeweek, melaporkan bahwa fenomena memelihara batu bata muncul sebagai hobi absurd terbaru di kalangan anak muda Kota Shanghai, Cina. Mereka memungut batu dari tepian sungai, reruntuhan bangunan, pinggir jalan, bahkan lokasi konstruksi, lalu membawanya pulang.

“Memelihara batu bata adalah hal paling tidak penting dalam hidup saya...,” kata Kai, pria lajang yang tinggal sendirian di Shanghai.

Kendati terdengar remeh, batu bata tersebut tetap punya tempat di hidup Kai. Setiap kali pulang ke apartemen, Kai selalu menyempatkan diri menyemprot air ke batu peliharaan itu. Konon dia memungutnya saat mendaki gunung, setelah melihat seseorang di media sosial memelihara batu.

"Meski batu itu tidak bergerak atau bersuara, Anda tidak merasa benar-benar sendirian. Memelihara batu bata menjadi salah satu cara bagi orang yang hidup sendirian agar tidak terjebak nihilisme," ungkap Kai.

Ilustrasi Hobi Memelihara Batu

Batu bata merah yang dipelihara yang sudah ditumbuhi lumut dan rumput. (Sumber: Douyin/South)

Momo, pemuda lain yang ketularan hobi tersebut, mengibaratkan prosesnya mirip operasi tanam rambut: dua pekan pertama tak ada tanda-tanda kehidupan, menyemprot batunya terasa bodoh bukan kepalang, tetapi begitu semburat hijau lumut pertama menyembul, letupan emosionalnya mirip ketika menatap cermin kala garis rambut baru mulai tumbuh.

Hobi memelihara batu bata tak bikin pemilik rugi barang sepeser pun. Di tengah kepungan jam kerja kota metropolitan yang kian rakus melahap tenaga dan sisa usia, sebongkah batu mendadak jadi kawan berharga.

Sanlian Lifeweek menyebut fenomena itu bak takdir bagi pekerja muda kota yang dilanda kemiskinan, kesepian, dan kelelahan. Saat biaya merawat anjing atau kucing sudah setara dengan membesarkan bayi manusia, para pekerja modern yang "sisa baterainya tertahan di angka 20 persen" serta berdompet tipis, tidak lagi punya sisa kapasitas mental dan finansial untuk mengambil tanggung jawab atas nyawa berbagai jenis makhluk peliharaan.

Bukankah batu bata adalah peliharaan pemaaf? Ia tidak butuh pakan, tak butuh pengatur cahaya, dan andai terjadi khilaf lupa disiram tiga hari karena ditinggal lembur, mentok ia cuma kering tanpa pernah "mati". Begitu disemprot air lagi, batunya bakal balik menghijau ditumbuhi lumut, kembali hidup.

Ketika Batu Peliharaan jadi Barang Dagangan

Jauh sebelum anak-anak muda Shanghai memunguti bata di jalanan demi menumbuhkan lumut, batu peliharaan sebetulnya sudah lebih dulu meledak sebagai barang dagangan. Tren itu mekar lebih dulu di Xiaohongshu dan Taobao pada 2024, era ketika kerikil biasa disulap jadi “hewan peliharaan” lengkap dengan nama, sertifikat adopsi, kepribadian, dan tipe MBTI.

Pada Agustus 2024, penjualan batu peliharaan di platform niaga-el (e-commerce) Cina melonjak 246 persen secara bulanan. Pada Oktober 2024, Ifeng melaporkan, toko batu peliharaan terlaris di Taobao menjual lebih dari 1.000 paket batu peliharaan dengan harga 29,9 yuan (Rp78.000) per batu.

Benda yang gampang ditemukan di tanah berubah jadi produk bermargin besar. Sebenarnya yang dibeli konsumen bukan kerikil. Penjual menawarkan sekotak hadiah, kartu adopsi, perjanjian adopsi, serta identitas lengkap berupa tanggal batu ditemukan, nama pemilik, dan MBTI si batu.

Sebelum membayar, calon pembeli bahkan bisa minta foto jarak dekat. Batu dengan kontur tertentu dianggap berwatak khusus, sementara lekuk lain dirasa lebih cocok untuk pembeli berbeda. Di titik ini, transaksi benda bergeser jadi jual-beli makna.

Saat batu peliharaan kian laris manis, barang pelengkapnya bermunculan di lokapasar. Ada pakaian mini untuk batu peliharaan, topi Natal, tempat tidur, aksesori, sampai buku kiat-kiat perawatan yang mengajari pemiliknya cara mengelus batu agar rileks.

