tirto.id - Eiichiro Oda menggores tinta petualangan yang tak sekadar memuaskan dahaga aksi. Fiksi karangannya yang membuana, One Piece, mampu menstimulus para pembacanya untuk mengerek panji pemberontakan.
Oda memiliki intuisi kuat dalam melihat dan menyorot realitas dunia kontekstual, yang kemudian digambarkan olehnya melalui One Piece. Manga tersebut bagai sebuah seruan legitimasi untuk manusia yang gandrung dengan kebebasan dan anarkisme.
Di setiap arc yang penuh polemik dan intrik, pola penyampaian cerita One Piece senantiasa berulang. Karakter protagonis rekaan Oda adalah sosok di balik bara yang merobohkan tirani tersembunyi. Bahkan, sering kali mereka tak sembunyi-sembunyi, melainkan gamblang mencerahkan rupa kebebasan yang sejati. Seakan-akan para karakter adalah perwujudan atas imajinasi dunia utopia yang hanya berkilat semu di kepala manusia.
Walau begitu, One Piece mampu menyatakannya sebagai realitas. Memang, sang tokoh utama, Monkey D. Luffy, acap terburu-buru dan terkesan serampangan tanpa strategi. Namun, di balik itu termuat gagasan “kebebasan sejati” yang, di era modernitas industri serba-cepat, sukar untuk diejawantahkan.
Dalam chapter pertama, “Romance Dawn” misalnya, Luffy menancapkan janji tanpa kompromi, “Aku akan menjadi Raja Bajak Laut!”
Kata-kata itu memantul jauh lewat tepian East Blue, lautan yang dicap sebagai wilayah terlemah di dunia One Piece dibanding tiga laut lainnya: North Blue, West Blue, dan South Blue. Namun, Luffy membangkang dan seakan tak peduli terhadap stigmatisasi paradigma itu.
Sejak awal, Luffy adalah orang yang berhasil meruntuhkan inferioritas. Dia memiliki gagasan menentang hierarki mutlak yang penuh kepatuhan.
Kru Topi Jerami, penggawa bajak laut Luffy, mempraktikkan anarkisme langsung dengan demokrasi partisipatif dan solidaritas tanpa paksaan. Nami berani menampar Luffy saat ia salah, Zoro tak mengklaim kedudukan wakil kapten—semua keputusan diambil melalui diskusi terbuka. Inilah wujud anarki, kesetaraan mutlak di antara individu, ketika otoritas terpusat lenyap digantikan solidaritas dan tanggung jawab bersama.
Ketika Luffy menolak menjadi kapten armada besar dengan alasan kebebasan, ia berorasi, “Jika kau butuh aku, cukup panggil! Kita tak perlu upacara resmi atau gelar tinggi. Panggillah, dan aku akan datang.”
Itulah alasan Luffy memilih menjadi bajak laut, yang dianggapnya sebagai jalan paling bebas di lautan Grand Line. Mengibarkan bendera kebesarannya, Jolly Roger Topi Jerami, Luffy dan krunya berlayar memukul genderang kebebasan di samudra yang luas.
Paradigma Pemberontakan di Laut Biru
Dalam paradigma moralitas, bajak laut merupakan simbol entitas yang mengangkangi hukum. Lihat misalnya kisah Henry Every, sang Raja Bajak Laut di dunia nyata yang menjadi buron internasional. Ada juga legenda Ching Shih yang dicatat sejarah sebagai Ratu Bajak Laut terkejam yang pernah ada.
Namun, Oda tidak menggambarkan Luffy seperti itu. Misalnya dalam sebuah pertanyaan yang dilontarkan H.momo, bocah berusia 9 tahun, “Jika Topi Jerami bukan bajak laut, karier apa yang mereka pilih? Tolong beri tahu kami! (Meski aku bertaruh Sanji akan tetap jadi koki ....),” dinukil dari SBS Vol. 76, chapter 754: 42.
