Henry Every, Raja Bajak Laut Dunia Nyata

Oleh: R. A. Benjamin - 8 Januari 2022
Dibaca Normal 5 menit
Di antara banyak bajak laut yang dikenal dalam sejarah, Henry Every-lah yang mendapat julukan Raja Bajak Laut. Meski begitu, akhir hidupnya sangat gelap.
tirto.id - Bila kita memasukkan kata kunci "king of pirates" atau "pirate king" di mesin pencari, hasil yang pertama muncul ialah Gol D. Roger, karakter fiktif yang kisahnya memicu zaman keemasan pembajakan dalam One Piece. Andai kita melakukan hal yang sama beberapa tahun dari sekarang, hasil yang muncul bisa jadi adalah Monkey D. Luffy.

Bagaimana dengan raja bajak laut sebenarnya, yang pernah eksis di dunia nyata?

Kita bisa mengasosiasikan Bartholomew Roberts dengan bajak laut tersukses atau Samuel Bellamy sebagai perompak terkaya. Edward Teach alias Blackbeard juga sangat mungkin dicap sebagai bajak laut terhebat. Namun, hanya ada satu perompak yang betul-betul mendapat julukan Raja Bajak Laut: Henry Every.

Every lahir pada 20 Agustus 1659 di Devon, Inggris. Menurut buku The Pirates’ Pact: The Secret Alliances Between History’s Most Notorious Buccaneers and Colonial America (2008) yang ditulis Douglas R. Burgess, ia lahir di desa yang sama dengan Henry Morgan, bajak laut yang namanya kita kenal sebagai merek minuman. Karena itu Every muda mungkin terinspirasi "berkarier" di samudra berkat Morgan, bukan bapaknya meski pernah menjadi kapten angkatan laut.

Every beroperasi di Samudra Atlantik dan Hindia pada pertengahan 1690-an, era yang dikenal dengan sebutan The Pirate Round, periode kedua dalam Golden Age of Piracy. Ia punya berbagai nama dan sebutan. Kadang disebut Henry Avery, Jack Avery, John Avery, pula nama samaran seperti Benjamin Bridgeman.

Julukan King of the Pirates disematkan orang-orang sezamannya. Ia adalah bajak laut terpopuler pada saat itu karena senantiasa sukses melarikan diri dengan barang rampasan tanpa ditangkap apalagi terbunuh dalam pertempuran, juga keterlibatan dalam salah satu pembajakan paling menguntungkan dalam sejarah.

Sebutan Raja Bajak Laut tentu sekadar julukan alih-alih status atau titel resmi. Bagaimanapun para perompak pada zaman keemasan adalah para penerap demokrasi (setidaknya di atas kapal mereka), juga buruan para kerajaan sebenarnya. Jangan lupakan juga sebagian besar dari mereka berstatus orang-orang tersingkir yang tak sungkan melancarkan aksi-aksi keji di lautan.


Karier Bajak Laut

Every diperkirakan lahir dari keluarga terhormat dan telah berkarier di lautan sedari muda. Menurut Burgess (2008), catatan pertama tentangnya berasal dari agen Royal Africa Company pada 1693. Disebutkan bahwa Every adalah "seorang pedagang budak yang bekerja di bawah Isaac Richier, Gubernur Bermuda." Ia juga dikatakan pernah bergabung dengan Royal Navy sebelum menjejakkan kaki di kapal bajak laut meski tak ada catatan yang memperkuat itu.

Setahun kemudian Every bergabung sebagai ke armada privateer pimpinan Sir James Houblon. Privateer adalah sebutan bagi bajak laut yang mendapatkan tugas dari pemerintah untuk menyerang musuh di laut. Dalam hal ini kelompok Houblon mendapatkan lisensi dari Kerajaan Spanyol untuk menyerang kapal-kapal penyelundup dan buccaneer 'bajak laut bebas' Prancis di Karibia. Tapi, belum sempat melintasi Atlantik, kapal itu harus terhambat birokrasi di A Coruña, Spanyol.

Houblon sebenarnya menjanjikan para awak bayaran yang lebih tinggi ketimbang upah dari Royal Navy, juga makanan dan kondisi kerja yang lebih baik. Tapi janji tinggal janji. Upah tak kunjung sampai ke tangan. Bahkan, ketika terkatung-katung di Spanyol, jatah makanan mereka dipotong. Para awak sampai-sampai harus meminum kencing sendiri demi bertahan hidup.

