Menuju konten utama
Sejarah Indonesia

Romusha, Ketika Janji "Cahaya Asia" Berubah Menjadi Petaka

Apa arti romusha penjajahan Jepang? Berikut ini penjelasan arti kata romusha, latar belakang, tujuan, dan dampaknya bagi masyarakat Indonesia saat itu.

Romusha, Ketika Janji
Ilustrasi - Kerja paksa pada zaman penjajahan jepang. Apa arti romusha? Romusha merupakan sistem yang mempekerjakan masyarakat Indonesia secara paksa tanpa upah pada masa pendudukan Jepang. (FOTO/Het Nationaal Archief)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tahun 1942 menjadi salah satu titik nadir dalam sejarah bangsa Indonesia. Jepang yang sedang terlibat dalam Perang Dunia II, mengincar Hindia Belanda untuk menguasai sumber daya. Setelah berhasil masuk dari Tarakan, mereka lantas menyerbu Palembang, dan mendarat di Jawa pada Maret 1942.

Jepang mempropagandakan diri sebagai "Saudara Tua". Namun, kehidupan yang lebih baik selepas dari belenggu kolonialisme Belanda hanyalah angan-angan belaka. Rakyat memasuki babak kelam romusha, sistem kerja paksa yang dirancang demi ambisi Perang Asia Timur Raya.

Awal Mula Romusha dan Manisnya Propaganda

Sebagaimana dicatat oleh Kevin Baird (2016) dalam "War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: Unraveling the Persecution of Achmad Mochtar", istilah romusha secara harfiah dalam bahasa Jepang merujuk pada "pekerja kasar" atau unskilled laborer. Namun, kata tersebut mengalami pergeseran makna semasa pendudukan Jepang menjadi pekerja paksa.

Ketika tiba di Indonesia, Kekaisaran Jepang melakukan propaganda Gerakan Tiga A. Gerakan yang dicetuskan oleh Shimizu Hitoshi ini dikenal dengan slogan "Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia". Gerakan yang dibentuk pada April 1942 ini sukses merebut hati masyarakat.

Ilustrasi Mozaik Jepang Resmi Menyerah

Ilustrasi Mozaik Jepang Resmi Menyerah. tirto.id/Sabit

Mengutip Sufyan, dkk. (2025), Kehadiran Jepang bagi sebagian besar anak bangsa membuka harapan untuk kembali ke zaman keemasan sebelum VOC menginjakkan kaki di kepulauan Nusantara. Namun, harapan itu tidak bertahan lama. Jepang lantas memperkenalkan kebijakan romusha dan jugun ianfu.

Munculnya romusha berakar dari kebijakan Asia Raya dan eskalasi Perang Asia-Pasifik, yang menjadi masalah besar bagi Tenno Heika (Kaisar Jepang). Demi memenuhi kebutuhan tenaga kerja, Tenno Heika memerintahkan kerja paksa romusha kepada penduduk untuk berbagai keperluan Jepang. Misalnya, pembangunan jalan, jalur kereta api, jembatan, benteng, hingga terowongan perlindungan.

Para romusha tersebut dibantu oleh kinrohoshi (kerja bakti masyarakat) yang terdiri dari pegawai negeri, anak sekolah, juga warga yang tidak ikut serta dalam kerja paksa. Meskipun disebut sukarela, kenyataannya mereka yang ikut kinro hoshi juga dikerahkan demi mendukung berbagai proyek militer Jepang.

Tidak diketahui secara pasti berapa penduduk yang dipaksa menjadi romusha. Mengutip Oliver (2017), dari berbagai penelitian, diperkirakan ada sekitar 10 juta romusha yang direkrut, meskipun tidak semuanya dipekerjakan dalam jangka waktu lama untuk kerja paksa. Di samping itu, lebih dari 300.000 romusha diangkut ke luar Jawa, dan hanya 26 persen yang selamat karena kondisi mengerikan yang mereka alami.

Ada alasan kuat mengapa Kekaisaran Jepang menggunakan romusha. Yang utama, seperti ditulis oleh Melber (2016), pada tahun-tahun tersebut situasi militer di kawasan Asia-Pasifik terus memburuk untuk Jepang. Hal ini berkelindan dengan pasokan makanan yang semakin parah. Di sisi lain, Jepang masih dalam posisi ingin terus melanjutkan perang.