Menanggapi pertanyaan itu, Oda menyatakan: Luffy akan menjadi pemadam kebakaran, pekerjaan primadona di mata masyarakat, mulia, dapat diandalkan, dan serba bisa.
Oda memilih Luffy sebagai petugas damkar bukan tanpa alasan. Hampir di setiap arc yang dilakoni, tekad Luffy tak pernah surut untuk menolong orang yang ditindas kemerdekaannya.
Adalah Luffy yang menyalakan gema pemberontakan di Kerajaan Alabasta, menjadi penerang di tengah badai pasir Sir Crocodile alias Mr. 0 lewat kudeta agensi Baroque Works. Itu mirip dengan yang dilakukannya di Kerajaan Dressrosa, kerajaan yang tak bisa lepas dari cengkeraman tirani Doflamingo, anggota shichibukai—bajak laut afiliator Pemerintah Dunia—yang memanfaatkan prestise jabatan demi menguasai suatu negara.
Luffy juga berhasil meredakan bencana diskriminasi rasial antara Hody Jones dan manusia ikan lain yang “bersahabat” dengan manusia. Di arc “Fishman Island” itu, ia mampu menyadarkan Hody bahwa dendam dan kebencian justru hanya akan menimbulkan konflik berkepanjangan.
Luffy mampu menggairahkan perlawanan dan kebebasan dalam diri orang lain. Berkat dia, Nami tergugah dan mampu menyingkirkan batas ketakutannya ketika dipersekusi oleh Arlong, sembari berseru, “Kebebasan tidak dijual di pasar; ia diraih dengan darah dan keberanian,” demikian dikisahkan dalam chapter 236.
Kemampuan Luffy itulah yang ditakuti oleh Dracule Mihawk, pendekar pedang terkuat di dunia.
“Menjadikan musuh sebagai teman adalah kekuatan paling mengerikan di dunia,” katanya, ketika membicarakan potensi terbesar dari Luffy.
Kekuatan Luffy tidak terletak pada keunggulan fisik maupun kemampuan olah senjata, melainkan karakternya. Dia bisa membuat semua orang menjadi bebas dan mengagumi sosoknya.
Mendakwa Kebenaran Sejarah
“Apa artinya sejarah jika ia ditulis oleh penakluk?” gumam Nefertari Vivi, putri Kerajaan Alabasta, dengan getir, sebagaimana diceritakan dalam chapter 234.
Itu adalah pertanyaan retoris yang membuka tabir bahwa catatan resmi bisa diputarbalikkan demi memoles muka penguasa. Pertanyaan itu juga merupakan simbol perlawanan terhadap banalitas yang mengintervensi kebenaran karena dianggap “menelanjangi” rakyat Alabasta yang terus tergencet di bawah rezim Crocodile.
Tak hanya di Alabasta, One Piece chapter 919 (arc "Wano") menjelaskan alasan indoktrinasi dan infiltrasi sejarah sangat efektif untuk mencuci otak. Sejak usia belia, di sekolahan, murid-murid di Ibu Kota Bunga sudah dicekoki oleh guru sejarah dengan kebenaran yang dimanipulasi.
“... Seperti yang kukatakan sebelumnya, itu terjadi sekitar 20 tahun yang lalu ... seorang pahlawan muncul dan mampu mengalahkan para samurai jahat itu!” sontak para murid kompak menjawab, “Itu adalah shogun kita, Kurozumi Orochi!”
“Itu benar. Semua orang jahat itu mati 20 tahun yang lalu ... dan begitulah negeri ini menjadi negara damai seperti hari ini,” tambah sang guru, memungkasi pelajaran.
Pernyataan itu tentu bertolakan dengan narasi sebenarnya di dunia One Piece. Kurozumi Orochi adalah sosok jahat dan licik yang mendongkel Kouzuki Oden dari kursi shogun Negeri Wano. Di Akhir cerita arc "Wano", Oda membeberkan sebuah fakta: kilas balik heroik, pengorbanan Kouzuki Oden, dan kekalahan Orochi, pukulan telak “merebut kembali” kebenaran sejarah.