Dalam situasi seperti ini Every mengambil tindakan. Ia menyambangi kru satu persatu dan meyakinkan mereka untuk bergabung bersamanya dengan janji hidup yang lebih menghasilkan. Pemberontakan sukses dan Every didapuk menjadi kapten anyar. Kapal utama berkekuatan 46 meriam ia namakan ulang menjadi The Fancy, dan kru beranggotakan 85 awak itu berangkat menuju Samudera Hindia.

Sepanjang perjalanan, kelompok Every membajak sejumlah kapal, di antaranya kapal perompak Prancis, dua kapal Denmark, dan tiga kapal dagang Inggris.

Tidak ada sumber yang terverifikasi soal desain jolly roger 'bendera bajak laut' yang dikibarkan Every tatkala melangsungkan pertempuran. Sebagian sumber memperkirakan pada masa ini Every mengibarkan beberapa versi jolly roger: empat simbol chevron kuning di bendera merah, tulang bersilang di bendera hitam, dan tengkorak serta tulang bersilang di bendera merah maupun hitam.


Setelah mengitari Tanjung Harapan selama sebulan, Every menyempatkan diri berlabuh di Madagaskar pada Januari 1695. Pada masa itu pulau ini menjadi semacam markas bagi para perompak, menjadi titik tolak sebelum melakukan serangan di Samudera Hindia. Every tinggal cukup lama di sana dan melakukan banyak hal, termasuk memodifikasi The Fancy menjadi kian lebih cepat dan merekrut 40 awak baru.

Di tempat aman bagi para perompak inilah Every memutuskan target perompakan sekaligus beraliansi dengan dua privateer Amerika, Kapten Richard Want (pemilik kapal Dolphin) dan Kapten Joseph Faro (Portsmouth Adventure).

Dalam perjalanan menuju Laut Merah, aliansi ini bertambah kuat dengan bergabungnya kru-kru Kapten Thomas Wake (Susanna), Kapten William Mayes (The Pearl), dan kru The Amity, kapal milik perompak terkemuka Thomas Tew. Kendati nama terakhir bisa dibilang paling berpengalaman, namun Every-lah yang terpilih menjadi admiral armada enam bajak laut ini.

Target aliansi begundal ini tidak main-main: kapal penuh harta milik Raja Aurangzeb, pemimpin Kesultanan Mughal di Asia Selatan. Sangat sedikit bajak laut yang nekat menjadikan kapal-kapal ini sebagai target (yang otomatis mendaulat Kesultanan Mughal sebagai musuh mereka).

Setiap tahun, kapal-kapal seperti yang dimiliki Kesultanan Mughal berlayar dari dan menuju Laut Merah untuk mengangkut jemaah haji. Kali ini termasuk istri-istri para pejabat penting. Kapal-kapal macam ini juga lazimnya memuat banyak harta seperti emas, perak, gading, kain, dan rempah-rempah.

Ganj-i-Sawai

Pada Agustus 1695, di lautan sekitar semenanjung Arab dan Afrika, armada perompak berkekuatan 440 orang mulai mengintai konvoi 25 kapal Grand Mughal. Kapal pengawal, Fateh Muhammed, menjadi sasaran pertama.

Saat inilah diketahui bahwa kapal selain The Fancy tidak cukup cepat dan tangguh. Dolphin bahkan harus dibakar dan para awaknya menumpang The Fancy. Kapten Tew pungkas setelah satu tembakan meriam Fateh Muhammed menghantam dan membuyarkan isi perutnya dan para kru ditawan.

Setelah 4-5 hari pengejaran, armada pimpinan Every berhasil menaklukkan Fateh Muhammed tanpa banyak perlawanan. Kru kapten Tew dibebaskan. Rampasan di kapal itu disebut mencapai 50 hingga 60 ribu paun (kini diperkirakan senilai 1,8 juta dolar AS). Nilai yang cukup besar, tetapi tak berarti banyak jika dibagi untuk enam rombongan. Para perompak haus rampasan yang lebih banyak.


Kapal utama konvoi itu, Ganj-i-Sawai, dijadikan sasaran berikutnya. Masalahnya, ia berbeda dengan Fateh Muhammed. Kapal besar andalan kekaisaran Mughal itu diperkuat 62 meriam dan 400-500 penembak sampai-sampai seorang sejarawan India Khafi Khan menyebutnya sebagai "kapal paling tangguh dalam armada muslim" (Burgess, 2008, hlm 138). Tetapi hadiah yang menanti terlalu besar untuk diabaikan dan para perompak memilih bertaruh.