Adanya romusha digunakan Jepang untuk memenuhi dan meningkatkan tingkat produksi tani dan industri demi kebutuhan perang tentara Jepang. Di samping itu, romusha juga dipakai untuk mempercepat pembangunan infrastruktur bala tentara Jepang di kawasan Asia Tenggara. Melalui romusha yang dapat dimobilisasi dengan cepat, kekuasaan Jepang di wilayah yang dijajah maupun negara sekitarnya juga dapat diperkuat.

Di mata Jepang, Asia Tenggara, termasuk di dalamnya Indonesia, semata-mata dinilai sebagai sumber daya perang. Yang dapat dieksploitasi bukan cuma bahan mentah seperti minyak bumi atau kayu, tetapi juga sumber daya manusia”dari penduduk setempat. Mobilisasi romusha adalah cara paling taktis untuk dua hal sekaligus, yaitu memanfaatkan sumber daya manusia dan alam milik negara jajahan, serta menghemat pengeluaran untuk kebutuhan tenaga kerja.

Dampak Luas Romusha dalam Jejak dan Air Mata

Mengutip Sejarah Nasional Indonesia VI bertajuk “Jaman Jepang dan Jaman Republik Indonesia 1942-1970” (1993), Marwati dan Nugraha Susanto menerangkan bahwa situasi Perang Dunia Kedua kian mendesak. Hal utu membuat membuat Jepang mengubah arah kebijakan ekonomi di Indonesia menjadi sistem ekonomi perang.

Kebijakan ini berdampak langsung pada lumpuhnya sendi-sendi kehidupan masyarakat. Tidak hanya memicu kemiskinan ekstrem, kebijakan itu menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah yang masif.

Kebutuhan sumber daya untuk menyokong pertempuran melawan sekutu membawa Jepang menerapkan kebijakan yang menyiksa para romusha. Anak kecil hingga orang dewasa mendapatkan tugas secara paksa untuk mengurus lahan kosong demi menghasilkan pangan berlipat ganda.

Dampak tersebut bukan hanya meliputi kegiatan ekonomi. Pada awal 1943 misalnya, Dai Nippon yang terpojok oleh kubu musuh malah mengajak para petani untuk ikut serta di medan pertempuran sebagai prajurit cadangan.

Tonarigumi

Pusat distribusi ransum makanan di unit Tonarigumi Jepang. FOTO/Wikicommon

Dalam Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1941-1945 (2015), Kurasawa menjelaskan bahwa saat itu Jepang tidak memiliki transportasi untuk bisa menjangkau berbagai daerah di pulau Jawa. Mereka pun menarik penduduk Indonesia untuk membangun rel kereta.

Salah satu hasil kerja romusha adalah jalur Saketi menuju Bayah yang digunakan ketika mengangkut barang. Selama masa pembuatan, rel yang dijuluki “Death Railway” ini telah menelan banyak korban jiwa karena tenaga kerjanya menjalankan tugas tanpa henti.

Tidak hanya kaum lelaki yang menjadi korban, tragedi kemanusiaan ini juga merembet pada kaum perempuan melalui sistem Jugun Ianfu. Dikutip dari tajuk “Muda Bersama Saudara Tua”, Jepang membohongi perempuan untuk disekolahkan di Jepang. Alih-alih sekolah, mereka justru dibawa ke sebuah pulau dan diperkosa setiap harinya, seperti kata Pram dalam Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer (2001).

Tragedi romusha adalah pengingat abadi bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibangun di atas derita jutaan pendahulu yang mungkin tidak sempat melihat fajar kebebasan. Mengenang dan menelusuri sejarah ini berarti menolak lupa, sekaligus memahami kemerdekaan adalah hak siapa pun di muka bumi ini.

Ingin mengetahui lebih banyak informasi mengenai masa pendudukan Jepang di Indonesia maupun berbagai peristiwa yang berkaitan dengannya? Simak selengkapnya di sini.

Kumpulan Info Masa Pendudukan Jepang

Infografik SC Romusha

Infografik SC Romusha. tirto.id/Rangga

Baca juga artikel terkait HUT RI atau tulisan lainnya dari Yuda Prinada

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Yandri Daniel Damaledo & Fitra Firdaus
Penyelaras: Yuda Prinada