Ilustrasi Hobi Memelihara Batu

Batu peliharaan. (Sumber: Sixthtone)

Di media sosial, keabsurdan itulah bahan bakarnya. Batu didandani seperti anak kecil, diberi rumah seperti hewan, lalu dipotret dalam berbagai situasi, yang bikin benda mati tersebut seolah punya kehidupan.

Sixth Tone, pada November 2024, memperlihatkan sisi lain dari fenomena tersebut. Mayoritas pembeli batu peliharaan berasal dari kelompok perempuan Gen Z kelahiran setelah 1995. Salah satu pemicunya dikaitkan dengan Otto, karakter dalam film Minions: The Rise of Gru (2022), yang dicitrakan amat menyayangi batu peliharaannya.

Di tangan penjual, perbedaan kecil bentuk batu berubah jadi nilai eksklusif, sementara di tangan pembeli, keunikan itu berubah jadi hubungan personal. Seorang guru berusia 25 tahun bernama Xie Xuan mengatakan kepada Sixth Tone bahwa mendandani batu bikin dia teringat masa kecil saat bermain rumah-rumahan. Seorang pembeli lainnya menulis di media sosial bahwa batu peliharaannya punya MBTI sama seperti dirinya, ISTP, lalu dia mengajaknya “rebahan bersama”.

Dari Lelucon di Bar Menjelma jadi Teman dalam Sepi

Cina sebenarnya bukan muasal tren memelihara batu. Fenomena tersebut pertama kali muncul di Amerika Serikat pada 1975. Saat itu, seorang pekerja agensi periklanan bernama Gary Dahl menjual batu yang bahkan modelnya lebih sederhana. Dia mengambil batu pantai biasa, memasukkannya ke kotak kardus berlubang agar batu bisa “bernapas”, lalu memberinya alas jerami.

Gagasan menjual batu peliharaan atau pet rock bermula dari obrolan di bar, ketika kawan-kawan Dahl mengeluhkan sulitnya memelihara hewan. Dahl lantas menanggapinya dengan guyonan bahwa dia memelihara batu.

Tak lama setelah itu, Dahl malah terinspirasi untuk menjual batu dengan label Pet Rock seharga 3,95 dolar AS per buah. Laporan BBC menyebut batu peliharaan Dahl akhirnya laku sekitar 1,5 juta penjualan hanya dalam setengah tahun, menghasilkan untung 6 juta dolar AS, membuatnya jadi orang kaya dadakan.

Namun, keberhasilannya tak bertahan lama. Saat novelty batu peliharaan hilang, penjualan ikut anjlok.

Kendati demikian, ada satu warisan Dahl yang bertahan lintas dekade, yakni keyakinannya bahwa manusia selalu sanggup membeli seonggok benda mati, meniupkan karakter ke dalamnya, lalu memperlakukan benda itu seolah bernyawa.

Buktinya, lelucon serupa masih menemukan bentuknya lagi di Korea Selatan. Batu peliharaan mulai dapat perhatian di Negeri Ginseng sejak 2021. Alih-alih jadi produk komedi seperti milik Dahl, batu peliharaan di sana hadir sebagai teman kecil bagi orang-orang yang hidup sendiri.

Seorang pemilik batu di Korea Selatan mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa memperlakukan batu seperti hewan peliharaan bikin hidup terasa tidak sepi-sepi amat dan jadi lebih menarik.

Pamor batu peliharaan kian naik daun selepas beberapa idol K-Pop ikut memamerkan batu peliharaan masing-masing. Sebut saja beberapa nama, ada Jeonghan (Seventeen), DK (Seventeen), Beomgyu (TXT) Hueningkai (TXT),Rocky (eks Astro), Hongjoong (Ateez), sampai Jake (Enhypen).

Ilustrasi Hobi Memelihara Batu

Idol K-Pop Jake Enhypen memamerkan batu peliharannya. (Sumber: YouTube/Enhypen)

Dari situlah ombak trennya sampai ke Cina. Dan ketika fenomena itu kambuh lagi di Shanghai pada 2026, wujudnya berganti rupa. Orang tak lagi sudi membeli batu berbalut pita dan sertifikat adopsi.

Pekerja muda di Cina cukup memungut bata buangan dari pinggir kali, reruntuhan, atau sisa proyek, lalu membawanya pulang tanpa embel-embel apa pun. Nir-MBTI, tanpa mata plastik, tanpa kotak kado, hanya sebongkah bata merah, sebotol air semprotan, dan seorang manusia yang sepulang kerja berkenan menyisihkan sekian detik waktu di hidupnya untuk membasahi benda peliharaan itu.