Tak butuh waktu lama untuk The Fancy menyusul Ganj-i-Sawai. Para perompak berhasil merusak tiang utama kapal. Ini diikuti dengan meledaknya salah satu meriam. Situasi kacau menguntungkan pihak perompak. Pertempuran berlangsung selama berjam-jam hingga akhirnya orang-orang Mughal menyerah.

Yang kerap luput dari kisah-kisah romantisasi bajak laut kontemporer pun terjadi; suatu pengingat bahwa di luar kebebasan dan ketidakpatuhan akan hukum, sebagian besar orang-orang ini bukanlah anggota masyarakat yang beradab. Para perompak membantai para penumpang Ganj-i-Sawai. Sejumlah perempuan diperkosa. Sebagian lainnya dibuang ke laut selepas menerima siksaan demi buka mulut akan keberadaan barang-barang berharga pribadi mereka.

Armada Every menggasak jarahan senilai setidaknya 325 ribu paun (atau 95 juta dolar AS hari ini) dari Ganj-i-Sawai. Bagi hasil untuk para awak setara dengan upah seumur hidup. Itu menjadi pembajakan terbesar pada zaman tersebut dan Every otomatis menjelma bajak laut dengan pendapatan tertinggi di generasinya.

Kaisar Aurangzeb bukan main murka dan mengancam akan merusak segala kepentingan Inggris di India. Seluruh pedagang Inggris di negerinya dipenjara dan disiksa. Kemarahan sang kaisar tak pelak menimbulkan tekanan hebat bagi kongsi dagang Inggris paling berkepentingan di selatan Asia, East India Company (EIC). Parlemen Inggris menawarkan hadiah 500 paun untuk kepala Every pada 1696--sumber lain menyebut hadiah itu berlaku per kepala awak. EIC menaikkannya dua kali lipat, 1.000 paun atau kini setara 270 ribu dolar AS.

Dengan demikian, Henry Every bersama para awaknya adalah objek perburuan orang (manhunt) yang pertama tercatat dalam sejarah.

Menghilang dan Menginspirasi

Hadiah tak pernah diberikan kepada siapa pun lantaran Every tak pernah ditemukan. Catatan terakhir menyebut Every datang ke Nassau, Bahama, sebelum menghilang begitu saja pada 1696. Harta peninggalannya juga tak pernah ditemukan.

Sebagian orang meyakini dengan kekayaannya Every mendirikan kerajaan sendiri di suatu tempat, mungkin Madagaskar, dengan kekuatan 40 kapal perang, 15 ribu prajurit, tembok yang kuat, tak lupa uang koin dengan ukiran wajahnya. Sebagian lain percaya Every mengubah identitas. Lainnya yakin Every jatuh miskin dan meninggal sebagai kaum papa entah di mana antara 1699-1714.


Infografik Henry Every
Infografik Henry Every Raja Bajak Laut. tirto.id/Sabit


Terlepas dari akhir hidupnya yang misterius, bersama nama-nama seperti Francis Drake dan Henry Morgan, Every disebut menginspirasi banyak orang pada masanya untuk berprofesi menjadi bajak laut. Kisahnya telah melegenda sejak para wajah periode terakhir zaman keemasan perompakan seperti Calico Jack, Bartholomew Roberts, dan Stade Bonnet menjalani masa muda mereka.

Nama-nama terkenal lainnya seperti Walter Kennedy dan Edward England terang-terangan terilhami Sang Raja. England bahkan menamai kapalnya The Fancy dan disebut-sebut sebagai bajak laut yang kisahnya paling menyerupai Every.

Kisah Every diterjemahkan menjadi lagu maupun lakon sandiwara sejak abad ke-18. Biografinya (dengan banyak bumbu fiktif) dituliskan Captain Charles Johnson dengan judul A General History of the Robberies and Murders of the Most Notorious Pyrates pada 1724. Buku tersebut kelak menginspirasi kisah-kisah populer seperti Treasure Island karya Robert Louis Stevenson dan Peter Pan oleh J. M. Barrie.

Dalam produk budaya kontemporer, kita melihat Gol D. Roger dalam One Piece menyandang julukan Every, Raja Bajak Laut. Every juga muncul dalam program televisi populer di Inggris, Doctor Who, gim video Uncharted 4: A Thief's End, dan namanya kerap disebutkan dalam serial televisi bajak laut Black Sails.

Baca juga artikel terkait atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino
DarkLight