Di lain babak, kebenaran sejarah di One Piece berusaha “dilenyapkan” oleh Pemerintah Dunia lewat genosida buster call yang menyingkirkan riset arkeologi dan filologi di Ohara (chapter 237—238).
Pemerintah Dunia adalah lembaga federasi supranasional, tirani yang menguasai lebih dari 170 negara, dipimpin oleh kelas bangsawan langit (tenryuubito). Mereka mengklaim diri bertugas menjaga perdamaian, tetapi justru melanggengkan korupsi, pelanggaran HAM berat, dan merencanakan revisi sejarah berskala global.
Ilmuwan dan ahli sejarah dibantai oleh Marine—pasukan militer maritim Pemerintah Dunia. Satu-satunya orang yang selamat dari insiden itu, Nico Robin, dijuluki “Si Anak Iblis” lantaran terlampau banyak mengetahui kebenaran di balik “Abad Kekosongan”. Dialah satu-satunya orang di dunia yang dapat membaca tulisan poneglyph—batu bertuliskan sejarah kuno yang dipahat oleh keluarga Kouzuki dan tersebar di berbagai belahan dunia.
Nico Robin, yang memberontak terhadap histeria dan bayangan masa lalunya, berusaha melawan dan menegaskan, “Aku ingin menyalakan lampu di lorong gelap sejarah,” (chapter 438).
Keluh kesah itu seakan mendapat jawaban dari narator yang menyudahi arc "Enies Lobby" dengan catatan pedih:
Anarkisme sebagai Kunci
Di One Piece, terdapat organisasi yang menentang dan berusaha menggulingkan Pemerintah Dunia. Namanya Pasukan Revolusi. Pemimpinnya adalah Monkey D. Dragon, ayah biologis Luffy sekaligus anak dari sang legenda hidup Marine, Monkey D. Garp.
Salah satu anggotanya, Sabo, yang juga merupakan sohib masa kecil Luffy, sempat berseru, “Ketika api kebebasan membara, rantai apa pun akan hancur.” (chapter 794).

Momen-momen itu bukan sekadar puncak konflik, melainkan gema prinsip anarkis. Pasukan Revolusi menolak otoritas yang mengekang, membangun solidaritas horizontal, dan memercayai potensi rakyat untuk mengubah dunia.
Sebagaimana Pierre-Joseph Proudhon yang mendakwa “properti adalah pencurian!” dalam La propriété, c’est le vol (1840), idenya dapat menjadi landasan kritik terhadap Pemerintah Dunia yang kerap menggunakan properti sebagai legitimasi untuk merampas hak orang lain.
Bajak Laut Topi Jerami, yang kerap membuat aliansi ‘persekutuan’ dengan pihak lain—misalnya dengan Trafalgar Law di Dressrosa dan dengan Eustass Kid di Wano—adalah praksis mutual aid yang dipopulerkan oleh Peter Kropotkin, pengemuka anarkisme dari Rusia.
Prinsip mutual aid adalah kerja sama sukarela yang menolak logika kompetisi brutal kapitalisme dan otoritarianisme. Kropotkin enggan menganggap teori evolusi Charles Darwin sebagai gagasan progresif karena ide itu cenderung menyatakan bahwa manusia beradaptasi lantaran “bersaing”.
“Dalam praktik mutual aid, yang dapat ditelusuri kembali ke awal mula evolusi, kita dapat menemukan asal mula konsepsi etika kita yang positif dan tidak diragukan lagi; dan kita dapat menegaskan bahwa dalam kemajuan etis manusia, gotong royong, bukannya perjuangan, adalah hal yang paling utama,” tulisnya dalam Mutual Aid: A Factor of Evolution (1902).