Pada 1975, orang membeli batu demi lelucon. Di Korea Selatan, mereka merawat batu demi cari kawan. Di Cina tahun 2024, batu disulap jadi komoditas penanda identitas. Adapun di Shanghai 2026, manusia tidak mau lagi beli batu; mereka secara sukarela memungut sendiri kawan sunyinya dari jalanan.

Mengapa Manusia Memelihara Batu?

Selama lebih dari setengah abad (1975-2026), manusia sejatinya melakukan gestur identik, memungut benda mati, menamainya, lalu memperlakukannya bagai hewan kesayangan. Namun, apa motif di baliknya? Apakah semata dipicu oleh impitan ekonomi dan keletihan kerja? Jika ketiadaan uang dan sempitnya waktu luang hanya menerangkan alasan berpaling dari hewan peliharaan hidup, mengapa manusia tetap merasa perlu merawat sesuatu sejak awal? Mengapa ada dorongan purba melimpahkan perhatian pada seonggok benda yang jelas-jelas tak bernyawa?

Kajian Sushmita Kotian dalam International Journal of Global Research Innovations & Technology (2026) menyebut, generasi muda hari ini mengalami pergeseran struktural dari ownership (hasrat memiliki aset fisik) menuju experience (pengejaran pengalaman dan makna).

Lebih dari 72 persen Gen Z dalam penelitiannya memprioritaskan alokasi belanja demi merasakan pengalaman, alih-alih sekadar menimbun barang.

Pergeseran tersebut dilatari oleh generational disconnect on milestones, situasi ketika patokan pencapaian hidup tradisional (misalnya membeli rumah atau mobil) kian mustahil digapai akibat lonjakan biaya hidup. Alhasil generasi muda beralih ke bentuk konsumsi mikro yang sarat makna batin guna mengekspresikan jati dirinya.

Pola tersebut sejalan dengan konsep split-brain budgeting dari Visa: berhemat ketat pada kebutuhan pokok, tapi tetap menyisihkan energi untuk ritual kecil yang memberi kepuasan emosional secara mendalam.

Bukankah menyiram batu bata merah sepulang kerja adalah salah satu manifestasi terekstrem sekaligus ekonomis dari pola tersebut?

Namun, perkara merawat batu ternyata bisa melangkah lebih jauh dari perkara hitung-hitungan anggaran.

Studi kualitatif terbitan International Journal of Adolescence and Youth (2022) menunjukkan, dangkalnya interaksi sosial justru kerap memperparah rasa terasing. Demi menghindari dari kecemasan sosial, banyak anak muda memilih strategi penarikan diri (social withdrawal) dan berlindung di balik dinding pelindung (safety barrier) agar tak perlu menguras energi untuk memenuhi ekspektasi sosial dan bisa jadi diri sendiri secara autentik.

Bukankah batu peliharaan menambal kebutuhan itu? Ia menawarkan kehadiran yang steril dari tuntutan. Di saat relasi antar-manusia menuntut energi dan rentan konflik, batu peliharaan memberi rasa kendali mutlak. Ia tak menghakimi, tak menuntut performa, dan mustahil meninggalkan pemiliknya.

Di titik itu, hasil eksperimen klasik Tina Kiesler dan Sara Kiesler bertajuk My Pet Rock and Me (2005) memberi landasan empiris lewat konsep perluasan diri. Menurut riset tersebut, ketika merawat batu untuk dirinya sendiri, seseorang terbukti memproyeksikan sifat-sifat pribadinya ke benda tersebut, terlihat dari tingginya korelasi antara kepribadian pemilik dengan karakter yang ia lekatkan pada si batu peliharaan.

Itulah alasan sebutir batu bisa memiliki kepribadian atau label MBTI, sebab si pemiliklah yang menaruh jiwanya ke sana, lalu menemukan dirinya sendiri di batu itu. Benda padat itu bertindak sebagai identity marker yang menenangkan batin di tengah situasi hidup serba tak pasti. Secara ragawi, sebongkah batu bisa jadi remeh dan tak berharga. Namun secara emosional, ia bisa jadi apa saja yang kita kehendaki: lelucon, kawan dengar yang tabah, atau sekadar ritual jeda sehabis digilas kesibukan kota.

Baca juga artikel terkait HOBI atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Horizon
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fadli Nasrudin