Sejarah Organisasi Semi Militer Masa Pendudukan Jepang

Oleh: Yuda Prinada - 12 April 2021
Dibaca Normal 1 menit
Saat melawan sekutu, Jepang berusaha mendapatkan kekuatan militer dan semi militer dari Indonesia.
tirto.id - Dalam sejarah, Jepang pernah menduduki Indonesia mulai tahun 1942 hingga 17 Agustus 1945 (waktu proklamasi kemerdekaan Indonesia). Selama masa pendudukan tersebut, pihak Dai Nippon ternyata telah mendirikan beberapa organisasi, salah satunya di bidang semi militer.

Sebelum Jepang datang, Indonesia yang ketika itu bernama Hindia Belanda masih berada dalam kekuasaan Belanda. Negara yang sudah lama menyerap sumber daya dari Indonesia ini akhirnya ditumbangkan oleh Jepang, tercatat sejak Maret 1942.

Kala itu, Jepang dipermudah posisinya oleh pihak Indonesia karena datang dengan embel ingin melepaskan negara-negara Asia dari genggaman kolonialisme. Ternyata, Jepang hanya memanfaatkan situasi ini untuk mencari pasokan sumber daya alam dan manusia guna menyokong kebutuhan Perang Pasifiknya (Perang Dunia ke-2).

Di Indonesia, mereka membuat beberapa kebijakan baru, salah satunya di bidang militer. Jepang ketika masa pendudukan mendirikan beberapa organisasi khusus yang bergerak di ranah tersebut. Namun, di balik militer, ada juga organisasi-organisasi semi militer yang didirikan.


Organisasi Semi Militer Jepang

Jepang yang sedang berperang dengan pihak sekutu ternyata berusaha untuk mendapatkan kekuatan militer dan semi militer juga dari Indonesia. Bahkan, di antara sekian banyaknya perang, terdapat orang-orang Indonesia di pihak Jepang.

Berikut ini beberapa organisasi semi militer yang telah didirikan Dai Nippon.

1. Seinendan (Korps Pemuda)

Berdasarkan catatan Anik Sulistyowati dalam buku ajar Sejarah (2020:12), Seinendan merupakan organisasi yang diisi oleh pemuda Indonesia dengan kisaran umur 14 hingga 22 tahun.

Bertujuan untuk melatih anak muda agar bisa mempertahankan wilayahnya masing-masing, anggota Seinendan ternyata juga dikumpulkan sebagai pasukan militer cadangan (pasukan pertahanan di baris paling belakang).

Mulanya, Seinendan hanya memiliki anggota 3.500 orang dari pulau Jawa. Namun, sampai masa penjajahan habis, tercatat terdapat 500.000 orang Pemuda yang menjadi bagian dari organisasi tersebut.

2. Keibodan (Korps Kewaspadaan)

Organisasi ini diisi oleh pemuda-pemuda Indonesia yang usianya mulai 25 sampai 35 tahun. Dengan kriteria usia tersebut, Jepang menganggap bahwa anggota Keibodan nantinya lebih dewasa dan siap dalam menjaga keamanan negara.

Sebenarnya, tugas Keibodan sama dengan polisi, mulai dari menjaga alur lalu lintas sampai aksi pengamanan di desa-desa.

Dengan binaan Keimubu (Departemen Kepolisian) dan Keisatsubu (Bagian Kepolisian), Keibodan juga dilatih untuk menguasai bidang kemiliterannya.

3. Barisan Pelopor

Organisasi ini dibentuk pada 1 November 1944. Tujuan pembentukannya adalah demi menciptakan kesadaran rakyat Indonesia untuk mempertahankan wilayah negaranya dari musuh.

Jepang ternyata memanfaatkan situasi ini agar Indonesia turut serta dalam mempertahankan kedudukan penjajah dari potensi senggolan pihak Sekutu.

Para penanggung jawab organisasi ini banyak dari kalangan nasionalis, mulai dari Sukarno, Suroso, Otto Iskandardinata, dan Buntaran Martoatmojo. Anggotanya dilatih kemiliterannya sedemikian rupa dengan berbagai alat seadanya.

4. Hisbullah

Berbeda dengan tiga organisasi sebelumnya yang memiliki anggota dari berbagai kalangan, Hisbullah hanya beranggotakan pemuda beragama Islam.

Kurang lebih, sebelum organisasi ini dibentuk, Jepang punya rencana mengumpulkan pasukan cadangan khusus ini dengan jumlah anggota 40.000 individu.

Ternyata, keinginan Jepang tersebut terlaksana karena mendapat sambutan positif dari masyarakat beragama Islam, terutama orang-orang dari organisasi Masyumi.

Pelatihan pertama para pemuda Islam ini berlangsung pada 28 Februari 1945. Kala itu, mereka dibimbing langsung oleh pasukan PETA (Pembela Tanah Air) yang diawasi langsung oleh Kapten Yanagawa Moichiro, Perwira Jepang.


Baca juga artikel terkait MILITER JEPANG atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight