24 November 1859

Menghujat dan Memuja Teori Evolusi Darwin

Ilustrasi Charles Darwin. tirto.id/Gery
Oleh: Husein Abdulsalam - 24 November 2017
Dibaca Normal 4 menit
Apakah makhluk hidup berevolusi atau diciptakan purna dan ajek sejak awal waktu?
tirto.id - Gugusan pulau-pulau terpencil yang mengisi sebagian titik Samudera Pasifik di seberang barat Ekuador menjadi habitat bagi sejumlah spesies endemik yang menjadi subjek observasi Charles Darwin. Burung-burung finch hingga kura-kura raksasa Galapagos adalah beberapa satwa yang begitu memesona Darwin.

Hasil observasi ini kemudian menjadi salah satu ilham dalam pengembangan teori evolusi yang dibeberkan Darwin dalam The Origin of Species by Means of Natural Selection. Buku ini buah usaha tanpa letih penulisnya untuk menjawab pertanyaan pokok: Mengapa banyak spesies hanya hidup di Galapagos dan tidak di tempat lain? Dan mengapa sejumah spesies tumbuhan dan hewan bervariasi dari satu pulau ke pulau lain?

Buku setebal 400 halaman yang dipublikasikan pertama kali pada 24 November 1859, tepat 158 tahun lalu, disusun Darwin dari akumulasi perjalanan pemikiran dan observasinya selama 20 tahun. Buku itu sekaligus batu tapal terpenting dari perjalanan pikiran manusia sebelum Darwin yang memikirkan dan meyakini gagasan mengenai evolusi. Darwin dengan lapang hati mengakui keberadaan ide-ide evolusi sebelumnya.

Baca juga: Mengenal Sejarah Penemuan Oksigen

Dua pertanyaan pokok itu mengarahkannya mempelajari 1.529 spesies, 3.907 kulit, 12 katalog ragam spesies, serta penelitian mutakhir mengenai fosil dan perubahan struktur geologi bumi. Catatan perjalanan Darwin berlayar, dengan menumpang kapal Beagle dari Inggris ke Amerika Selatan, lalu ke Galapagos hingga Australia dan kembali lagi ke Inggris, setebal 3.000-an halaman.

Setidaknya ada dua argumen utama yang diutarakan Darwin dalam The Origin of Species. Pertama, spesies berevolusi dan beradaptasi agar sesuai keadaan alam. Kedua, seleksi alam adalah mekanisme utama yang membuat spesies baru terbentuk secara perlahan.

Sebelum Kelahiran The Origin

Charles Darwin lahir di Inggris pada 12 February 1809. Ayahnya bernama Robert Darwin dan ibunya bernama Susannah Wedgwood. Kakek Charles Darwin dari garis ayah, Erasmus Darwin, adalah ahli ilmu hayati, sedangkan kakek dari garis ibu, Josiah Wedgwood, adalah seorang pendukung anti-perbudakan.

Semangat zaman di Eropa kala Darwin hidup dipenuhi kecurigaan atas penciptaan bumi (serta manusia) yang dikisahkan dalam Kitab Suci. Situasi ini terbentuk, salah satunya, karena fosil yang memiliki bentuk mirip makhluk hidup mulai disingkap oleh para ahli batuan bumi. Pada 1822, Gideon Mantell dan Mary Ann Mantel menemukan fosil dinosaurus, persisnya iguanodon; saat itu Darwin baru berusia 13 tahun.

Menurut Stefoff, temuan fosil itu membuat orang-orang bertanya: Bagaimana mereka bisa berubah menjadi batu hanya dalam beberapa ribu tahun?

Sedangkan temuan fosil dinosaurus memperlihatkan ternyata ada "hewan" di masa lalu yang tidak memiliki kemiripan bahkan relasi dengan makhluk hidup sekarang ini. Mereka juga tidak diceritakan dalam Kitab Suci. Jelas, bumi pernah dihuni makhluk hidup yang telah punah. Mengapa ini terjadi?

Baca juga: Sejarah Angka Nol dari Babilonia Hingga Pilgub DKI

Mereka yang berpikiran kreasionis mengklaim Tuhan menciptakan tiap spesies dalam bentuknya yang purna, sekali dan untuk selamanya. Makhluk-makhluk yang telah punah itu mati karena tenggelam saat banjir besar, sebagaimana diceritakan dalam Kitab Suci.

“Sebagai contoh, Robert Fitzroy, kapten kapal Beagle, percaya mammot punah karena mereka terlalu besar sehingga tidak dapat melewati pintu bahtera (Nabi) Nuh. Inilah mengapa para penulis yang hidup semasa abad 19 sering menggambarkan dinosaurus, mammot, dan hewan punah lain sebagai antediluvian (yang berarti ‘sebelum banjir’),” sebut Stetoff.

Sedangkan para pemikir katastrofik menganggap bumi dengan segala isinya ini pernah luluh lantak karena bencana. Hewan, seperti dinosaurus, punah sebelum atau saat bencana terjadi. Menurut mereka, Kitab Suci menjelaskan penciptaan dan kehidupan setelah bencana.

Sementara kelompok uniformitarianisme, dimotori James Hutton lewat Theory of the Earth, menganggap kondisi bumi saat ini dibentuk tidak secara tiba-tiba karena bencana di masa lalu, melainkan secara perlahan selama ribuan tahun. Kala itu visi uniformitarianisme dianggap revolusioner karena, untuk pertama kali, bumi dan segala isinya dianggap hasil proses kompleks yang sangat lama. Darwin pun semula mengamini argumen ini.

Baca juga: Bagaimana Para Leluhur Kita Menguasai Dunia

Serupa para ahli batuan bumi, para ahli ilmu hayati pun resah atas pemikiran yang menganggap bahwa makhluk hidup diciptakan purna, sekali, dan tidak berubah. Mereka juga penasaran atas mekanisme keteraturan bentuk makhluk hidup yang ada, sebagaimana diperlihatkan sistem taksonomi Carl Linne, ahli ilmu hayati asal Swedia.

Pada 1802, Uskup William Paley meluncurkan Natural Theology. Segala keteraturan dalam alam dan makhluk hidup, menurutnya, telah diatur Tuhan. Ia mengajukan pengandaian yang dikenal “argumen desainer” atau “argumen pembuat jam”. Konsepnya dapat diringkas sebagai berikut:

“Misalkan Anda keluar berjalan dan menemukan jam saku, Anda belum pernah melihat jam seperti itu sebelumnya. Melihat jam itu terdiri dari mekanisme yang tepat dan rumit, Anda akan menyimpulkan itu tidak mungkin terjadi secara acak. Ia pasti dirancang dan dibuat pembuat jam. Mata, seperti jam saku, adalah mekanisme yang rumit, yang dirancang sedemikian sempurna, dan perancangnya adalah Tuhan.”

Ahli hewan Jean-Baptiste Lamarck menulis bahwa spesies selalu menyesuaikan dan berubah supaya sesuai dengan lingkungan mereka. Tapi Lamarck tidak bisa secara meyakinkan menggambarkan bagaimana perubahan ini terjadi.

Setelah Kelahiran The Origin

Sebelum The Origin of Species terbit, Darwin yakin buku itu akan mengguncang dunia akademik dan gereja Eropa. Terbukti, dalam waktu sehari, sebanyak 1.250 eksemplar The Origin of Species edisi pertama laku dibeli. Sejumlah pihak berkoar; ada yang memuja, banyak pula yang menghujat.

Dua orang eks guru Darwin, Adam Sedgwick dan John S. Henslow, menolak konsep seleksi alam. Sebagai pendeta, keduanya jengah dengan gagasan bahwa makhluk hidup bisa berevolusi tanpa ada yang membimbing.

Sedangkan Charles Lyell, ahli ilmu batuan bumi yang semula mendukung Darwin menerbitkan The Origin of Species, pasang muka ganda. Secara pribadi ia setuju dengan Darwin tentang evolusi dan seleksi alam. Namun, ia juga tidak pernah memberikan dukungan itu secara terbuka.

Dua ahli tumbuhan, Joseph Dalton Hooker dan Asa Gray, mendukung hasil penelitian Darwin. Sedangkan ahli perbandingan taksonomi hayati asal Inggris, Thomas Henry Huxley, terpesona kesederhanaan argumen Darwin.

"Betapa bodohnya untuk tidak memikirkan buku ini!" ujarnya.

Sementara Charles Kingsley, pendeta gereja Inggris dan penulis sejarah Hypatia (1853), tidak melihat ada konflik antara evolusi dan Tuhan. Menurutnya, antara "Tuhan telah menciptakan makhluk hidup yang mampu mengembangkan diri" atau "Tuhan telah menciptakan makhluk hidup secara pribadi" merupakan dua pemikiran yang sama mulianya.

Pendeta asal Amerika Serikat, Henry Ward Beecher, pun berkata: "Saya menganggap evolusi sebagai penemuan metode Ilahi dalam penciptaan."


Beda Persepsi soal Teori Evolusi

Salah satu persitiwa penting terkait The Origin of Species adalah pertemuan di Oxford University pada Juni 1860. Di hadapan Asosiasi Inggris untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Uskup Oxford Samuel Wilberforce berpidato menyerang argumen Darwin. Ia menolak andai saja teori evolusi Darwin benar, ada monyet dalam garis keturunan keluarganya.

Pada 1925, seorang guru SMA di Tennessee, John T. Scopes, digelandang ke pengadilan karena telah mengajarkan evolusi manusia. Dalihnya, hukum di negara bagian itu melarang tindakan tersebut. Orang-orang yang terlibat dalam persidangan pun fenomenal. Jaksa penuntut William Jennings Bryan adalah seorang fundamentalis. Sedangkan pengacara Clarence Darrow dikenal seorang radikal.

Baca juga: Melacak Riwayat Manusia Dalam DNA

Scopes mengakui telah melanggar hukum. Ia dinyatakan bersalah dan didenda 100 dolar AS. Namun, hukuman ini dibatalkan karena "ada masalah teknis."

Termutakhir, pada Juni 2017, pemerintah Turki menghapus bab yang menerangkan teori evolusi dalam buku pelajaran biologi kelas sembilan. Materi ini baru akan diajarkan di bangku kuliah. Laporan The Guardian menyebut Ketua Dewan Pendidikan Turki, Alpaslan Durmuş, berkata teori evolusi masih diperdebatkan, kontroversial, dan terlalu rumit bagi siswa sekolah menengah atas.

"Kami percaya bahwa subjek ini berada di luar pemahaman siswa," kata Durmuş.

Pada Oktober 2015, lembaga PEW Research Center merilis hasil survei mengenai persepsi orang dewasa di AS mengenai teori evolusi, dari hasil wawancara terhadap 2.002 orang dewasa yang tersebar di seluruh AS.

Hasilnya, sebanyak 65 persen responden mengatakan makhluk hidup berevolusi sepanjang waktu dan 31 persen lain menolak ada evolusi seraya mengatakan makhluk hidup telah ada sejak awal waktu.

Mereka yang setuju dengan teori evolusi memiliki keragaman pandangan mengenai proses yang menyebabkan evolusi. Sebanyak 35 persen mengatakan makhluk hidup berevolusi karena proses alam. Sedangkan 24 persen lain menyebut evolusi pada makhluk hidup dibimbing Yang Maha Kuasa, sementara 5 persen sisanya mengaku tidak mengerti proses yang menyebabkan evolusi.

Survei serupa menemukan 86 persen dari keseluruhan responden yang menganut ajaran Buddha yakin bahwa makhluk hidup berevolusi. Menyusul berikutnya ada 82 persen responden yang tidak berafiliasi dengan agama apa pun, 81 persen responden yang mengaku Yahudi, dan 80 persen yang menganut Hindu meyakini makhluk hidup berevolusi.

Beberapa kelompok penganut agama memperlihatkan komposisi berimbang antara mereka yang yakin makhluk hidup berevolusi dan yang tidak. Responden beragama Islam yang yakin makhluk hidup berevolusi ada 53 persen, sementara Mormon 42 persen, dan Protestan (kulit) hitam 50 persen.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Husein Abdulsalam
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Zen RS
DarkLight