tirto.id - Intervensi negara-negara Grup Tujuh (G7) melalui pencairan cadangan darurat terbukti ampuh menahan kenaikan harga minyak mentah dunia. Langkah geopolitik ini berhasil meredam kepanikan pasar global di tengah ancaman gangguan rantai pasok dan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Keputusan G7 untuk menyalurkan 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan strategis, yang disepakati usai dorongan Presiden AS Donald Trump, langsung direspons negatif oleh pasar pada perdagangan Senin (5/10/2026).
Penurunan ini meredam tren kenaikan harga pekan lalu, dengan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat merosot 1,6 persen ke posisi 90,49 dolar AS per barel. Pada saat yang sama, harga minyak mentah berjangka Brent turut tergerus 35 sen atau 0,34 persen menjadi 101,90 dolar AS per barel.
Chief Analyst KCM Trade, Tim Waterer, menilai langkah darurat tersebut cukup efektif menstabilkan psikologis pasar untuk sementara waktu.
"Keputusan G7 untuk mencairkan cadangan strategis telah mengurangi sebagian kecemasan pasokan jangka pendek yang memengaruhi harga. Di sisi lain, muncul pandangan yang kian kuat bahwa volume ekspor Arab Saudi mulai kembali ke tingkat pra-perang, meskipun pengiriman tersebut masih berjalan dengan biaya lebih tinggi dan melalui rute yang kurang efisien," kata Tim Waterer dikutip dari Reuters.
"Kombinasi faktor tersebut cukup untuk menekan harga untuk saat ini, meskipun risiko kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur energi di sekitar wilayah Teluk belum sepenuhnya hilang."
Selain guyuran cadangan darurat G7, pemulihan volume ekspor dari kawasan Timur Tengah turut memperkuat pasokan global. Data aktivitas pelayaran menunjukkan pengiriman minyak mentah berhasil melampaui level sebelum perang pada empat dari tujuh hari di pekan terakhir September, meskipun lalu lintas kapal masih terancam serangan di Selat Hormuz.
Langkah mengejutkan juga diambil produsen utama Arab Saudi, Aramco, yang memangkas harga jual minyak mentah pada November untuk pasar Asia hingga menyentuh level terendah dalam enam tahun terakhir.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id




