Mikhail Bakunin, sosok yang mencetuskan “revolusi sebagai kewajiban”, tumbuh dalam napas panas Pasukan Revolusi yang mendesis semangat: tindakan langsung menuntut penggulingan tirani, tanpa menunggu legitimasi palsu.
“Saya bukanlah seorang komunis, karena komunisme mempersatukan [memaksa] masyarakat dalam negara dan menyebabkan konsentrasi kekayaan di dalam negara. Sedangkan saya ingin memusnahkan negara, [yaitu] pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang dalam kemunafikannya ingin membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi sampai sekarang selalu memperbudak, mengeksploitasi, dan menghancurkan mereka,” ungkap Bakunin.
Bakunin seia sekata dengan Emma Goldman yang memperingatkan bahaya birokrasi dan elite yang mengulang siklus penindasan baru.
Dalam kerangka itu, One Piece tak bisa hanya dipahami sekadar fiksi bajak laut, melainkan simbol transformasi masyarakat menuju tatanan egaliter. Otoritas sentral dihancurkan, diganti jaringan kerja sama bebas yang berlandaskan kepercayaan dan mimpi bersama.
Paralel Realitas dan Gema Kebebasan
Drama korupsi E-KTP, mafia perizinan judi, dan kolusi elitis di Indonesia, adalah cerminan dari intrik agen rahasia Cipher Pol, St. Jay Garcia Saturn, serta Imu-sama, yang bergerak mengendalikan roda kekuasaan dari balik bayangan demi kepentingan dominan.
Perdagangan pekerjaan migran ilegal, stereotip rasial, dan pelecehan minoritas yang dialami anak-anak keturunan PKI, mengingatkan pembaca pada skenario manusia vis-à-vis manusia ikan dalam cerita One Piece.
Pembabatan hutan, tambang tanpa rehabilitasi, dan krisis sampah plastik, tecermin pula dalam kisah Oda. Industri buah iblis imitasi “SMILE” Doflamingo, Cesar Clown, dan Kaidou, mencemari lingkungan dan meracuni ekosistem. Selain itu, Kaidou merupakan dalang di balik kemiskinan struktural di Kota Ebisu, tempat pembuangan produk gagal buah “SMILE”, yang menyebabkan krisis wabah psikologis mengerikan.

One Piece meneguhkan satu hal: rakyat tak lagi menjadi korban di tepian panggung sejarah. Dari desa kecil Syrup hingga medan perang Wano, setiap pemberontakan memupuk cita-cita egaliter, menegakkan otonomi desa, dan mengantarkan suara perifer ke pusat kekuasaan.
Cita-cita itu bersifat inklusif. Kaum marginal, budak, samurai, revolusioner, bersatu tanpa menunggu izin birokrat. Mereka menyeru satu per satu—“Mari kita bangun dunia tanpa tirani”—seperti bait puisi yang dipahat di palang tiang laut.
One Piece bukan sekadar epos bajak laut kekanak-kanakan. Ia adalah manifesto anarkis yang memancarkan harapan. Kebebasan lahir dari solidaritas: bahwa perempuan dan laki-laki berhak menulis sejarahnya sendiri, dan bahwa mimpi bersama mampu mengguncang benteng tirani.
Kibaran bendera One Piece di berbagai daerah Indonesia merupakan wujud kritik terhadap kebijakan otoriter dan politik kotor, juga momentum berkaca pada kondisi kiwari.
Seperti Luffy yang memanggil para aliansi tanpa protokol, gerakan protes di Indonesia mengandalkan solidaritas horizontal—berbagi bendera di gang-gang sempit, di atap rumah, dan media sosial, sebagai bentuk anarki sipil yang menolak dominasi elite.
Di tengah realitas penuh represi, dari East Blue hingga Nusantara, semangat Topi Jerami mengajarkan kita satu kebenaran abadi: revolusi bermula dari hati yang menolak tunduk.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































